Kertas VS Lapangan

Baru sempat ngetik. Kepalanya Imam tadi blank. Tadi ada dua cowok (seumuran dengan Imam) datang ke rumah, mau print. Saat proses print berlangsung. Mereka bercakap seperti orang pacaran. “Kita iya, anu sekali” kata salah satu dari mereka. -___- aneh-aneh memang sekarang. Na senyumi ka lagi pas pulang. Aduh, terjadi lagi.

———————————————————————————————————————————–

Epic moment. Tidak dihargai, karena tidak memiliki status quo.

Beberapa minggu yang lalu. Ada rapat terkait pelaksanaan porseni. Semua perwakilan kelas dipanggil ke ruang rapat. Kebetulan, ketua kelas hari itu belum hadir. Jadi Imam yang mewakili.

Lagi duduk manis di dekat meja guru. Membaca novel, bercerita tentang kehidupan Ema, ibu dari Jusuf Kalla. “Imam.. Ke ruang rapat dulu sebentar. Tentang porseni” kata seseorang dari luar. Mengacaukan ritme membacaku.

Dengan langkah pelan, tak bersemangat. Aku melangkah ke ruang rapat. Aku masih memegang erat buku itu. Aku masuk di ruangan. Ramai, kursi-kursi terisi penuh. Aku dekat di dekat pintu. Berharap tidak tampil mencolok. Duduk diam, bagai tak tau apa-apa.

Pimpinan rapat, ketua osis, mulai menjelaskan tentang aturan dan sebagainya. Semuanya berjalan lancar. Hingga akhirnya masuk dalam tahap penentuan lawan. Suasana sedikit gaduh. Banyak yang bicara, tidak beraturan. Aku masih duduk manis di dekat pintu. Berpangku tangan sambil tersenyum.

Aku pikir, dia (ketos) butuh sedikit bantuan. Aku beranjak dari kursi, datang ke dekatnya. Mengambil pulpen dari tangannya. Dan membuat bagan pertandingan di kertas selembar. “Bagannya sudah selesai. Tinggal di undi. Semua fix?” kataku, menenangkan suasana.

Suasana kembali tenang. Mungkin, tugas ku disini sudah selesai. Puncak dari pertemuan ini sudah terlewati. Aku membisikan beberapa kalimat untuk ketos. Dia menganggup, tanda mengerti. Setelah itu, aku kembali duduk santai di belakang. Menyaksikan pengundian bagan.

Rapat hari itu selesai. Satu persatu mulai meninggalkan ruangan. Aku masih asyik bersantai, menikmati suasana sekolah. Aku beranjak dari kursiku. Merapikan kursi yang berantakan, ditinggal begitu saja. Aku bukan orang yang suka menyuruh, kecuali jika benar-benar membutuhkan bantuan.

Berjalan keluar bersama ketos. Tepat di depan pintu ruang rapat. Ada anggota osis (kelas satu, tak perlu ku perjelas), menatap sinis ke arah ku. Entah maksudnya apa. Tapi beberapa detik setelah itu, ia tersenyum. Bukan untuk ku, melainkan untuk ketua osis.

Sebagai orang yang selalu cuek. Aku tetap diam. Tak ada ekspresi apapun di wajahku. “Eehh.. Duluan ka na” kataku, berpamitan dengan ketua osis. Aku melangkah pelan, menuju kelas. Sepertinya, bangku tempatku duduk. Telah menunggu terlalu lama.

Apa yang mau Imam sampaikan, simpel. Beberapa orang, hanya menghormati orang-orang tertentu. Menghormati mereka yang punya status quo (jabatan). Mereka tidak akan bertanya, apa jasanya? apa konstribusinya? dan apa idenya? Tidak. Mereka hanya memandang jabatan sebagai tolak ukur.

Aku menulis artikel ini, bukan berarti dendam dengan anggota osis itu. Bukan. Kalau aku dendam. Aku bisa menceramahinya saat itu juga. Aku juga anggota osis, hanya saja, dua angkatan diatas mu. Pernah dikader dan sebagainya. Malahan, saat menjabat, aku melakukan sesuatu yang orang lain malas melakukannya.

Menyusun dua acara tahunan osis, yaitu LKS dan Porseni. Proposal ku sudah jadi sebelum sekertaris resmi, baru mencari data. Menyusun sistem, sebelum ketua (secara formalitas) bertanya tentang sistem. Melakukan pengecekan perlengkapan seorang diri. Dan hal lainnya.

Dan yang paling menyebalkan. Saat acara itu berlangsung (porseni). Ada panitia (yang entah dari mana datangnya. Mendadak muncul saat acara dimulai) berkata “Itu Imam. Ndak ada sekali kerjanya. Selalu menghilang” ucapnya tepat di samping ku.

WOW… Secara kertas, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya menempatkan namaku di kolom terbawah, dalam proposal yang ku buat sendiri. Di kolom “dokumentasi”, sangat jauh dibandingkan 5 jabatan utama. Tapi secara lapangan. Apa yang ku lakukan?

Diwaktu yang bersamaan. Aku seperti menjadi ketua, kordinator umum, sekertaris, seksi perlengkapan dan dokumentasi. Karena kecewa dengan perkataannya itu. Aku memutuskan mengundurkan diri dari wakil ketua osis. Alasanku waktu itu, terlalu sederhana. Ingin membuat sesuatu bersama orang lain di luar sekolah. Tapi syukurlah. Sang ketua osis yang waktu itu adalah teman ku. Dia mengerti semuanya. Dia tersenyum, tentu saja. Karena dia tau apa yang ku lakukan.

Hidup memang keras. Tapi, mentalku sudah ditempa oleh senior-senior ku. Ditempa oleh teman-teman ku. Dan saatnya, aku menempa mentalmu. Agar kau bisa berdiri tegak, menghadapi orang-orang yang hanya memandang status quo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s