Berawal Dari Kepercayaan

Duduk manis di meja kecil, di sudut ruang besar. Menyendiri dibalik keramaian pengunjung lainnya. Duduk diam, tak melakukan tingkah laku yang mencolok. Ditemani tas pemberian ibuku. Tas yang dibelinya, sewaktu kunjungan kerja ke Malaysia. Tas indah merah merona. Dengan Segelintir pernah-pernik berwarna emas di atasnya.

Duduk manis, dalam balutan jilbab merah jambu, dan baju yang berwarna sama. Jilbab polos, tanpa motif sedikitpun. Terlihat sederhana, seperti kesukaanku. Duduk diantara kursi-kursi yang (masih) tertata rapi. Kursinya sedikit berdebu. Menanti seseorang untuk mendudukinya.

Sesekali memandangi telfonku, yang sejak tadi diatas meja. Tak ada getaran ataupun suara dering. Tak ada notifikasi, yang artinya, tak ada kabar darinya. Perasaanku mulai jenuh menunggu disini, seorang diri. Menanti seseorang, yang berjanji menemuiku disini.

Sesuai perjanjian kemarin, kami bertemu di cafe Lostop, sebuah cafe kawasan pinggir kota. Tempat nongkrong anak Sudiang. Tempat sederhana, dengan suasana yang menyenangkan. Lampu kecil, menghiasai langi-langit ruangan ini. Disetiap dindingnya, diberi gambar yang unik. Memberikan kesan tersendiri untuk pengunjung.

Dari speaker disetiap sudut ruangan. Terdengar melodi yang indah. Membuat kakiku bergerak secara spontan, mengikuti irama. Sedikit menggerakkan jemariku, yang sebenarnya sudah letih bersandar di meja. Aku pandangi jam di tanganku. Hampir jam tujuh malam.

Satu hal yang aku benci dari cowok. Mereka selalu membuatku menunggu. Menunggu jawaban mereka, ketika aku ajak menonton. Menunggu mereka menjemputku. Ataupun menunggu mereka melakukan yang spesial untukku. Dan sampai saat ini, aku masih menunggu seseorang membuat karya untukku. Aku harap, Udin bisa membuatnya untukku. Walaupun itu hanya sebuah cerpen singkat. Tapi itu berharga. Sangat berharga.

Sesuai janji, seharusnya kami bertemu jam lima. Menikmati senja bersama di tempat ini. Tapi kenyataannya, Udin terlambat. Ada apa dengannya? Dimana dia sekarang? Bukannya dia sendiri yang berkata “Jam lima disana maki na”. Tapi kenapa dia yang melanggarnya?

Pengunjung, sili datang dan pergi. Tapi tidak denganku, aku masih setia menunggu disini. Menunggu Udin, dan menunggu alasan kenapa ia terlambat. Aku benar-benar jenuh. Tak ada yang menghiburku. Aku mencoba menelfon dia berulang kali, tapi tidak diangkat. Mengirim sms, namun tak dibalas. Kau dimana sekarang, Udin? Aku membutuhkanmu disni, untuk menghibur diriku yang jenuh.

“Mbaakk.. Sudah mau pesan?” kata pelayan cafe, datang menghampiriku. Ini sudah ke tiga kalinya, ia menghampiriku dan bertanya pertanyaan yang sama.

“Pesan Nasi goreng dua dan jus alpukat dua mbak”

“Hanya itu saja?” karyawan itu bertanya dengan datar. Aku pandangi wajahnya dengan ekspresi sama datarnya “Kira-kira apa lagi bagus selain alpukat?”

“Hhm.. Banyak mbak. Ada jus apel, anggur, dan buah lainnya. Mbak bisa liat disini” ia memberiku daftar menu.

“Yaa sudah. Pesan itu saja dulu. Nanti kalau ada tambahan, baru saya panggil lagi”

Aku sengaja memesan dua. Bukan karena terlalu rakus atau apa. Hanya saja, aku percaya dengan Udin. Dia akan datang, walaupun ia terlambat beberapa jam. Hanya beberapa jam. Aku harap aku benar.

Waktu terus bergulir, 07.12. Jika Udin tidak datang sebelum setengah delapan. Sepertinya aku akan pulang. Mencoba tetap menelfonnya, memberi kabar jika aku sekarang ada dirumah. Dan ia tak perlu menunggu lama di cafe ini, seperti yang ku lakukan sekarang. Menunggu.

Aku jenuh, sangat. Bertopang dagu, dengan ekspresi yang menyebalkan. Tak ada senyum sedikitpun di pipiku. Tak ada ekspresi bahagia. Bahkan nyamuk yang tanpa salah di depanku, bisa aku maki sepuasnya. Melepaskan semua perasaan menyebalkan dari hatiku.

Aku pandangi pintu masuk cafe ini. Sebuah pintu kaca yang besar. Transparan. Aku bisa melihat siapa saja yang akan masuk dari luar. Ada seorang cowok, turun dari motornya. Sekilas mirip Udin. Aahh.. Kenapa disaat seperti ini, setiap cowok yang akan melewati pintu itu. Terlihat seperti Udin.

Aku beranjak dari kursiku. Melangkah ke toilet. Ingin memperbaiki jilbabku yang berantakan. Dengan cermin besar yang tersedia. Mempermudahkan aku memperbaikinya. Membuka, dan memasang ulang jilbabku. Merapikan rambutku yang agak berantakan.

Setelah selesai, aku melangkah keluar. Kembali ke meja itu. Tak ada sedikitpun perubahan. Tak ada kursi yang tergeser dan sebagainya. Bahkan tasku yang sengaja aku tinggal. Tak bergerak sama sekali.

Aku ambil charger dari tasku.

“Haloo Desi. Maafkan ka terlambat” Udin yang tiba-tiba berada di hadapanku.

“Aahh… Dari mana ko? Lama sekali ka menunggu”.

“Maafkan ka. Ada tadi ku urus. Mengerti mkow, banyak proyek ah ahha” dia tertawa, tapi aku tidak. Aku masih dengan ekspresi yang menyebalkan.

“Iyooo ji calon orang sukses yang banyak proyeknya. Saking banyaknya, na lupakan maka disini”,

“Aha ha.. Tapi kalau lama. Kenapa Desi setia tunggu ka disini?” pertanyaan Udin berhasil membuatku terdiam.

Apa yang membuatku, setia menunggunya disini? Pertanyaan yang tak pernah ku bayangkan.

“Hhm.. Ndak tau mi” jawabku, cuek.

“Aha ha.. Masa’ ndak kau tau jawabannya” Udin menatapku dengan pandangan anehnya. Bibirnya tersenyum. Aku belum tau apa maksudnya.

“Apa?”

“Desi setia menunggu, karena satu hal. Karena Desi PERCAYA kalau Udin pasti datang”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s