Desi Part 2 : Kecewa? Ending? Menyerah?

Tergesa-gesa buat tulisan ini. Hasilnya jadi jelek -__-

—————————————————————————————————————–

“Bapak tidak pernah mengerti perasaan saya” Aku turun dari angkot dan membanting pintu depan.

Menyusuri jalan setapak, pinggir jalan. Berjalan tanpa alas kaki. Melangkah pelan, tak tau arah dan tujuan. Yang aku tau, hanya menyusuri jalan ini. Menggandeng sepatu hag tinggiku, yang semakin lama semakin berat.

Kaki ku mulai letih melangkah. Kepalaku pusing. Hatiku kacau. “Udin”, itu nama yang paling ku benci saat ini. Aku pikir, Udin berbeda dari cowok lainnya. Mengaku setia dengan puluhan janjinya. Tapi, Udin berbohong. Aku membencinya.

Berjalan penuh perasaan kecewa, menyesal, sedih. Aku tak peduli berjalan ke mana. Hatiku benar-benar kacau. Air mataku memaksa untuk keluar. Ingin mengalir sebanyak yang ia inginkan. Aku benar-benar kecewa dengan Udin.

Hari semakin sore. Aku masih berjalan di jalan setapak itu. Melewati pepohonan yang tumbuh di dekat jalan setapak ini. Aku terus berjalan. Orang-orang, mulai melirik ke arahku. Beberapa pengendara motor, naik di jalan setapak ini. Menghindari macet, melaju cepat diatasnya, dan hampir menabrakku.

Tapi, aku lebih memilih tertabrak, daripada harus dikecewakan seperti ini. Udin, cowok manis yang dulu ku kenal. Sekarang merubah senyumku menjadi tangis. Cowok, yang berhasil membuatku bahagia sekaligus sedih. Tak pernah ku bayangkan, Udin membuatku sedih.

“Piippp.. Piiippp” suara klakson motor, berdengung tepat di telingaku.

Apa lagi ini? Apakah semua ini belum cukup? Dikecewakan, hampir tertabrak, dan sekarang suara klakson ini. Menyebalkan. “Piipp… Piippp” sekali lagi, suara klakson itu berdengung, tepat di sampingku.

“Wee.. Biasa mkow. Kalau macet, harus sabar” kataku, menoleh ke sumber suara. Menatapnya dengan sinis. Dia tidak melakukan aksi apapun. Tetap bersembunyi dibalik helmnya. Aku kembali melangkah. Tak ingin suara klakson motornya yang bising, terdengar untuk ketiga kalinya.

Air mata, mulai membasahi kakiku. Menetes, tanpa aku sadari. Aku harus kuat. Aku tidak ingin orang lain melihatku seperti ini. Aku cewek yang kuat. Aku tidak rapuh, tidak. Aku bisa berdiri kokoh, bersama atau tanpa Udin.

“Piiipp..” lagi-lagi suara klakson itu. Aku langsung mendekatinya. Mengayungkan tas ku ke arahnya, menghantam helm dan hampir membuatnya tumbang. “Weee.. Biasa mkow. Jangan ko cari gara-gara”.

“Bersyukur ko itu, tas yang ku pakai pukul ko. Kalau sepatu ku? Mungkin memar-memar mi badanmu” aku terus mengoceh dihadapannya. “Saya tau ji naik motor ko. Tapi jangan mkow sok begitu, klakson-klakson lagi” ocehanku terus berlanjut.

Orang itu, hanya terdiam. Menstabilkan motor yang hampir terjatuh. Dengan perlahan membuka kaca helmnya. Wajahnya tersenyum, tak berkata-kata.

“Aahh.. Kau pade Iksan, ku kira tommi siapa” ekspresiku mendadak berubah. Dia Iksan, teman cowok yang paling baik di SMP. “Aha ha.. Sakitnya Desi” katanya, tersenyum.

“Kau juga, kalau mau sapa ka. Langsung sebut namaku. Jangan pakai klakson begitu”.

