Hidup Menyerupai Air

Seperti air.

Hari ini, detik ini. Hujan menyelimuti Sudiang, sebuah daerah pinggir kota dengan kondisi jalan bergelombang. Perawatan jalan, baru dilaksanakan ketika musim pemilu datang. Tapi setidaknya, di Sudiang terdapat listrik.

(entah kenapa, tiba-tiba bahas tentang Sudiang aha ha )

DSC_1285Diwaktu yang sama. Saya masih asyik dengan membaca cerita dan novel kiriman teman. Membaca, dan sesekali melirik celana saya yang basah terguyur hujan. Hingga, saya teringat satu hal. Teringat tentang curhatan teman minggu lalu. Tentang masalah antara dia dan (mantan) pacarnya.

Terkadang, ketika kau memiliki masalah dengan seseorang. Entah itu pacar, teman, sahabat, ataupun keluarga. Kau hanya perlu datang dengan tangan hampa dan berkata “Maafkan ka” lalu mengulurkan tangan.

Walaupun, kemungkinan besar, orang itu akan mengacuhkan mu. Jika itu terjadi, datang esok hari dan lakukan hal yang sama. Dan jika memang dia betul-betul marah, biarkan saja. Setidaknya, kau bukan orang egois yang tidak meminta maaf.

Seperti air yang membasahi celana ini. Tidak selamanya, akan basah. Mungkin dua atau tiga hari kedepan, akan kering seperti semula. Begitu pula dengan hubungan. Tidak ada yang bermusuhan sepanjang hidup. Cepat atau lambat, kau akan baikan.

Dan seperti yang kau pikirkan. Semuanya hanya tentang waktu dan situasi hatinya. Percayalah, air tidak selalu tergenang, tapi mengalir menyusuri seluruh tempat baru. Dan hidup juga seperti itu, mengalir begitu deras hingga tak kau rasakan.

*Setelah sakit, tiba-tiba jadi bijak -__-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s