Hidupku Tak Seburuk Itu

Waduh.. Penulis itu bebas mau nulis apa saja. Dan sekarang mau nulis dari sudut pandang berbeda. Ceritanya jelek, jadi maafkan Imam

————————————————————————————————————

Sore hari. Duduk santai dibawah pohon rindang, depan asrama. Angin berhembus sejuk. Melewati sela-sela dedaunan, menerpah jilbabku. Duduk manis diatas batu besar, berjejer mengelilingi pohon lebat ini. Tumbuh tinggi dengan batangnya yang besar.

Daunnya berwana hijau cerah. Tumbuh banyak di setiap rantingnya. Tak bosan aku memandangnya, pohon yang indah. Sesekali ku tunduk kepalaku. Menikmati sore, dengan membaca novel. Membaca beberapa kalimat dan menutupnya kembali.

Setiap kalimatnya, seperti merasuk dalam jiwaku. Berhasil masuk dalam hatiku yang ku pikir, selalu hampa. Caranya merangkai kata, benar-benar indah. Aku bisa merasakan apa yang penulis novel ini rasakan. Pesannya tersampaikan dalam setiap kalimatnya.

Tiga tahun yang lalu. Aku hanya cewek yang pemalas. Bahkan untuk menyuntuh novel pun, tidak. Tapi di asrama yang luasnya melebihi tiga hektar ini. Satu-satunya hiburan, hanyalah novel. Ponsel dilarang, lebih-lebih laptop. Kalau ada yang bawa, mereka belum jerah, laptopnya disita ibu asrama.

Tinggal dan belajar di tempat yang luas ini. Di kurung dengan tembok yang tinggi dan atasnya berkawat duri. Selalu berada dalam pengawasan ibu asrama, dengan segudang peraturannya. Yaa, itu yang ku alami hampir tiga tahun ini.

Tak jarang aku ingin pulang, berkumpul bersama keluarga. Duduk di meja makan bersama. Dengan masakan kesukaan ku, sayur kangkung buatan mama. Tapi, itu jarang ku rasakan. Aku dipaksa tinggal di tempat ini, berminggu-minggu lamanya.

Hanya sehari dalam sebulan. Kami dibiarkan keluar dari asrama. Hanya sehari. Biasanya, ku habiskan sehari itu dengan berkunjung ke rumah. Baring sejenak di kamar yang sudah lama ku tinggalkan. Susunan bantal dan bonekanya, masih sama saat aku meninggalkannya. Dengan sedikit debu di meja kecil.

Berjalan-jalan di gramedia. Mencari buku-buku terbaru dari penulis kesukaanku.

“Fitrah… Kau mo beli yang ‘Tere liye – Bumi’. Baru saya beli yang ‘Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah’, bagimana?” kata Yayat, teman se kamarku, beberapa bulan yang lalu.

Dan sejak kemarin, buku ini selalu berada didekatku. Kemanapun aku pergi. Aku selalu membawanya. Setiap kalimatnya, membuat aku mengerti arti cinta sebetulnya.

Cinta dengan keluargaku di rumah. Aku selalu ingin bersama mereka. Tapi, aku tak bisa. Tapi akhirnya aku sadar. Aku tak perlu bersedih. Walaupun aku jauh dari keluarga di rumah, aku masih punya keluarga ku disini. Teman-teman ku.

Kami makan, belajar, tidur bersama. Saling berbagi cerita dan sebagainya. Mereka selalu ada, saat aku terburuk dan merasa bosan disini. Selalu berhasil membuatku terhibur dengan candaan mereka. Ditengah-tengah kejenuhanku. Ditengah-tengah rasa rindu ku, untuk pulang. Mereka selalu mengisi hari-hariku.

Aku mungkin terkurung di tempat ini. Tapi itu semua tidak ada apa-apanya, dibanding rasa senang ini. Dikerumuni banyak teman. Baik saat senang ataupun terpuruk. Mereka selalu ada untuk ku. Tempat ku membagi perasaan ku.

Semua anak, boleh memilih jalan hidupnya. Dan aku memilih, menjadi anak asrama.

‪#‎Hidup_anak_Asrama‬

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s