Perjalanan Takalar Part 1

“Aduh… Ade, lama sekali ko ditunggu” kataku, naik ke mobil dan menutup pintu.

“Iyoo bro. Tadi, macet ki. Guru ku juga, lama sekali keluar kelas”.

“Aha ha.. Bah, mengerti ja saya”. Enaz memacu mobil begitu cepat. Melintas aspal jalan yang sedikit kering. Menyelip di antara mobil-mobil kecil dan besar. Sering rem mendadak, membuat jantung kami berdetak cepat.

Melewati lorong-lorong kecil untuk sampai di jalan cendrawasi. Menjumput senior yang menjadi latarbelakang perjalanan ini. Kak Akmal, begitu kami memanggilnya. Mahasiswa fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, yang juga reporter keker.

Perjalanan kembali berlanjut, menuju sebuah tempat indah, berpasir putih dengan ombaknya yang saling berkejaran. Lagi-lagi, mobil melaju dengan cepat. Aku duduk di belakang, bersama Farid. Sepertinya, ini perjalanan yang panjang.

Aku lepaskan kacamataku, meluruskan kaki, dan menyandarkan wajahku yang (sok) imut ini ditumpukan tas. Memejamkan mata, dan tak beberapa lama, aku sudah berada dalam mimpi yang indah. Kepalaku sedikit terguncang, namun aku terus memejamkan mataku.

Aku terbangun. Mesin mobil masih menyala. Aku beranjak dari tumpukan tas itu. Tidak ada satupun orang-orang di mobil, kecuali aku dan kacamataku. Aku mengulas rambutku yang panjang. Mencoba menyadarkan diriku yang masih setengah tertidur.

Aku melihat dibalik jendela mobil. Banyak motor yang antri mengisi bensin, di sisi yang lain. Aku lihat mereka (teman seperjalanan) asyik berfoto bersama. Aku spontan lompat keluar dan mengambil sendal ku. Berlari dengan cepat, agar tidak ketinggalan momen.

Pandanganku masih kabur, masih terbayang mimpi di mobil tadi. Aku usap mataku, memakai kacamata, melebarkan tangan, dan menghadap ke arah sinar matahari sore. Aku buka mataku, sawah terlihat sejauh mata memandang. Pemandangan yang jarang aku saksikan di kotaku, kota Makassar.

Kami belum sampai di pantai punaga, tempat yang kami tuju. Tapi dari tempat kami sekarang, pom bensin tepi sawah, suasananya sejuk. Aku belum bisa membayangkan suasana pantai punaga, yang katanya indah dengan pasir putihnya. Perjalanan kembali berlanjut.

Sekarang aku berpindah mobil. Naik ke atas mobil open kap berwarna merah usang. Melaju cepat, mengalahkan mobil yang ku kendarai tadi. Duduk di belakang, sambil memegang besi penyangga agar tidak terjatuh. Melilitkan kamera di lenganku, dan mengambil beberapa gambar dari belakang mobil ini.

Mobilnya terguncang, melewati jalan aspal yang sedikit rusak. Aku tertawa, tentu saja. Jarang-jarang aku bisa merasakan sensi ini. Duduk santai dibelakang mobil open kap, tanpa takut harus terjatuh. Memandang ke langit, melihat ranting-ranting pohon yang kami lewati. Beberapa kali aku mencboa berdiri. Tapi, setiap kali aku mencoba, aku hampir terjatuh.

Mobil ini memang tua. Tapi melaju dengan kecepatan tinggi. Perlahan, pemandangan sawah tergantikan dengan luasnya lautan. Angin berhembus kencang, terlihat ombak saling berkejaran. Kami berhenti sejenak di sini, di tanggul menuju Punaga. Tapi, hari semakin gelap. Kami terlambat.

Kami hanya bisa menikmati matahari terbelum dari disini. Duduk di atas vila kecil, terbuat dari kayu. Berdiri kokoh di pinggir tanggul. Mungkin, aku tidak akan merasa sebebas ini, untuk lima bulan ke depan. Hari-hariku akan penuh dengan kertas dan cakaran, yang entah kenapa selalu tanpa hasil yang tidak jelas.

Berakhir dengan nilai cos, a kuadrat, dam sebagainya. Tapi, aku akan menikmati sore ini, disini. Bersama beberapa temanku, memandangi indahnya matahari tenggelam. Menikmati karya kecil Sang Pencipta. Pemandangan yang takkan bisa dibuat oleh manusia.

Aku pikir. Aku seharusnya sesekali keluar dari lingkunganku. Berkunjung ke tempat baru untuk sesaat. Memperhatikan pola hidup di tempat yang berbeda. Dan membandingkan semuanya. Dan, dalam hatiku, mulai terangkai kata-kata indah (menurutku).

Sungguh indah kabupaten ini, Takalar. Kabupaten dengan sejumlah tempat wisata pantai.

*Bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s