“Aha ha.. Maafkan ka. Eeh, kenapa matamu? Bengkak? Sudah ko menangis pasti”

“Menangis?” aku berbalik “Tidak… tidaak”

“Mengaku mkow. Kentara sekali dari matamu Desi” dia benar-benar tau perasaan ku. Tau apa yang ku rasakan sekarang. “Mau ko ke mana Desi?”.

Aku berbalik, berdiri di hadapan Iksan “Mau ka pulang”.

“Laahh.. Terus kenapa disini ko? Ngeker lagi, rusak sepatumu ka?”

“Tidak.. Na tinggalkan ka ‘teman’ ku”.

“Beeh.. Teganya na kasih begitu ko. Naik mkow pade, ku antar ko pulang”.

“Serius ko Iksan, mau antar ka pulang?”

“Edd… Kau kayak apa saja. Sok-sok bertanya lagi. Kalau ndak mau ko. Pulang duluan maka pade” Iksan menarik pedal gas. Seakan meninggalkanku seorang diri di pinggir jalan. “Aahh.. Ikut ma pade” kataku, spontan.

Aku naik di motornya. Motor besar dengan joknya yang luas. Kawasi Ninja berwarna merah, motor yang keren. Apaagi untuk Iksan, dia baik dan keren.

Motor melaju dengan cepat. Menyelip diantara mobil-mobil yang terjebak macet. Aku menarik napas lega. Tidak perlu berjalan pulang ke rumah, yang jaraknya masih jauh. Selama di motor. Aku hanya tertunduk. Hatiku masih kecewa dengan Udin. Aku membecinya. Sangat.

Motor berhenti, di pinggiran danau Unhas. Tempat sejuk yang dikelilingi pohon-pohon lebat. “Sini ko” Iksan memanggilku, duduk di pinggiran danau. “Biasa… Kalau sedih ka, disini ja merenung” katanya, curhat.

Tak pernah ku sangka. Cowok yang lahir di keluarga kaya raya ini, pernah merasakan sedih. “Desi, kenapa ko menangis. Maksudku, kenapa ko sedih sekali?”

Aku sebenarnya tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Tapi aku harus bagaimana? Iksan sudah membantuku. Aku tak mungkin berbohong. “Udin”.

“Udin?” Iksan menoleh ke arahku. Menatapku penuh penasaran. “Udin? Siapa itu?”.

“Mantanku” jawabku singkat.

“Memangnya dia kenapa? Salahnya apa?” Iksan kembali bertanya. Pertanyaannya benar-benar menusuk. Menusuk tepat di sumber permasalahan

“Kecewa ka sama dia. Sepertinya, salah berharap ka. Ndak mau maka lagi berharap sama orang lain”.

“Aha hah ha”.

“Kenapa ko ketawa?”.

“Itu karena kau, Desi”.

“Kenapa ka? Apa salahku?” dahiku mengkerut, pandanganku sinis, menatap tepat di matanya.

“Kau tau Desi? Jika kau tak tak ingin kecewa, maka jangan berharap. Dan, ketika kau tidak berharap. Kau sama saja seperti orang yang terjajah. Maksudku, untuk bermimpi saja kau tidak bisa. Untuk mengharap saja, kau takut. Lihatlah para pejuang dulu. Sebelum bangsa ini merdeka. Mereka dulu hanya berharap, melakukan perang. Mengorbarkan nyawanya, agar bangsa ini merdeka”. Aku hanya diam mendengar Iksan.

“Mereka berperang, dengan harapan bangsa ini bisa merdeka. Berapa kali mereka kalah? Berapa kali mereka kecewa? Puluhan, bahkan ratusan kali. Setelah merasakan kecewa selama itu. Akhirnya bangsa kita merdeka. Kau bisa menikmati hasil darah mereka bukan? Bisa duduk santai di tempat ini, tanpa takut tertembak”.

“Jadi.. Kau harus terus bermimpi Desi. Teruslah memiliki harapan. Jangan berhenti berjuang, hanya karena satu kekecewaan. Kecewa bukan akhir dari segalanya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s