Perantau Asal Tanah Karaeng

Perantau asal tanah karaeng. Berlayar di lautan yang luas. Melewati derasnya ombak dan badai. Berbulan-bulan diatas kapal kayu buatan masyarakat Bulukumba, phinisi. Mengikuti jejak para leluhur, yang konon adalah pelaut tangguh.

Mengarungi indahnya lautan. Perjalanan yang akan mengubah hidupku. Berlayar untuk belajar tentang kehidupan dan mencari wanita sejati. Merantau untuk menimbah ilmu lalu membangun tanah kelahiranku, Makassar.

Aku masih ingat sewaktu kecil. Aku sering duduk diatas kapal tua di tepian pantai. Memandang laut biru yang tenang. Selalu terlintas di benakku untuk mengarunginya. Menaklukan lautan luas dengan jutaan makhluk indah dibawahnya. Aku tumbuh di Desa Manuikrae, desa kecil tepi pantai di kota Makassar. Menjadi pelaut adalah cita-cita ku sejak kecil.

Namaku Hamka. Menjadi seorang yatim piatu setelah kedua orang tuaku dibunuh para penjajah. Bapakku, Hamka Zidik adalah kepala desa yang paling menentang kebijakan para penjajah. Bapak sangat marah ketika penjajah datang ke desa dan meminta masyarakat untuk bekerja dengan mereka.

Berulang kali penjajah itu datang ke desa kami. Memaksa orang desa memberikan rempah-rempah kepada mereka. Dan jika mereka tidak mendapatkan rempah-rempah, tidak segan-segan mereka menembak orang di desa.

Hingga pada suatu hari di tahun 1902. Kala itu di siang bolong. Semua penduduk bersembunyi di rumah masing-masing. Bersembunyi dari para penjajah yang datang membawa senapan. Berniat merampas rempah-rempah yang ada di desa kami dengan paksa.

Suara tembakan mengudara di langit-langit desa. Wajah Bapak memerah. Dengan sigap mengambil parang di lemari. Membuka pintu, lalu berjalan menuju sumber tembakan.

“Mama di dalam saja. Sembunyi dulu. Bahaya di luar. Jaga Hamka” Bapak melangkah penuh keyakinan. Mengenakan sarung, baju kusang, dan parang di tangan kanannya. Berjalan tanpa ragu sedikitpun. Bapak muak dengan perbuatan para penjajah. Ini sudah ketiga kalinya, penduduk desa menjadi korban.

Berulang kali mereka datang, dan berulang kali pula mereka diberi rempah-rempah. Tapi tetap saja, mereka terus membunuh penduduk desa. Bersama beberapa pemuda di desa saat itu. Bapak mengayungkan parangnya ke salah satu tentara penjajah.

Mengayungkan ke jantung tentara itu. Menembus kulit dan jantungnya. Tangan Bapak berlumuran darah. Suara tembakan, satu, dua, tiga, dan terus terdengar. Peluru menghujat ke tubuh pejuang desa kami. Ibu tertunduk, menatapku yang berada di gendongannya.

Aku lalu diletakkan di kasur sendirian. Ibu berlari melangkah keluar. Tapi kakek menghalangi.

“Jaga mi anakmu” langkah Ibu terhenti oleh ucapkan kakek.

“Tidak.. Mau ja keluar sebentar”. Suasana di rumah kecil kami panas. Suara tembakan terus terdengar. Terlihat dari jendela, para penduduk berlarian ke arah suara tembakan itu.

“TIdak bisa ka sendiri begini. Mauka juga berjuangan bersama suami dan penduduk desa” itu kata-kata terakhir ibu sebelum pergi keluar rumah. Mengambil pisau di dapur dan berjuang mempertahankan desa.

Mengusir para penjajah dari desa kami. Aku masih terbaring di kasur. Menangis karena di tinggal pergi ibuku. Kakek lalu menggendongku. Memeluk ku dengan erat. Perang besar terjadi di luar. Mempertaruhkan nyawa untuk kehidupan generasi selanjutnya.

