Menolak Lupa 6 Februari 2014

6 Februari 2015. Setahun berlalu, tragedi di sekolah kami. Kejadian yang akan diingat dalam benak yang menyaksikan. Ketika siswa mulai jenuh dengan keadaan sekolah. Mulai jenuh dengan aturan-aturan yang tak jelas. Dan semua tindakan acuh tak acuh para petinggi sekolah.

Berawal dari penghancuran palfon di koridor sekolah dan berakhir dengan pecahan kaca yang berserakan dimana-mana. Menghancurkan kaca-kaca kelas dengan hantaman kayu. Ada juga yang memukul dengan tangan kosong. Melempar batu-batu besar (berukuran seperti HP) ke kelas.

Membuat kekacuan yang mungkin tak harus separah itu. Menghentikan secara paksa proses ajar mengajar. Teriakan histeris terdengar dimana-mana. Lapangan, koridor, kelas, bahkan di parkiran. Banyak siswi yang panik. Beberapa diantaranya menangis, jatuh pingsan, bahkan kerasukan.

Guru-guru berlarian keluar kelas. Berlari keluar sekolah dengan ekspresi panik. Tak cukup lima menit, parkiran mobil (guru) mendadak sepi. Tentu saja, siapa yang bisa menenangkan amukan siswa yang sudah frustasi dan jengkel?

Tidak semua diantara kami ikut merusak sekolah. Kami berkumpul di tengah lapangan. Membentuk kelompok-kelompok kecil sambil saling berdiskusi tentang apa yang terjadi. Berdiam diri di tengah lapangan, menyaksikan teman-teman seperjuangan yang melempar ke sana kemari.

Suasana gaduh. Teriakan histeris sili berganti dengan suara kaca yang pecah. Siswi yang pingsan dan terluka dibawah ke masjid. Disana sudah ada teman PMR yang sudah dengan perban dan perlengkapan lainnya. Mengobati luka gores dari kaca ataupun yang terjatuh karena berlari.

Aku berlari ke dalam kelas. Mengambil tas dan helmku di dekatnya. Melangkah dengan cepat dengan perasaan cemas. Sepersekian detik ketika mengambil helm, ada batu yang melayang tepat di atas kepalaku. Batu besar berwarna merah. Terlihat begitu jelas hampir membentur kacamataku.

Jalan merangkak dengan cepat keluar kelas. Menyelamatkan diri dan menangkan hati yang sempat tegang. Berkeliling di lapangan. Memastikan semua temanku ada disana. Mengumpul mereka menjadi kelompok dan mulai berdikusi.

Suara pecahan kaca masih terdengar. Banyak yang berlari ke depan sekolah. Berkumpul di parkiran mobil, mencari mobil petinggi sekolah. Membawa kayu besar yang siap menghantam kaca mobil. Untungnya, parkiran sudah sepi. Tak ada satupun mobil ataupun motor yang rusak.

Tiga puluh berlalu. Suasana mulai kondusif. Pihak yang berwajib (polisi) tiba di sekolah. Diiringi dengan wartakan koran lokal. Aku berkeliling sekolah. Melihat kelas-kelas tanpa kaca yang utuh. Semuanya rusak, tanpa terkecuali. Batu-batu berserakan diantaranya bangku kelas yang tak beraturan.

Diwaktu yang bersamaan, dilakukan rapat antara siswa (pendemo) dengan pihak sekolah. Membahas semua masalah dan mengungkapkan kejehunan hati. Beberpaa diantaranya

1. Pihak sekolah diminta untuk transparan tentang penggunaan dana komite
2. Pihak sekolah diminta untuk memperbaiki fasilitas aula yang tak layak pakai
3. Menambah jumlah LCD yang sudah menjadi program dari tahun-tahun sebelumnya.
*Saya dapat dari beberapa narasumber*

Ketika rapat dilaksakan, ditempat yang berbeda. Siswa yang berdemo, kembali melakukan aksinya di tengah lapangan. Membakar tong sampah dan gawang futsal. Mengelilingi lapangan dengan antraksi motor, yang cukup menghibur (untuk saya).

Namun, aksi itu dengan cepat dihentikan oleh pihak berwajib. Mengintruksikan siswa untuk pulang. Pulang tanpa ada kejelasan yang lebih lanjut. Area sekolah mulai kosongkan. Menyisakan bekas pembakaran dan pecahan kaca dimana-mana.

Akibat dari aksi ini. Tentu saja, pemberitaan buruk oleh koran lokal. Dimana, dalam pemberitaannya, koran-koran ini hanya mementingkan ranting dibanding kualitas berita mereka. Mengatakan “Siswa membakar sekolah”, padahal yang terjadi hanya membakar tong sampahnya, bukan sekolahya.

SMA 6 Tidak terdaftar sebagai tempat pelaksanaan SBM tahun 2014. Yang juga berarti, panitia SBM menilai sekolah kami tidak kondusif. Dan akibat yang paling fatal, kaca sekolah kami berubah menjadi butiran-butiran kecil.

Hari senin, 10 februari 2014. Kami masuk sekolah seperti biasanya. Datang dengan perasaan yang masih waspada aksi demo. Kami hanya menanti kepastian di tengah lapangan. Kepastian dari rapat yang sedang berlangsung di ruang guru. Dipimpin oleh kepala dinas pendidikan Kota Makassar.

Kami menulis semua aspirasi kami dalam selembar kertas. Dan menandatangani kain putih panjang, yang nantinya akan di bawah ke kantor dinas. Hingga akhirnya kepala dinas menutup rapat, dan berjalan ke tengah lapangan.

Menyampaikan hasil rapatnya. Salah satunya, akan dibentuk tim khusus untuk memeriksa petinggi sekolah yang diduga korupsi. Dan setelah beberapa bulan berlalu, belum ada kejelasan tentang hasil penyelidikan tersebut. Namun satu hal yang pasti, tidak ada perubahan struktural di sekolah kami.

Secara pribadi. Saya tidak menyesali kejadian ini. Tapi kami hanya menyesali para pembuat berita. Mereka melakukan hiperbola (melebih-lebihkan) tentang tindakan pendemo. Dan itu bisa menyampaikan persepsi yang salah kepada masyarakat. Sehingga sekolah kami disebut ANARKIS.

‪#‎Menolak_Lupa_6Februari2014‬

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s