keanehan di twitter

Salah satu kata atau istilah yang sering muncul di twitter adalah folbek atau polbek. Ini adalah singkatan dari follow back alias follow balik. Bisanya kata ini terlontar dari seseorang yang telah memfollow orang lain dan meminta orang lain yang telah difollow itu untuk memfollow balik dirinya.

Kata itu biasanya muncul dalam kalimat-kalimat sperti ini: Folbek gw dong, Polbek Pliz, Minta Folbeknya dong, Boleh minta Folbeknya gak?, Polbek ya Kakak, Folbek Plis, dan lain sebagainya.

Saya sendiri juga sering mendapatkan mention berisi permintaan folbek itu. Saya juga sangat sering melihat kata ini berseliweran di timeline. Namun biasanya tidak saya gubris, karena bagi saya hal seperti itu lucu, dan saya sendiri tidak setuju dengan permintaan folbek itu.twitter

Mengapa saya tidak setuju dengan itu? Karena bagi saya permintaan folbek itu sama saja dengan memaksa seseorang, apalagi jika tidak saling kenal, atau minimal sama dengan mengemis. Maka saya menyebut orang yang suka meminta folbek ini sebagai “Fakir Folbek”. Karena jika orang yang miskin pulsa dan suka miscall atau miskol saja kita sebut fakir miskol, maka sebutan Fakir Folbek cocok untuk orang yang suka mengemis difolbek.

Meminta folbek itu sama dengan memaksa, karena dengan meminta orang lain memfollow akun kita yang mungkin tidak ingin difollow orang itu. Jika seseorang ingin atau berminat memfollow kita, tanpa kita minta folbek pun, dia akan memfollow akun kita.

Kepada teman dekat pun sebenarnya minta folbek juga kurang elok. Kalo kita menemukan teman di twitter, sebenarnya cukup memention dan menanyakan kabar saja. Dengan demikian dia akan tahu ada akun kita, dan jika dia berminat dengan twit-twit kita, tanpa kita suruh pun dia akan memfollow. Jika tidak, berarti dia tidak berkenan. Bisa jadi dia suka berteman dengan kita, namun tidak suka membaca twit kita.

Twit kita itu sama dengan makanan. Bisa jadi enak menurut kita, tapi tidak bagi orang lain. Atau enak bagi si A, bisa jadi tidak bagi si B. Ini soal selera dan kita seyogyanya memang tidak memaksakan selera pada orang laintwitter 2.

Ada teman yang pernah cerita, dia diminta folbek sama temannya, lalu karena tidak enak sama temannya itu dia follow namun kemudian unfollow diam-diam. Ini karena dia memang tidak suka dengan timeline temannya tersebut yang memang sangat mengganggu bagi dia. Menularkan pesimisme, dan sebagainya.

Pernah juga saya coba membalas follow seorang mahasiswa yang memfollow saya. Eh, ternyata tiap hari twitnya sangat banyak dan nyampah di timeline, dengan kegalauan dan sumpah serapahnya. Banyak twit penting lainnya yang jadinya tertimbun oleh twit itu dan tenggelam di timeline. Maka tidak ada jalan lain bagi saya, kecuali unfollow. Semenjak saat itu, saya jadi hati-hati dalam memfollow orang.

Lalu pernah juga saya mengajukan pertanyaan saat ada yang meminta folbek saya. Saya tanya mengapa saya harus follow dia? Apakah twitnya bener-benar penting bagi saya? Dia menjawab, saya perlu folbek dia karena dia telah memfollow saya. Lalu saya tanya lagi, siapa yang menyuruh dia memfollow saya? Karena, bagi saya, harusnya orang follow saya itu karena merasa twit saya berguna atau menghibur bagi dia, bukan karena biar saya follow.

Bahkan saya sering melihat seseorang yang sangat amat Fakir Folbek. Betapa tidak, sering sekali dia memention orang-orang terkenal atau selebtwit, bahkan semua orang yang difollownya untuk memfolbek dia. Dia juga agak menyindir dan agak memaksa dalam soal minta folbek.

Misalnya dia bilang begini: “Kok gak difolbek sih om. Apa ruginya sih folbek doang? Pelit amat?”

Orang seperti itu jelas tidak tahu bahwa memfollow atau folbek orang bisa merugikan karena bisa jadi twit yang difolbek itu tidak sesuai dengan minatnya atau bahkan mengganggu. Kadang yang seperti ini tidak disadari memang. Karena semua orang selalu menanggap twitnya bagus dan layak difollow, sama dengan orang yang selalu merasa cakep atau pinter, padahal tidak.

Kalau mau diibaratkan lagi, Fakir Folbek yang gemar meminta folbek dan suka marah kalau tidak difolbek itu, sama saja dengan seseorang yang merasa cakep dan meminta atau memaksa orang lain menyukainya. Padahal jika dia benar-benar cakep pasti tanpa diminta akan banyak orang yang suka dengan dia kan? Demikian pula dengan twit yang bagus dan berguna, tanpa minta folbek pun, akan banyak orang yang follow.

Satu-satunya alasan minta folbek yang bisa ditoleransi adalah agar bisa mengirim Direct Message (DM). Misalnya seseorang yang mau kirim DM ke akun provider telkomunikasi dan sebagainya, lalu diminta via DM saja. Nah, di sini dia bisa minta folbek, karena tanpa difollow akun provider itu, dia tidak bisa kirim DM. Ini pun biasanya setelah DM selesai si akun akan mengunfollow lagi.

Namun kebanyakan yang meminta folbek ini tujuannya semata hanya ingin dapat tambahan follower. Tanpa peduli apakah yang follow nanti akan cocok dengan twitnya atau tidak. Bahkan banyak akun spam atau bot yang memention kita dan minta kita folbek akunnya atau akun lain.

Mungkin mereka-mereka para Fakir Folbek yang haus follower ini, mengira kalau banyak follower maka akunnya keren. Mungkin kalau banyak follower aka nada orang yang mau ngiklan atau membayarnya jadi buzzer.twitter 3

Padahal tidak begitu, kualitas akun itu dilihat dari kualitas twitnya. Anda tidak akan diminta jadi buzzer kalo twit anda tidak berkualitas dan anda tidak memiliki pengaruh. Jika twitnya berkualitas, biasanya followernya juga akan banyak.

Lihat saja twit-twit yang dinilai bagus dan berkualitas di twitter, follower datang berbondong-bondong tanpa diminta. Karena sudah lazimnya, jika ada orang yang suka, terbantu, atau terhibur dengan twit kita maka dia akan mengikuti twit-twit kita atau menfollow kita.

Maka saran saya untuk para Fakir Follower, daripada anda capek-capek minta folbek. Daripada anda nyepam dengan menyebar permintaan folbek, mending anda memperbaiki kualitas twit anda. Karena sekali lagi seperti kata pepatah: ada gula,ada semut. Ada twit bagus ada follower.

Jadi, masih mau minta Folbek? Masih mau jadi Fakir Follower?

sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s