Aku Spesial

“Maaf terlambat ka”

“Aha ha… Iya. Ndak masalah ji. Hanya terlewat dua puluh menit dari yang kita janjikan” wajahnya tersenyum, tapi perkataannya menusuk.

“Maafkan ka. Tadi itu… Sudahlah. Tapi setidaknya, datang maka” aku duduk di sampingnya. Di taman yang indah dengan udara yang sejuk. Mengingatkan aku akan seseorang yang sangat cuek berbicara denganku.

“Mana?” tanyaku

“Mana apanya?”

“Edd.. Jangan mkow begitu. Cepat mi. Apa perlumu?

“Tidak ji. Mau ja ketemu sama kita, Ra”.

“Aahh.. Jauh-jauh ka datang naik motor ke sini. Ribet-ribet pilih baju, mandi, dan atur jilbabku. Terus kau bilang’ tidakji’. Apa mau mu? Bilang mkow?”.

“Tidak ada ji memang. Mau ja ketemu”.

“Sudah mi pale. Mau ka pulang” aku beranjak dari kursiku.

“Jangan maki dulu. Sebenarnya ada yang mauku bilang” ia berusaha menahanku tidak beranjak dari kursi itu.

“Apa?” tanyaku singkat.

“Kenapa begitu ekspresi ta? Senyum saiki” wajahnya tersenyum menatapku. “Nyaman ka sama kita”.

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Dia menatap ke arahku. “Terus. Hubungannya sama saya apa?”.

Aku menarik napas panjang. “Maaf. Asal kau tau, mantannya temanku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan sekarang. Mengucapkan kalimat (yang sebenarnya) sakral dengan mudahnya. Terlalu mudah mengucapkan kalimat itu bagai sudah beribu kali sudah kau ucapkan. Dan berharap ko bakalan luluh ka dengan lisanmu yang bernilai palsu?”.

“Maafkan ka. Bukan ka sok atau apa. Terserah kau mau bilang apa. Tapi banyak sekali mi cerita yang berawal dari kata seperti itu, dan berakhir pada sebuah malam yang terasa sepi. Teman-temanku datang ke saya dengan cerita indah mereka yang berakhir sedih”. Dia hanya bingung menatapku.

“Sudah mi. Kalau kau suruh ka datang ke sini. Bicara dengan saya dengan kata ‘ki’ untuk dicap sopan. Ucapkan kalimat yang menurutmu, bakalan terharu ka?” aku tertawa “Maaf. Bukan ka cewek yang bisa kau tarik ulur. Spesial ka, itu yang teman baikku ajarkan ka”.

“Nyaman ka sama kita, Ra. Ndak bisa ka bohong” sekali lagi ia mengucapkan kalimat itu.

“Maaf. Bukan cowok yang mudah berkata begitu ku cari” aku beranjak dari tempatku. Melangkah meninggalkannya sendirian. Berharap dia belajar, mencintai bukan tentang teori ataupun kata-kata. Melainkan dari kesetiaan dikala senang dan saat kecewa.

Karena hubungan tetaplah hubungan. Terlalu dinamis untuk berubah drastis bahkan dalam waktu yang begitu singkat.

Aku berbalik ke arahnya “Eehh, kalau mau ko pacaran dengan modal lisan palsumu. Yakin ka, dua hari kedepan ada mi itu pacarmu” aku tersenyum, lalu melanjutkan langkah ku untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s