Penantian Panjang

Mentari bersembunyi dibalik gumpalan awan. Aku duduk termenung di tepi empang. Melihat sekelompok ikan kecil berenang kesana kemari. Berenang mengelilingi kaki ku yang tercelup. Terasa geli. Dengan perlahan, ku singkarkan mereka dengan tangan halus ini.

Aku pegang erat kamera ini. Tak akan kubiarkan ia tercelup. Sedikt pun, tidak akan. Aku lihat di ujung sana. Banyak yang berkumpul. Berjejer di pinggiran empang. Menatap bapak itu melakukan aktivitasnya. Aku jadi terdorong melangkah ke sana. Ingin memperhatikan lebih dekat.

Langkah ku kecil. Tak ingin aku terburu-buru. Semak-semak menjadi petunjuk arah. Seperti di sawah. Jalannya kecil dan di pinggirnya banyak lumpur. Celana panjang ku gulung sedikit. Sendal ku kotor, ada lumpur yang menempel.

Aku sampai di sana. Melihat dengan jelas, proses menangkap ikan bolu dengan jala. Sebagai orang yang kritis, aku bertanya ke bapak itu. Tapi sayangnya, beliau hanya mengerti bahasa Makassar. Wawancara kami agak terhambat.

Tapi setelah dibantu oleh teman yang fasi berbahasa Makassar. Aku bisa menyimpulkan. Hidup itu butuh kesabaran. Di empang yang luasnya kurang lebih dua hektar ini. Dibutuhkan waktu 3 bulan untuk panen. Aku pikir, tiga bulan adalah waktu yang lama. Tapi tetap, tak selama penantian ku dalam enam tahun.

Tak hanya ikan bolu. Disini ada juga udang. Mengurus udang lebih sulit dibanding mengurus ikan bolu. Mereka seperti anak kecil yang manja. Tiap hari diberi maka,.dipantau dan sebagainya. Wajar harganya mahal di pasaran. Mengurusnya saja, membutuhkan pengorbanan yang besar.

Beberapa temanku ikut membantu bapak itu. Mengeluarkan ikan dari kaitan jala. Ingin rasanya, aku turun dan melakukan hal yang sama. Hanya saja, aku hanya membawa satu baju. Aku tak mungkin pulang dengan celana dan baju yang basah. Padahal, ini waktu yang tepat merasakan kehidupan pedesahan.

Senyum bapak itu, membuat ku terharu. Senyum bahagia. Melihat empangnya panen banyak. Aku jadi teringat sebuah pelajaran hidup. Terkadang, orang yang dipandang sebelah mata, adalah orang yang jasanya sangat besar.

Aku duduk bersama mereka di pinggiran. Duduk santai, sambil menyemangati teman kami yang berlomba mengeluarkan ikan dari jala. Dua puluh menit berlalu. Jala tergulung rapih di tepi. Kami melangkah kembali ke rumah kecil itu. Terdorong suasana, kami menyanyikan lagu anak-anak. Bolang dan sebagainya. Sekali lagi aku terharu, masa kecil selalu membuat ku tertawa..

Tak jauh dari rumah tua itu. Ada sampan terpakir di balik pepohonan pinggir sungai. Aku naik ke atasnya. Memegang dayung dan berlagak seperti nelayan. Mengayuh dengan senyum manis, dan mata yang sipit. Di temani temanku yang meloncat dari sampan.

Dengan santainya. Mereka berenang bebas di pinggiran sungai. Lagi-lagi, aku ingin ikut bersama mereka. Tapi, yang bisa ku lakukan hanya duduk manis di atas sampan. Dan sesekali mengabadikan momen.

Setelah puas menikmati indahnya suasana empang. Menikmati serunya bermain air di pinggiran sungai. Kami bergegas pulang. Setiap dari kami, diberi bingkisan berisi ikan. Kami berpamitan dengan pemilik empang, dan berangkat dengan perahu yang sama, saat datang ke sini.

Berpapasan dengan masyarakat yang tinggal di pinggir sungai. Melambaikan tangan dan tersenyum. Mereka membalas dengan senyum yang ramah. Aku duduk di depan. Berasa menjadi nahkota perahu kecil ini.

Dari perjalanan ini. Banyak yang bisa ku pelajari. Tentang kesederhanaan dan kesabaran. “Menunggu waktu yang tepat”, ku pikir itu mewakili semuanya.

Terkadang, kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat, untuk melakukan sesuatu. Apalagi jika mengungkapkan sesuatu. Mungkin kita hanya perlu menunggu, menunggu hingga semuanya siap.

Dan saat waktunya tiba. Ungkapkan lah perasaan mu. Aku rasa, ia akan mengerti apa yang kamu rasakan. Aku harap, aku benar. Namun, yang paling penting. Dalam sebuah penantian, kita harus percaya dengan orang yang kita nantikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s