Desi Part 3 : Udin, Cowok Penuh Kejutan

Sebulan berlalu sejak hari itu. Hari tragedi, penuh rasa kecewa dan kesalahpahaman. Selama itu pula, Desi tak pernah merespon apapun dari Udin. SMS tak terbalas, telfon tak diangkat, dan pesan BM yang hanya diread.

Berulang kali Udin mencoba menghubungi Desi. Tapi sebanyak apapun Udin mencoba, hasilnya selalu sama. Tanpa hasil. Memegang prinsip cowok sejati. Udin tak akan menyerah, sebelum mendapatkan impiannya. Ingin bersama Desi dihembusan napas terakhirnya.

Sabtu kemarin. Udin sengaja bolos belajar. Pulang lebih awal, meninggalkan pelajaran matematika. Semua itu untuk bertemu Desi. Dengan sepeda motor miliknya. Udin melaju cepat di jalan raya. Menyelip ke sana sini. Melintas aspal yang basah, terguyur derasnya hujan.

Berangkat dengan satu tujuan. Bertemu Desi di gerbang sekolahnya. Menempuh perjalanan yang jauh. Akhirnya Udin tiba. Tiga belas lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi, bel panjang berbunyi. Udin tiba tepat waktu, seperti perkiraannya.

Udin duduk santai di motornya, sambil bermain HP. Sesekali berteduh dibawah pohon rindang. Berlindung dari cahaya matahari yang menyengat kulit.

“Krrringg… Kringgn… ” Bel pulang berbunyi. Berdengung melewati pepohonan dan masuk didaun telinga Udin. Spontan, Udin beranjak dari tempatnya. Melangkah pelan disamping gerbang. Matanya fokus melihat kerumunan siswa yang keluar bersamaan.

Seekor lalat pun tak bisa mengalihkan pandangannya. Udin tak ingin, melewatkan satupun dari pandangannya. Lima menit berlalu, Udin masih diam di samping gerbang sekolah. Hingga saat itu tiba. Itu dia, Desi.

Berjalan dengan Rara, teman sebangkunya. Udin melangkah cepat menghampiri Desi. “Desi.. Maafkan ka” kata Udin.

Desi berbalik, ternyata itu suara Udin. Desi lalu berlari, menjauh dari Udin. Melangkah cepat masuk ke lapangan sekolah. Udin mengikuti dengan cepat. “Desi.. Dengar ka dulu”.

“Kan hari itu sudah maka bilang. Tidak mau maka. Capek maka” keluh Desi.

” Iyaa.. Tapi dengar ka dulu. Saya tau, saya yang salah”.

Udin dengan cepat, langsung berada di hadapan Desi. Langkahnya terhenti, air matanya mengalir pelan. Suasana mirip seperti hari itu, hari tragedi.

“Dengar ka dulu. Mau ja akui, salah ka memang” Udin berkata pelan. Wajahnya memandangi Desi yang tertunduk.

“Salah ka memang. Saya akui itu. Tapi tidak mau ka pisah dari kita” lanjut Udin.

Desi berusaha tegar. Tubuhnya kokoh. Hatinya kuat. Mengepalkan kedua tangannya dan berkata “Sudah mi.. Banyak ji cewek lain. Cewek yang lebih sempurna dari saya”.

“Bukan masalah itunya. Saya tau ji. Banyak sekali cewek yang lebih cantik. Tapi bukan masalah siapa paling cantik”.

“Tapi kalau bukan tentang cantik dan kesempurnaan. Karena apa? Ndak ada ji yang spesial dari saya” Desi mengangkat kepalanya. Desi telah tumbuh menjadi cewek tanggung. Desi tak ingin lagi lari dari masalahnya. Ia ingin berdiri kokoh, menghadapi semua masalah ini. Sebuah hal, yang cewek lain tak bisa melakukannya.

Udin diam. Menatap dalam-dalam mata Desi. Mata yang sangat ia rindukan. Udin menarik napas panjang.

“Desi memang bukan yang tercantik. Tapi, Desi yang pertama dalam hatiku. Yang pertama, dan akan selalu disana. Namamu terukir disana. Dan jika Desi ingin menghapusnya. Satu-satunya cara, adalah menghancurkan diriku”.

Kata-kata Udin, seperti mengubah semuanya. Bahkan Rara, yang waktu itu ada di belakang Desi, tercengang. Belum pernah ia menemukan cowok, yang berkata dingin seperti itu.

Desi terharu, tentu saja. Cowok macam apa yang berani berkata seperti itu. Maksud ku, Udin benar-benar mencinta Desi, bukan karena Desi cantik. Melainkan karena Desi memang istimewah untuk Udin. Dialah, cewek pertama yang bisa membuat Udin berubah. Desi.

————————————————————————————————————–

Eehh.. Imam mau minta tolong, untuk orang yang mau menulis. Ingat ya, YANG MAU MENULIS. Kalau mau membantu, nanti Imam jelaskan via chat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s