Berdua Di Malam Minggu

Duduk berdua di ujung ruangan. Dipisahkan meja kayu yang unik. Dengan ukiran-ukiran tentang cinta dibagian atasnya. Seakan menjadi simbol perasaan kami. Menatap wajah dan senyumnya. Memberikan kesan tersendiri buatku.

Menghilangkan rasa kejenuhan yang sejak tadi aku rasakan. Mengisi hatiku dengan perasaan bahagia, menatap senyum manisnya. Dengan rambutnya yang sedikit berantakan, menjadi ciri khasnya. Bertingkah lucu dihadapanku, berhasil membuatku tersenyum.

Mengeluarkan ekspresi anehnya. Melakukan hal-hal aneh yang berhasil membuatku tertawa. Mengembungkan pipi dan tatapannya aneh. Memandang tepat ke mataku. Lalu tangannya mengacak-ngacak rambutnya. Benar-benar lucu. Sesekali meniup ke atas, menerpa poinya yang berbentuk V terbalik.

Selalu menyenangkan bersamanya. Menghabiskan malam minggu bersama, di cafe sederhana di ujung kota. Aku pikir, semua tempat terlihat menyenangkan ketika bersamanya. Dia yang selalu membuatku tersenyum.

“Eeh.. Sudah mkow pesan?” Udin bertanya di sela-sela ekspresi anehnya.

Aku yang masih tertawa menatap ekspresi wajahnya. Tak bisa berhenti tersenyum, karena ulahnya.

“Sudah” aku kembali tertawa.

“Aha ha.. Asyik. Desi memang selalu bisa diandalkan”.

“Yaalahh.. Tapi yang lebih diandalkan itu kau”.

“Hhm.. Kenapa bde?” ekspresinya berubah. Matanya menatapku lebih dalam. Namun bibirnya masih tersenyum.

“Karena kau”, kami bertatapan. Suasananya hening. Saling memandang untuk beberapa detik. Detak jantungku bertedak cepat. Menatapnya yang diam menatapku. Aku tak ingin berpaling. Lebih tepatnya, belum bisa berpaling darinya.

“yaa karena Udin istimewah” kataku, memecah suasana.

Diwaktu yang sama, karyawan kafe datang dengan pesananku, dua nasi goreng. Meletakkannya dengan perlahan. Lalu pergi tanpa sepata kata pun.

“Nasi goreng?” Udin bertanya dengan ekspresi yang aneh.

“Yang kau liat apa?” aku balik bertanya.

Udin mengambil sendok dan garpu. Meletakkan di tangan kanan dan kirinya. Mulai menyendok nasi diatas piring. Menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya. Aku melakukan hal yang sama. Mengambil sendok sambil menatap gerak geriknya.

“Eehh, ada pertanyaan ku Desi”.

“Apa?”.

“Perempuan pertama yang suap ka, setelah mamaku”.

Aku terdiam. Mendengar baik-baik kalimatnya. “Siapa?”.

“Ndak ku tau juga. Tapi, sepertinya….. Biar waktu yang menjawab”.

Udin selalu berhasil mengubah suasana. Ia mampu membuat situasi berubah dengan drastis. Dia memang unik. Senang bisa mengenalnya. Senang, ia memilih ku untuk menemaninya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s