Singkat, Namun Penuh Makna

Terbaring di atas kasur empuk. Memandangi matanya yang indah, seakan memancarkan cahaya. Tersenyum, menatap senyum manisnya dari foto lama. Foto kami berdua, dua tahun yang lalu. Momen yang tak akan aku lupakan.

Tak bosan aku menatap foto itu, aku letakkan di samping kasurku. Setiap kali terbangun, aku selalu menyempatkan menatap wajahnya. Seakan, memberikan aku semangat untuk menjalani hari-hariku yang berat.

Entah mengapa, dinding kamarku terasa penuh gambar. Gambar wajahnya, yang selalu aku rindukan. Aku menarik napas panjang, menghembuskannya dengan perlahan.

“Andai saja.. Takdir berkata lain”

Wajahnya terus membayangiku. Membuat aku begitu rapuh. Aku letakkan fotonya kembali. Menutupi wajahku dengan bantal. Cinta, membuat semua orang terlihat lemah. Bahkan untukku, membuat aku tak bisa menyembunyikan perasaan rindu.

“Iksan.. Turun mkow. Ada mi makanan” Suara bapak, berteriak di dapur.

“Iyaa.. Tunggu” balasku, juga dengan suara keras.

Aku masih di dalam kamar. Aku ambil tisu di meja belajar. Membersihkan mataku, dari tetesan air mata rindu. Rindu yang ku pendam sejak dua tahun lalu. Rindu menatap wajah dan senyumnya.

“Iksaan…” sekali lagi bapak teriak dari dapur.

“Iyaa.. Tunggu dulu”.

Aku bergegas ke kamar mandi. Membuka kerang, dan menaruh wajahku di bawahnya. Membasahi wajahku, menutupi jejak air mataku. Menyapu-nyapu rambutku yang panjang dengan air. Terasa segar, bagaikan mandi di sore hari.

Dengan hati-hati, menuruni tangga dan melompati beberapa anak tangga terakhir. Dengan lincah melangkah ke dapur. Duduk di kursi, yang biasa ku duduki. Mengambil piring yang tersusun rapih di atas meja. Mengambil ikan dan ayam yang enak.

Aroma tumisan mulai menyengat hidungku. Seperti biasa, makanan malam yang menyenangkan bersama bapak di rumah. Ibu sedang tidak di rumah. Ibu berkunjung ke kampung untuk alasan bisnis. Keluargaku adalah pebisnis. Bapak, ibu, dan kakakku adalah pebisnis. Dan aku hanya perlu menunggu saat yang tepat, untuk memulai bisnisku sendiri.

Aku makan dengan cepat. Mencabik-cabik ayam goreng, lalu menambahkannya dengan ‘ladang’ (sebutan kami untuk tumisan) yang membuat ayam semakin terasa. Merasakan cita rasa rempah-rempah, yang tumbuh melimpah di negaraku, Indonesia.

Bapak duduk di sampingku. Mengenakan baju kaos, baru pulang dari kantornya.

“Bagaimana pelajaranmu. Bagus ji?” tanya bapak.

“Iya.. Datang dan kerja tugas. Seperti biasa ah aha”.

“Aha ha.. Bapak juga begitu ji dulu. Eeh, cewek yang datang ke rumah kemarin, pacarmu?”

Kenapa bapak bertanya seperti itu? Maksudku, itu pertanyaan yang tak wajar untuk ditanyakan bapak ke anaknya. Apalagi disaat seperti ini, sangat tidak mendukung situasi.

“Bukan” jawabku singkat.

“Aha ha.. Ku kira pacarmu Iksan” bapak tersenyum, seakan ada maksud lain. “tapi, cantik teman mu”.

“Teman sekolahku itu. Kemairn na pinjam FD, jadi na kasih kembali mi” aku mencoba menjelaskan kejadiannya, meluruskan semuanya, agar tidak ada multitafsir.

“Aha ha. Iya-iya. Mau ja bilang. Boleh ji pacaran. Asal jangan ‘merusak’, nanti orangtuanya marah. Na bunuh ko itu orang tuanya, kalau kau macam-macam”.

Aku terteguk. Berhenti sejenak dari makan ku yang nyaman. Meratapi baik-baik perkataan Bapak. “jangan MERUSAK”, kalimatnya yang bermakna luas. Bapak menyampaikan sesuatu yang penting untukku. Dan aku akan selalu mengingatnya, sampai kapan pun. “jangan MERUSAK”.

—————————

Yaa maaf saja kalau kau tidak paham artinya. Tapi percayalah, itu kata penuh makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s