Buta dan Terjerumus

Hanya sebuah cerita fiksi. Hanya FIKSI.

———————————————————————————————-

Kemana perginya HAM kita? HAM? Alat untuk meloloskan diri dari maut?

Minggu dini hari, pukul 00.30 WIB. Enam orang yang ditetapkan sebagai bandar narkotika, mengikuti eksekuti mati. Mengakhiri hidupnya di hadapan regu penembak. Diikat pada sebuah tiang, dan matanya tertutup. Tak bisa berlari, tak bisa berteriak. Hanya pasrah, menunggu peluru menembus kulit mereka.

Naik mobil untuk terakhir kalinya, menuju tempat eksekusi. Sampai di pelabuhan, lalu menyebrang ke pulau kecil yang mengerikan dengan kapal. Pulau Nusakambangan. Tempat lembaga pemasyarakatan (penjara) dengan tingkat keamanan terketat di Indonesia.

Bertemu keluarga untuk terakhri kalinya. Bertemu orang terdekat untuk terakhir kalinya. Benar-benar menusuk hati. Sakit.

Ini bukan pertama kalinya, aku (Rano) harus berurusan dengan eksekusi mati. Aku sudah berulang kali berhadapan dengan eksekusi, dan selalu berhasil lolos. Mengajukan grasi (pengurangan hukuman, pengampunan, dan minta bebaskan dari hukuman -Wikipedia) ke presiden.

Dulu, grasiku selalu diterimah oleh presiden, dan eksekusi selalu ditunda. Tapi tidak ditahun ini. Semuanya berubah. Presiden dan menterinya berganti. Kebijakan berganti. Yang dulunya, aku bisa bebas dari eksekusi itu. Sekarang benar-benar tak tertunda. Eksekusi dilaksanakan sesuai hasil persidangan kasusku.

Tak pernah aku sangka, hidupku berakhir dengan cara ini. Dieksekusi. Aku lebih memilih menjalani penjara seumur hidup, dan mengendalikan bisnisku di balik jeruri. Daripada harus berakhir seperti ini.

Aku seperti membeli kematianku sendiri. Uang milyaran rupiah milikku, aku pakai membeli beberapa kilogram narkoba. Hanya beberapa kilogram. Jumlah yang tak terlalu banyak. Dan, narkoba itu juga yang mengakhiri hidupku. Benar-benar tragis.

Aku menginvestasikan uang miliku di bisnis ini. Bukan karena aku hobi. Bukan karena aku iseng. Tapi, bisnis ini bisnis yang besar. Mulai dari dosen, mahasiswa, pelajar, dan yang lainnya, mengkomsumsi itu. Sudah banyak yang terjerumus dalam jebakan yang aku buat.

Meraup keuntungan besar dari mereka. Menyunbangkan uang dalam jumlah yang banyak, hanya untuk barang yang dinikmati sekali. Barang yang merusak diri mereka sendiri. Mereka benar-benar bodoh, terlena barang jualan ku. Tapi bisnis teteplah bisnis. Sebagai pelaku bisnis profesional, yang aku tau hanya menjual. Hanya menjual, dan tak peduli dengan nasib mereka.

Tapi, hal itu tidak terulang lagi. Aku tak bisa lagi, memeras mereka. Tak bisa lagi memberikan ‘makanan’ untuk mereka. Aku sudah tiada. Roh ku, telah terpisa dengan jasadku. Aku sudah pergi ke tempat lain. Tempat, yang belum bisa ku jelaskan.

****

Enam jam sebelum jadwal eksekusiku. Aku masih duduk dalam ruangan kecil ini. Di jaga beberapa orang mengenakan seragam polisi. Duduk di sofa kecil, tidak nyaman.

“Pak Rano.Itukan sudah ada surat perintah. Bapak harus ikut sekarang” jelas polisi itu.

“Saya ini hanya kurir pak. Saya bukan bandar” aku berusaha mengelak. Tentu saja, siapa yang mau melangkah ke tempat eksekusinya dengan suka rela.

“Kami tidak akan membawa orang, jika tidak ada surat perintah pak. Ini sudah ada surat resminya”.

“Sekali lagi saya perjelas, saya hanya kurir”. Memang benar, aku hanya kurir. Kurir yang juga merangkap sebagai bandar narkoba. Mengantarkan sendiri barang yang aku jual ke pembeli. Suasanaa di ruangan sempat ini, sangat tegang.

“Bapak tau HAM?” aku bertanya dengan serius. “Bapak tau hak saya untuk hidup?”.

Polisi itu hanya tertawa. “Apanya yang lucu?” kataku, jengkel. Bisa-bisanya ia tertawa di situasi seperti ini.

“HAM? Ah ahaha…..” Polisi itu lagi-lagi tertawa.

“Eehh.. Saya juga manusia, saya juga punya hak untuk hidup”.

Tiba-tiba ekspresi polisi itu berubah 180 derajat. “HAM? Apa yang bapak tau tentang HAM? Sudah berapa banyak nyawa yang melayang karena barang jualan bapak. Berapa orang harus menderita, karena barang jualan bapak? Sudah berapa banyak? Sepuluh? Lima puluh? Berapa?”.

“HAM? Bapak bicara tentang penegakan HAM. Tapi bapak sendiri yang merebut kehidupan orang lain. Merebut nyawa mereka, hanya untuk lembaran uang. Apa kah itu yang disebut HAM? Aahh.. Sudahlah. Sekarang bapak harus ikut sesuai surat perintah ini” katanya, memberiku selembar kertas.

Aku terdiam, mendengar setiap kalimat yang keluar dari polisi itu. Benar-benar menusuk hatiku yang paling dalam. Apakah aku ini monster? Aku benar-benar dibutakan oleh uang. Sungguh malang nasib ku. Mengorbankan nyawa orang lain, untuk kepuasan akan materi.

Aku ambil kertas itu. Hanya selembar. Dengan logo lembaga diatasnya, dan dibawahnya bertanda tangan. Aku baca baik-baik. Dan setelah merenungkan semuanya, aku ikut dengan mereka. Hanya bisa pasrah, dengan apa yang telah aku perbuat.

Terjerumus, dalam lubang yang aku gali sendiri. Tragis

——————————————————–

Hanya cerita FIKSI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s