Hujan

Datang ke cafe ber-wifi gratis. Tak sengaja ketemu teman, cewek, manis, sudah dua tahun tak berjumpa.

Namanya Linda, Linda Septiani. Kami salaman dan aku senyum untuknya. Dia belas dengan senyum manis di bibir, lengkap dengan lesung pipinya. Dia tomboy, tapi tetap punya sisi feminim. Senyumnya, masih sama seperti dulu, selalu membuat hati bergetar. Semacam ada perasaan untuknya.

Tapi…. Lupakan!! Aku tak bisa mengutarakannya.

“Duduk mkow di sini!” ajaknya.

Aku diajak satu meja, ya, aku iyakan saja. Menarik kursi dan duduk tepat di depannya. Kami berdua, duduk di meja yang sama, saling berhadapan, di sebuah cafe yang suasananya syahdu. Hujan yang mengguyur di luar melengkapi senja ini.

“Biasa ko ke sini, Mam?”

Baca lebih lanjut

Selembar Kertas

“Apa yang paling kau takutkan?”

“Aku takut suatu saat aku akan dewasa dan aku melupakanmu. Maksudku, aku takut akan melupakan semua ini dengan kesibukan baruku nanti.” Hening yang panjang menghampiri percakapan mereka.

Di sebuah perbukitan dekat sekolah. Sekitar 2 kilometer sebelah barat. Tempat yang indah menatap senja, bersamanya.

“Apa yang kau takutkan, Rehan?” Anti menatap Rehan, dalam.

“Aku? Aku takut suatu saat akan merindukan senja.”

Anti tertawa. “Senja akan selalu ada di penghujung harimu. Kau bisa menatapnya, seperti saat ini.”

“Entahlah,” Rehan menarik napas panjang. “Aku takut merindukan senja ini, Senja ini berbeda dengan senja yang lain. Kau tau kenapa?”

“Kenapa?” Baca lebih lanjut

Cincin Permata

Seorang wanita berjalan melintasi perkebunan apel. Ia membawa keranjang kayu di tangan kirinya. Sesekali ia berhenti, memetik buah apel merah segar dengan tangan kanannya, lalu memasukkannya dalam keranjang.

Ia berjalan lagi. Setelah melewati beberapa pohon, ia berhenti untuk beristirahat. Wanita itu duduk manis di atas rerumputan hijau. Ia mengambil satu apel segar dari keranjang dan menggigitnya. Rasanya manis sekali, terlihat jelas dari senyum wanita itu saat mulutnya asyik menguyah.

Suasana sore itu benar-benar menyenangkan. Angin berhembus pelan. Wanita itu melepas ikat rambutnya, membiarkan angin menghempas rambutnya yang panjang. Udara lembut seakan meraba kulit wanita itu. Wanita itu membentangkan kedua tangannya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Itu membuatnya bahagia. Ia terlihat senang sekali.  Baca lebih lanjut

Dia Pergi Saat Aku Bahagia

“Aku tak mengerti dengan sikapmu, kau ada saat aku sedih. Kau ada saat aku terpuruk. Dan kau menghilang saat aku bahagia. Kau aneh!”

“Aku tak ingin merusak kebahagiaanmu. Aku hanya ingin memastikan kau tak bersedih. Hanya itu.”

“Kau aneh! Kau seharusnya ada saat aku bahagia,” intonasi wanita itu mulai meninggi.

“Aku selalu berharap dia datang saat kau bahagia, untuk menemanimu.” Setiap kalimat yang terlontar dari bibir pria itu begitu tenang. Nada bicaranya datar dan selalu ada senyum di pipinya.

Baca lebih lanjut

Senyumnya

Entahlah, tapi itu yang aku rasakan. Semua cewek hampir sama manisnya dan selalu menyejukkan hati kala mendengar suaranya. Matanya indah, senyumnya menawan, dan tingkahnya lucu. Menggemaskan.

Akan ada momen dia bertanya dengan nada pelan dan halus. Aku kadang tidak memperhatikan kalimat yang terlontar dari bibir manisnya, aku hanya menikmati suasana dengan mendengar suara merdunya. Tak jarang pula aku menyuruhnya bertanya pertanyaan yang sama.

“Apa kau bilang? Kecil sekali suaramu.” Aku menatapnya dengan senyuman.

Dan yang masih segar dalam ingatanku, tawanya. Kala aku menatapnya dengan senyuman dan dia tertawa tepat ke wajahku. Entah apa yang lucu, aku tak tau. Tapi yang jelas, tawanya membuatku ikut tertawa. Merasa senang berada di dekatnya.