SMA.. Merubah Segalanya

Udara dingin menyembut ku, terasa sejuk. Burung kecil terbang di atas ku. Terbang bebas bersama burung yang lain. Terbang cepat, melewati sela-sela pepohonan. Dan kembali lagi ke udara yang masih bebas dari polusi.

Mentari bersembunyi di balik pepohonan. Belum menampakkan dirinya, tapi cahayanya mulai menyinari tempat ku berlari. Sebuah jalan beraspal. Lebarnya sektiar lima meter. Dibuat khusus untuk berolahraga. Mengitari sebuah lapangan sepakbola berukuran kecil.

Rerumputan hijau, bertebaran di lapangan itu. Walaupun tak beraturan, tapi warnanya memukau mata ku. Hijau alami. Tumbuh bebas, mengisi seluruh lapangan. Ditemani sepasang gawang, lengkap dengan jaringnya. Rumputnya sedikit berembun, mungkin sisa hujan semalam.

Beralas sepatu kecil, berwarna hitam. Bagian depannya sedikit rusak dan warnanya mulai usang. Berlari pelan di aspal yang basah itu. Langkah ku kecil, menikmati sejuknya udara pagi. Setiap tarikan napas, dada ku terasa sejuk. Melewati beberapa genangan air di bahu jalan.

Melintas di samping beberapa cewek, yang juga berlari di tempat itu. Menit demi menit, semakin banyak mahasiswa yang datang ke tempat ini. Melakukan seperti yang ku lakukan. Berolahraga. Sesekali aku berjalan, mengatur pernapasan. Menarik napas panjang, dan perlahan menghembuskannya.

Mengelilingi tempat itu berulang kali. Hingga akhrinya, tubuh kecil ini merasa letih. Berjalan mendekati pohon rindang. Duduk di bawahnya, meluruskan kaki yang kecil ini. Menyandarkan diri, dibatangnya yang besar. Dan melentangkan tangan, seperti sedang terbang di udara. Melepas kacamata, dan memejamkan mataku.

“Wwoi.. Kenapa ko?” tegur Dedi, temanku.

“Capek ka… Mengerti mkow. Ndak terbiasa ka lari jauh” aku masih memejamkan mata.

“Aha ha.. Makanya, banyak makan dan sering olahraga”.

“SMP ji sering ka olahraga. Pas SMA, jarang. Lebih enak di rumah” aku buka mataku. Memasang kembali kacamata ku, dan memandangi orang-orang yang masih berlari.

“Begitulah. Kalau SMA orang, berubah semua mi sifatnya ah ahah” Dedi melakukan sedikit peregangan, dan duduk di dekat ku.

“Eeh.. Boleh ka bertanya?” kataku, menoleh ke Dedi.

“Hhm.. Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini. Senang ka liat cewek yang pakai jlibab atau baju merah jambu. Kalau saya liat, kayak, mau terus ka senyum. Kira-kira, masih normal ja itu?”

“Aha ha…. Dasar kau” Dedi menertawakan ku “Masih normal ji itu. Karena sangat wajar kalau ada cowok yang senang liat cewek. Yang ndak normal itu, kalau kau senang liat cowok” Dedi lagi-lagi mengejek ku “Hhm.. Kenapa harus warna pink?”

“Tidak tau mi. Tapi… Kalau warna merah jambu, kayak lucu ku lihat. Apa di’, kayak semakin manis ku lihat cewek kalau pakai sesuatu yang warna merah jambu”.

“Aha haa…” Dedi hanya tertawa.

“Atau karena , begitu memang SMA? Banyak yang tidak bisa dijelaskan dan dipahami? Banyak perubahan, dari pola pikir, kesukaan, dan kebiasaan?” aku kembali bertanya.

“Aha a.. Begitu mungkin”

“Atau, jangan-jangan kau juga mengalami hal yang sama?”

“Bisa iya, bisa tidak” jawabnya, singkat “Eeh.. Mana uang mu?”

“Berapa?”

“Lima ribu. Mau ka beli minuman. Kering tenggorokanku” aku memberinya uang sepuluh ribu “Saya juga na, yang murah mo beli”.

Entah apa yang terjadi dengan ku. Senang melihat cewek yang mengenakan jilbab atau baju berwarna merah jambu -__- Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak bisa menjawabnya. Tapi yang jelas, SMA merubah segalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s