Membeli Kepercayaan

Awal bulan agustus. Saya dan kakak datang ke bioskop. Datang dengan niat nonton film “Step UP : All In”. Film yang banyak gerak geriknya. Loncat sana, loncat sini. Berputar-putar, melambai, jungkir balik, dan gerakan keren lainnya.

Setelah membeli tiket, karena merasa haus. Saya keluar untuk membeli minuman. Kebetulan waktu itu banyak pembeli, jadi saya antri. Kurang lebih 7 orang yang mengantri, dan kebanyakan ibu-ibu sambil memegang anaknya.

Tiba-tiba saja, entah apa yang ada di pikriannya. Ada seorang cowok dengan jaket warna merah mencolok, mengambil minuman Sprite yang ada di atas meja kasir dan kabur tanpa membayar. Semua orang serentak menatap cowok tersebut lari menjauh.

Mungkin karena pasrah atau ikhlas. Si penjual cuek saja dan tetap melayani antrian. 5 Menit berlalu, saya masih mengantri untuk membeli munuman. Cowok yang mengambil minuman tadi kembali. Ia menyodorkan uang lima puluh ribuh, si kasir tidak mengambil uang itu, ia malah berkata “Paakk… Saya sudah tidak mempercayai bapak. Dan kepercayaan saya tidak bisa dibeli”.

Kasihan. Pertama, dia cowok yang masih mudah, tapi di panggil “Pak”. Kedua, orang yang mempercaiyainya berkurang.

Seketika, saya langsung berpikir.

Ternyata yang dibilang oleh guru saya, bahwa “Kepercayaan tidak bisa dibeli” itu memang benar. Dan sudah saya buktikan dari kejadian itu.

Ini sebenarnya sindiran untuk kau, si tukang PHP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s