Aku Aneh, Tapi Aku Mengerti

Malam itu, semuanya terasa berbeda. Seperti ada suatu yang merasuk dalam hatiku. Merasuk masuk, dan memaksa air mataku mengalir pelan. Memaksa aku, mengerti akan suatu kebenaran. Mengerti apa artinya sebuah kejelekan, yang ada dalam diriku.

Senin, 12 Januari 2015. Sore berganti malam. Jalan depan rumah, mulai sepi. Hanya ada beberapa motor yang melintas dengan cepatnya. Hampir menabrakku, yang menyebrang jalan sambil menggandeng kantong berisi sampah. Membuang sampah, agar paginya diberi uang jajan (lebih).

Duduk manis di depan komputer seorang diri. Ruangan tempatku berpijak, gelap. Hanya satu lampu yang menyinari ruang panjang ini. Suasana hening. Aku mulai merangkai beberapa kata untuk sebuah cerpen. Deselingi bermain game dan chat dengan beberapa teman.

Sesekali, merenungi semua hal yang aku miliki. Pandanganku kosong, mengarah ke atas. Menarik napas dengan perlahan. Entah kenapa, air mataku perlahan mengalir. Aku berhenti bermain game. Menutup semua file, termasuk file ceritaku.

Bibirku perlahan tersenyum. “Kenapa baru ka sadar dengan semua ini” aku terus berkata seperti itu, dalam hati. Saat itu juga, aku mengerti tentang sebuah kebenaran. Sesuatu yang tidak bisa ku bantahkan dari diriku. Aku semakin tak mampu, membendung air mataku.

Aku tau, aku cowok. Tapi, aku tak kuasa menyembunyikan perasaan ini. Perasaan yang baru ku rasakan. Lebih tepatnya, baru ku sadari. Setelah sekian lama, aku baru menyadari hal itu. Aku bahagia menyadarinya sekarang. Terima kasih.

Aku memiliki banyak kekurangan. Aku akui itu. Tapi, itu yang membuatku senang. Suaraku jelek. Aku tidak bisa bernyanyi seperti mereka. Tidak bisa sebagus suara mereka. Mereka pikir, harusnya aku malu punya suara jelek. Tapi mereka tidak bisa mengerti perasaanku.

Dengan suaraku yang jelek, aku bisa tersenyum saat mendengarnya. Menertawakan suaraku yang sengaja ku rekam di HPku. Suaranya jelek, lebih tepatnya hancur. Tapi aku tertawa mendengarnya. Dengan mendengar rekaman sendiri, itu sudah membuat ku tersenyum bahagia. Aku bersyukur.

Wajah dan tingkah laku ku alay. Mereka pikir, harusnya aku malu dengan ke-alay-an itu. Tapi bagiku, aku bahagia bisa alay. Berakting menjadi siapa saja di depan cermin. Polisi, tentara, penceramah, dan apapun yang ku mau. Melihat tingkah laku ku di cermin. Selalu membuat ku tersenyum dengan diriku sendiri.

Bercermin di pagi hari sebelum ke sekolah. Merapikan rambutku yang sedikit panjang. Berekspresi aneh di depan cermin. Itu membuat ku bahagia. Bahagia dengan wajah ku yang jelek dan alay.

Mereka pikir, banyak orang membenci teman alay. Entahlah, tapi yang aku alami berbeda. Sangat berbeda. Aku bisa dapat (banyak) teman baru, karena aku alay. Aku alay, dan tidak perlu malu memperkenalkan diri, tak perlu malu menyapa orang lain. Aku bisa berjalan kemana saja, tanpa perlu khawatir dengan penampilanku yang apa adanya.

Aku lahir di keluarga yang sederhana, yang cukup untuk membiayai hidup. Aku tidak lahir di keluarga kaya raya. Tapi aku tidak menyesal. Aku bersyukur. Bisa merasakan kesederhanaan ini. Tak perlu takut ketinggalan teknologi. Tak perlu takut mengenakan sendal kemana-mana. Tak perlu takut, mengenakan baju kaos polos.

Berjalan kemana saja, ke tempat yang ku suka. Tak takut dicap gaptek dan sebagainya. Aku sederhana, aku hanya siswa yang bodoh di kelasku. Punya nilai yang tidak terlalu tinggi. Tapi itu yang syukuri. Aku tak perlu cemas jika suatu saat, nilai-nilai itu hilang.

Bagi anak SMP kelas tiga. Sekolah tempatku belajar sekarang, hanyalah sekolah pinggir kota. Sekolah yang jauh dari kata ‘unggulan’. Jujur, aku bahagia masuk di sekolah ini. Aku tidak perlu embel-embel ‘unggulan’ di nama sekolah dan di lambang sekolah ku.

Aku bahagia. Sekolah ku pinggir kota, jauh dari pusat tempat nonkrong dan sebagainya. Terjauh dari godaan bolos. Mereka bilang, sekolah ku biasa-biasa saja. Itu bagi mereka. Namun bagiku, di sekolah ini, aku belajar banyak tentang kehidupan. Punya teman yang selalu mendorongku untuk berkarya.

Aku alay, aku jelek, suaraku jelek, dan sekolah ku pinggir kota. Hanya itu yang ku miliki. Aku banyak kekurangan, tapi aku malah bersyukur dengan kekurangan itu. Aku bisa tersenyum dan merasa bahagia, karena kekurangan itu sendiri.

Itu yang aku pelajari malam itu. Dan itu berhasil membuat ku meneteskan air mata. Membuatku terdiam selama dua puluh menit. Aku harap, orang lain bisa mengerti arti kekurangan. Agar mereka bisa tau, apa yang ku rasakan. Aku hanya bisa berharap.

3 thoughts on “Aku Aneh, Tapi Aku Mengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s