Dongeng Pengantar Tidur ku

Sebuah cerita pengantar tidur ku semalam. Dongengnya agak panjang.

Namaku Rara. Wajah ku benar-benar melekat di bantal ini. Seperti ada lem yang melekatkannya . Serasa tak ingin lepas darinya. Aku terbuai kelembutannya. Mengantarkan aku menuju tidur nyenyak ku.

Tidur di atas kasur empuk. Dikelilingi bantal yang sama lembutnya. Ditemani selimut besar. Berlindung dari cahaya lampu kamar yang menyilaukan.Terbaring lemas, melepas semua kelelahan ku.

Aku membayangkan wajah seseorang. Bibirku tersenyum. Dia tersenyum ke arahku, aku bisa merasakannya. Perlahan, aku mulai terlelap dalam buaian lembut kasur merah jambu ini. Udara sejuk, semakin mendorong ku untuk tertidur. Meninggalkan jam kecil di samping kasur ku.

Setiap detakannya, mengantarkan aku dalam tidur ku. Kicauan beberapa burung dan suara motor melintas di depan rumah. Tak bisa menghalangi ku untuk menutup hari ini dengan tidur nyenyak. Aku peluk erat-erat bantal kesayangan ku.

Aku sandarkan kepala ku padanya. Dia tak akan berkhianat. Tak akan menyakitiku. Dia selalu menjaga ku saat tertidur. Aku benar-benar sayang bantal ku. Aku tarik selimut merah jambu itu. Aku pakai menyelimuti tubuh ku yang terasa dingin.

Aku pandangi foto-foto penuh kenangan di salah satu dinding kamar ku. Banyak, sangat banyak jumlahnya. Semua foto itu, mengingatkan aku satu hal. SMA. Aku memang sudah kelas tiga. Sedikit lagi memasuki dunia baru, dunia perkuliahan.

Aku tak ingin masa ini berakhir. Aku benar-benar masih ingin merasakannya. Tapi itu mushatil. Waktu akan terus berjalan. Bersama atau tanpa aku, jam akan terus berdetak.

Aku terharu, sedih, meneteskan air mata. Tak ingin meninggalkan sahabat-sahabatku. Sahabat yang menemaniku selama tiga tahun lamanya. Wajah mereka terus terbayang. Tak sanggup lagi aku membendung air mata ini.

Aku biarkan mengalir. Mengalir begitu deras, membasahi pipi ku. Aku tak perlu menyembunyikan air mata ku. Tak perlu lari bersembunyi di tempat lain. Aku ada di kamar ku. Aku bebas melakukan apa saja.

Aku ambil tisu di samping jam kecil itu. Membersihkan pipi ku yang lucu ini. Perlahan, tangis ku mulai meredah. Tak ingin tertidur. Aku duduk di kasur. Memeluk boneka besar. Boneka bersejarah, turun temurun dari nenek, lalu ke ibu, dan sekarang dipelukan ku. Aku peluk erat boneka ini. Tak ingin aku melepaskannya. Aku ingin puas memeluknya.

Aku pandangi dinding kamarku. Berwarna biru cerah. Seperti langit, warna kesayanganku. Jadi teringat saat umur ku lima tahun. Aku meminta ayah mengubah warna kamar ku. Dulu merah jambu. Aku memang suka merah jambu, tapi lebih menyukai biru cerah. Awalnya, ayah ku menolak.

Setiap hari, di meja makan. Sebelum berangkat kerja, aku selalu berkata “Ayah, cat biru kamarku”. Aku selalu mengatakan itu. Hingga suatu hari, mungkin ayahku bosan dengan dengan perkataanku yang berulang-ulang. Ia lalu mengganti warna kamarku. Menggantinya dengan warna biru.

Saat itu, aku berumur lima tahun. Aku hanya perlu meminta, dan semua yang ku inginkan terkabul. Tapi waktu terus berjalan. Aku tumbuh dewasa dengan perlahan. Aku sadar, aku tak bisa lagi meminta sesuatu seenaknya. Aku harus berusaha mencapai apa yang ku inginkan.

Aku masih duduk terdiam di kamar. Pipi ku tak basah lagi. Boneka itu masih erat di pelukan ku. Imajinasiku sedang bermain. Aku ingin melakukan sesuatu yang sangat ku senangi.

Aku ambil telepon genggam ku. Aku tulis semua apa yang ku rasakan. Aku kirim ceritanya ke temanku. Aku harap, ia menikmati ceritaku dan bisa tidur nyenyak.

————————————————————————————————————

Entah kenapa, menangiska pas tulis ini -__- *eeh.. Makasih eaa kakaa Mellania Ardita, sudah kirim cerpennya ke Imam. Keren cerpennya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s