Siapa Dia?

Pagi yang berbeda. Langit tak secerah biasanya. Hanya sedikit cahaya yang menerpa permukaan bumi. Terhalau gumpalan awan berwarna hitam. Menggumpal, menutupi langit-langit kota Makassar. Semakin lama, semakin terasa gelap. Bagai tertelan langit yang mendung.

Suara klakson terdengar di jalan depan rumah. Suara bising yang terus terdengar. Menggemah dari jalan, hingga ke dalam kamar. Diselingi dengan suara knalpot motor. Aku terbangun dengan perasaan gelisah. Terbangun dari mimpi yang aneh. Menyelimuti hatiku dengan satu pertanyaan. Siapa?

Masih terbaring di atas kasur empuk. Mengacak-acak rambutku yang berantakan. Menyadarkan setengah diriku yang masih tertidur. Menatap langit-langit kamar, dengan mata sipit. Jasadku ada di kamar, namun pikiranku ada di tempat lain. Berkelana jawaban dari pertanyaan itu, siapa dia?

Semalam. Mataku tak ingin tertutup. Aku mengetik beberapa tulisan, mengisi kekosongan yang aku rasakan. Menerjemahkan perasaan hatiku, menjadi sebuah tulisan. Menuliskan, apa yang aku rasakan dan apa yang aku pikirkan. Perasaan yang selalu ingin aku lupakan, namun tak sanggup.

Mematikan laptop, dan mulai beristirahat. Menyimpannya di atas meja kecil dekat kasurku. Bersama dengan kamera, jam tangan, HP, dan kacamataku. Meraih bantal yang sempat jatuh ke lantai. Mengambil boneka empuk berbentuk bola di sudut kasur.

Memukul bola itu, melakukan apa saja yang biasa mengantarku ke dalam mimpi. Mengayung-ayungkan kaki seperti berlari, atau menatap dinding polos kamarku. Membayangkan wajah seseorang di tembok itu. Dan itu berhasil, wajahnya mengantar aku dalam tidurku. Menutup hari yang melelahkan, dengan menatap ilusi wajahnya.

Dan mimpi itu datang. Berada dalam lorong panjang. Bertehel putih dan lebarnya tiga meter. Lorong yang panjang. Aku seorang diri. Ditemani lampu ruangan yang redup, menyusuri lorong panjang ini. Melangkah ke arah yang tak pasti, penuh dengan tanda tanya.

Berjalan tak tentu arah. Hanya berharap, menemukan ujung dari (penantian) lorong ini. Sekejap, ada yang menyalipku. Berlari dengan cepat, melintas di sisi kananku. Tercium aroma yang wangi. Membuatku aku berhenti berjalan. Bau itu berasal darinya, cewek yang menyalipku.

Berlari dengan cepat, meninggalkan aku yang diam meresapi harum rambutnya. Aku mencoba mengejarnya, ingin bertanya tentang semua ini. Berlari di belakangnya. Berlari dan terus berlari, namun ia juga terus berlari. Malahan, ia semakin meninggalkanku seorang diri.

Aku terus berlari mengejarnya. Tak menghiraukan aku ada dimana. Tapi sepertinya, aku berada di tempat yang berbeda. Tidak ada lagi tembok polos di sisi kanan dan kiriku. Yang ada, bunga-bunga yang melimpah. Rerumputan terlihat sejauh mata memandang. Langkahku terhenti melihat pemandangan indah ini.

Mataku berkeliling di sekitar. Pemandangan yang indah dan alami. Angin sejuk menghembus ke arahku. Belum pernah merasakan angin sejuk seperti ini. Aku kembali menatap ke depan. Cewek itu Menghilang. Tidak, ia tak menghilang. Ia hanya semakin jauh meninggalkan ku.

Aku kembali mengejarnya. Berlari sekuat tenaga, mengejar ia yang terus mengayuh sepedanya. Berlari tanpa lelah, mengejar ia yang terus saja berada di depanku. Sampai kapan aku harus berlari mengejarnya? Sampai kapan aku memendam pertanyaan ini?

Aku berhenti. Kakiku lelah berlari. Mengejarnya yang tak berpaling seditkipun. Sekuat apapun suaraku menyuruhnya berhenti. Ia tetap saja meninggalkanku. Tapi, aku harus apa sekarang? Aku hanya seorang diri di taman yang indah ini.

Di kelilingi ribuan bunga penuh warna. Dihiasi dengan langit biru yang cerah. Aku menunduk sejenak. Aku tak bisa berbohong, aku ingin mengejarnya. Mengejar ia yang membuatku merasa tertinggal.

Dan akhirnya, aku kembali berjalan menyusurih jalan panjang ini. Berjalan kearahnya, yang meninggalkan aku. Cewek misterius berkudung merah jambu.

Dan suara klakson yang bising itu. Membangunkan aku dari mimpi yang penuh tanda tanya. Bangun dengan perasaan gelisah dan terus bertanya, siapa dia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s