Yang Terjadi

Aku habiskan sejam waktu ku merangkai beberapa kalimat. Melengkapi sedikit demi sedikit, bagian novel ku. Novel yang entah kapan selesai. Sesekali, perutku bergetar, tak mampu menahan lapar.

Aku seorang diri di rumah. Tak ada siapa-siapa. Hanya ada aku dan motorku, terparkir rapih di dalam. Aku berjalan ke dapur. Berharap menemukan ikan atau ayam, atau apapun yang bisa ku makan.

Memeriksa panci dan kulkas. Barang kali disana ada makanan. Namun, kenyataan berkata lain, hanya ada toples kosong berjajar rapih ditempatnya. Aku berjalan lagi, mengamati setiap sudut. Ada garam dan gula, kurasa itu bukan menu makan malam yang baik.

Ini bukan pertama kalinya, aku mengalami ini. Tapi tetap saja, lapar tetaplah lapar. Tak bisa melakukan sesuatu dengan maksimal. Selalu ada gangguan dari lambung. Gerakan memberontak, meminta makanan untuk diurai oleh lambung.

Dua puluh menit berlalu, Ibuku mengetuk pintu rumah. Aku berlari membukanya, berharap ada mie jakarta di tangannya. Pintu terbuka dengan pelan “Maaa… Laparka” keluh ku. Ibu lalu mengeluarkan selembar uang “Pergi mkow beli lalapan 3, pake nasi”.

Tanpa pikir panjang, aku berangkat dengan motor. Menembus dinginnya malam dengan kulit tipis. Melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa takut ditabrak nyamuk. Aku tak lagi menikmati indahnya bulan, seperti biasanya. Yang ada dipikiranku, hanya ingin cepat tiba di rumah dengan selamat dan makan ayam. Hanya itu.

Aku sampai di rumah makan jawa, Ojolali. Masuk dengan langkah malu-malu. Menundukkan kepala dan langkahku tak bersuara. “Mass.. Pesan 3 lalapan pakai nasi, bungkus” kataku, pelan.

Aku lalu duduk dibagian luar. Disana ada cewek, cukup manis. Dan karena tak ingin terlihat bodoh. Aku bermain game di HP dan sesekali melirik wajahnya. Hanya sesekali.

Aku terlalu asyik meliriknya, maksudku, terlalu asyik bermain game. Hingga lupa, pesananku sudah siap. Aku berjalan ke kasir, seorang cowok bertubuh mungil, dan berkumis. Dan entah apa yang terjadi, saat datang hingga pergi dari kasir. Ia terus saja menatapku dengan senyumnya.

Sebagai cowok normal, tentu saja aku terganggu dengan senyumannya. Caranya menatap, mengacaukan pikiranku, bahkan ku tak ingat wajah cewek yang ku lirik tadi. Pikiranku kacau. Terlalu kacau, sampai tak bisa ku jelaskan.

Dan semuanya, karena senyuman seorang yang berkumis -__- Harapanku hanya satu, aku tak ingin hal itu terulang lagi. Takkan pernah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s