Desi Part 4 : Kejutannya Berlanjut

Pas di jalan pulang, melawan derasnya hujan. Saya malah memikirkan tulisan ini -__- padahal lagi naik motor.

——————————————————————————–

Suasana hening. Tak ada langkah kaki. Tak ada gemercik air. Langit perlahan mendung. Sekolah terlihat sepi, ditinggal penghuninya. Daun-daun berguguran di tepi lapangan, seakan menatap kami. Menjadi saksi bisu dari peristiwa ini.

“Desi memang bukan yang tercantik. Tapi, Desi yang pertama dalam hatiku. Yang pertama, dan akan selalu disana. Namamu terukir disana. Dan jika Desi ingin menghapusnya. Satu-satunya cara, adalah menghancurkan diriku”.

Kalimat Udin, berhasil mengacaukan hatiku. Mengacaukan pikiran ku. Aku tak tau harus berkata apa. Yang bisa ku lakukan sekarang, hanya tertunduk. Diam seperti anak kecil yang tak tau apa-apa. Tak seperti biasanya, jantungku berdetak cepat. Aku bisa merasakan darah ku mengalir dengan cepat.

Menembus pembulu-pembulu darah kecil, ditanganku. Napasku terasa berat. Udin masih berada di hadapanku. Dagu ini, terasa berat untuk ku angkat. Aku ingin menatap matanya. Sangat.

Aku menarik napas panjang. Rara menebuk pundak ku “Desi.. Kenapa ko?”.

Aku masih terdiam. Menatap sepatu ku yang sedikit kotor. Aku gelengkan kepalaku, Rara mengerti maksudnya. Mendadak, angin berhembus kencang. Langit semakin gelap. Hujan mengguyur dengan deras.

“Ayo berteduh disana” Udin mendorong kami, tentunya dengan lembut.

Kami melangkah pelan. Membiarkan air membasahi tubuh kami. Siapa yang peduli, ini hari sabtu. Kalaupun baju pramuka ini kotor, kami hanya perlu mencucinya besok.

Aku berjalan di samping Rara. Disusul Udin dari bekalakang. Tubuh ku mulai terasa dingin. Jariku gemetaran, tak terbiasa terkena air hujan. Berteduh di koridor sekolah. Kami duduk bersama, aku, Udin, dan Rara. Duduk melantai, seperti yang biasa anak SMA lakukan.

Suasana lagi-lagi hening. Air hujan menari diatas atap. Membuat irama tertentu. Aku duduk ditengah, Udin disebelah kiriku, dan Rara di sisi lain. Aku memejamkan mata. Fokus dengan suara gemercik air.

Udin melirik ke arahku. Mataku tertutup, namun aku merasakanya. “Kau tau Desi?”.

“Apa?” spontan aku menoleh ke arahnya.

“Aku selalu berpikir.. Kita itu seperti…” Udin mengucapkan itu, dengan pelan.

“Seperti apa?” aku semakin penasaran. Udin terdiam, menggerakkan kakinya, menendang air yang jatuh dihadapan kami.

“Aku pikir. Kita itu seperti air di wadah yang sama. Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Baik batu, pena, besi, plastik, atau apapun itu yang tercelup dalam di wadah itu. Kita selalu bersama. Kita hanya akan terpisah, ketika salah satu diantara kita berpindah wadah. Yang artinya, berpindah alam. Tapi, tau kah kau Desi? Kalaupun aku pergi, aku akan menunggumu di wadah yang baru nanti”

Udin berubah. Maksudku, ia romantis. Aku meresapi kata-katanya. Aku mengerti perkataannya, batu, pena, atau apaun itu. Ia umpakan sebagai masalah. Dia ingin, kami menghadapi semuanya bersama. Dan hanya ajal yang memisahkan kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s