Jasa Yang Tak Terlupakan

Terinspirasi dari sebuah postingan di FB, beberapa hari yang lalu. Tulisannya Imam jelek. Jadi maafkan Imam.

Namanya Rara, seorang cewek manja yang jomblo sejak lima bulan lalu. Duduk dibangku SMA Tunas Harapan. Tumbuh dan bersifat seperti cewek pada umumnya. Dari seorang temannya, Rara tau hari ibu jatuh pada tanggal 22 Desember.

Bibirnya tersenyum mendengar tentang hari ibu. Sudah lama ia tak memperlihatkan senyumnya itu.Terakhir kali ia tersenyum seperti itu. Sewaktu masih bersama Farhan, pacar yang kini menjadi mantan.

Di hari ibu nanti. Rara ingin memberikan kejutan ke ibunya. Kejutan sebagai bentuk terima kasih. Sudah lama ia menunggu kesempatan ini. Mulai muncul ide-ide unik di kepalanya. Memberikan kue, kado, dan sebagainya. Rara terus memikirkan itu hingga sore datang.

Matahari, perlahan menuju tempat lain. Menyinari bumi bagian barat. Merasa jenuh di kamarnya. Dengan celana panjang dan baju kaos merah jambu. Rara berkelana di sekitar kompleks. Berkeliling dengan sepeda baru miliknya. Tampil mencolok dengan sepeda putih dan bannya agak kebasaran.

Dia memang jomblo. Jadi tak ada pilihan lain, selain bersepeda seorang diri di sore hari. Menikmati masa-masa sendirinya yang sebenarnya suram. Malam mulai jatuh. Bintang-bintang mulai menampakkan dirinya. Angin berhembus, cukup dingin. Menemani Rara pulang ke rumahnya.

Dan seperti di kamar tadi. Saat bersepeda pun, ia tetap merangkai semua rencananya. Waktu yang tersisa, sehari sebelum hari ibu itu datang.

Singkat cerita. Setelah merencanakan semua aksinya. Rara mempersiapkannya begitu matang. Tak ingin kejutan ini seperti biasa-biasa saja. Rara sangat antusias. Tak bisa menyembunyikan senyum manisnya. Dua puluh menit sebelum tanggal 22 Desember, hari ibu.

Di depan pintu kamar ibunya. Rara berdiri seorang diri. Memegang kue dan mengenakan topi lucu. Bagaimana mungkin cewek semanis dia bisa jomblo lima bulan. Pertanyaan yang belum terjawab.

Suasana di rumahnya begitu hening. Lampu rumah, semuanya padam. Kecuali di depan TV, dekat kamar ibunya. Lima menit lagi. Rara tak bisa tenang. Ia sangat antusias, sangat.

“Neng nong” bunyi jam digital di samping TV. Menandakan hari sudah berganti. Tanggal 22 Desember 2014, hari ibu.

Rara membuka pintu dengan tangan kirinya. Melangkah masuk dengan perlahan dan ketika tepat di samping Ibunya, yang sedang tertidur nyenyak. Rara berteriak “Selamat hari ibu”. Teriakannya begitu keras. Membuat ayah dan ibunya terrbangun. Jantungan.

Tentu saja. Siapa yang tak jantungan, ketika sedang tidur nyenyak. Mendadak anak sendiri berteriak di samping. Tepat di daun telinga Ibunya. Spontan, Ibunya marah.

“Apa kau itu Rara. Orang tidur pergi teriak-teriak” omel ibunya, jengkel. “Apa lagi lagi itu hari ibu. Jaman mama kecil dulu. Tidak ada yang seperti itu. Tapi tetap sayang sama ibu. Tak seperti sekarang. Dikasih HP, dikasih motor, dikasih baju. Tapi kalau disuruh, paling jago menunda” perkataan ibunya, benar-benar membuat hati Rara tertusuk. Sakit, lebih sakit daripada saat Farhan meninggalkannya.

“Dengar itu apa na bilang mama mu. Sudah mi, mari mi itu kue ku simpan di kulkas. Besok pagi dimakan sama-sama. Rara sekarang pergi tidur. Kan besok mau sekolah” bapaknya berkata dingin. Sedingin motivator yang muncul di TV.

Dengan wajah lesuh, habis diceramahi oleh ibunya sendiri. Rara berjalan ke kamar. Langkah tak semangat. Wajahnya tertunduk. Melewati ruang yang gelap. Ia tak begitu mempedulikan gelapnya ruangan itu. Yang hanya di hatinya, hanya rasa bersalah.

Ia membuka pintu. Masuk ke dalam kamar, menyelakan lampu. Dan mengunci pintu. Sekarang, ia tak ingin diganggu siapapun. Terbaring di kasur empuknya. Muncul satu pertanyaan dibenaknya. Kenapa aku harus sayang ibu?

Rara begitu kesal. Hatinya terbagi dua. Di satu sisi, ia kesal dengan ibunya. Tapi di lain sisi, ia menyayangi ibunya. Kenapa aku harus sayang ibu? Simpel. Jawabannya terlalu simpel.

Ibu tak secantik pemain sinetron. Tak sekaya ibu-ibu istri pebisnis. Tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Sesuatu yang akan selalu ku kenang. Yaitu, jasanya.

Mau aku datang padanya dengan keadaan kaki terpotong. Datang dengan tangan yang diamputasi. Ibu akan selalu menerimaku apa adanya. Mau sejelek apapun wajahku. Seburuk apapun bentuk fisiku. Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Tempat aku dilahirkan, dan tempat aku kembali saat terpuruk. IBU.

———————————————————————————————–

Andi Farah Debra. Seorang ibu, pekerja keras dan masih muda. Biasanya Imam chat tentang sulitnya jadi prempuan. Makasih kak sudah sharing sedikit tentang proses kelahiran dan sebagainya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s