Perang berakhir. Penduduk desa berhasil menghabisi penjajah itu. Tapi, banyak jatuh korban. Bapak dan Ibuku terbunuh terkena sayatan peluru. Menembus kulit mereka dan pergi meninggalku yang masih kecil.

Waktu itu, umurku masih setahun. Belum tau apa-apa. Yang ku tau hanya lembutnya pelukan perempuan yang melahirkanku. Sejak itu pula, aku menjadi yatim piatu dan hanya dirawat kakekku semata.

Aku selalu mendengar cerita-cerita tentang keberanian Bapak dan Ibuku dari kakek. Cerita itu, tertanam baik dalam memoriku dan tak akan aku lupakan. Tapi, ketika umurku genap tujuh tahun. Selepas subuh, kakek yang biasanya pulang sehabis mencari ikan di laut, tak pulang hingga hari ini.

Penduduk desa berbondong-bondong mencarinya di lautan, tapi dua minggu berlalu. Tak ada kabar gembira yang menghampiriku. Penduduk desa hanya berkata “kakek mu tenggelam Hamka”.

Aku kehilangan kedua orang tuaku ketika masih berumur setahun. Dan kehilangan kakek yang merawatku sejak kecil di usia tujuh tahun. Aku sebatang kara, tanpa orang tua dan keluarga.

Tinggal di rumah kecil pinggir pantai seorang diri. Makan dari nasi pemberian tetangga. Hidup ku terasa berat. Setiap malam aku kedinginan. Tidak ada tempat bersandar dan tempat bertukar cerita. Sehabis maghrib. Aku habiskan malam dengan menatap lautan yang luas.

Disini, di desa ini. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Keluarga semuanya pergi, bahkan sebelum aku mengerti tentang apa itu hidup. Menjalani hidup sebatang kara. Terasa berat dan sulit untukku jalani.

Tapi hatiku berusaha teguh. Penduduk desa mengatakan “Heeii Hamka. Jangan menangis. Ayah dan Ibumu adalah pejuang desa ini. Jika bukan karena mereka yang membangkitkan semangat penduduk desa. Desa ini akan terus terjajah oleh penjajah sialan itu”.

“Di dalam nadimu nak. Mengalir darah pejuang. Pejuang harus tegar. Maka janganlah bersedih Hamka. Kau bukan anak biasa, kau anak yang terlahir dari keturunan para pejuang. Kakekmu orang hebat, bahkan di usianya yang sudah tua renta. Ia masih mengarungi lautan yang ganas untuk mencari ikan”.

Kalimat yang di ucapkan Pak Yusni, guru mengajiku, telah membangkitkan semangatku. Dari beliau, aku belajar tentang agama dan cara bertahan hidup. Beliau mengajarkanku untuk tegar, kuat, dan sabar dalam menghadapi segala masalah.

Aku sudah belajar banyak darinya. Dan, ini kali kami berjumpa. Usiaku genap tujuh belas tahun. Hari ini, aku dan beberapa temanku akan berangkat mengarungi lautan yang telah menelan kakek ku. Aku akan berkelana berkeliling nusantara, negeri yang kata orang, penuh kekayaan alam dan budaya.

“Heeii Hamka. Ambillah roti ini” Ibu Ani memberiku roti. Beliau adalah orang yang paling sayang kepadaku. Memberiku makan setiap hari, dan membelikan ku pakaian.

“Ibu…..” Aku memeluknya dengan erat. Meneteskan air mata dan menghirup aroma tubuhnya. “Ibuuuu..”. Bagiku, Ibu Ani sudah menjadi Ibu untukku.

“Sudahlah Hamka. Kau ini sudah dewasa. Saatnya kau memilih jalan hidupmu. Dan kau memilih merantau. Semoga kau selamat nak”.

Sore hari. Aku sudah berada di atas kapan phinisi. Bersiap mengarungi samudra dan mencari jati diriku yang sebenarnya.

*bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s