Terganggu Karena Mereka

“Bagaimana.. Jadi pergi nonton?”.

Hari ini, sabtu 21 Februari 2015. Rudi mengajakku nonton film bersamanya. Menikmati akhir pekan dengan jalan bersama. Menyaksikan film fiksi berjudul “Jupiter Ascending” di bioskop.

“Hhm.. Tunggu duluku tanya paceku na”.

“Iyee.. Cepat ki na”.

“Iya” kataku, lalu menutup telfon.

Aku bergegas turun ke meja makan. Mehampiri Ayah yang asyik menikmati tempe goreng buatan mama. Bau sambel terasa dari kejahuan. Bagai menarikku untuk duduk dan menikmatinya.

Tangan Ibu liahi mengangkat ikan yang ia goreng. Menambah cita rasa ikan dengan ketulusan hatinya. Ayah masih asyik ngemil tempe sambil menunggu ikan yang masih diangkat oleh mama.

“Ayah..” aku datang menghampiri. Duduk di sampingnya dan melakukan hal yang sama, makan tempe.

“Apa?” jawabnya santai.

“Mau ke keluar nah”.

“Kemana Ra?” tanya ibu, datang membawa nasi ke meja makan.

“Mau pergi nonton Bu”.

“Sama siapa?” ini yang paling susah, ketika Ibu mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang tajam. Bagaikan penyelidik yang memeriksa seorang tersangka kasus korupsi.

“Sama temanku, Rudi” jawabku singkat, berharap melalui tahap introgasi dengan mudah.

“Rudi? Yang mana itu?” Ayah yang tadinya terlihat cuek, ikut bertanya.

Aku tetap tersenyum, menikmati tempe yang terasa enak. Hanya menjawab pertanyaan Ayah dan Ibu dengan singkat. “Ada itu yang minggu lalu datang. Yang bawa kue putu banyak sekali”.

Ibu spontan tertawa “Itu yang pakai baju serba hitam kayak mau demo?”.

“Aha ha.. Iya Ibu. Yang selalu senyum”.

“Bagaimana Ayah, boleh ji?”.

“Jam berapa mi ka?” Ayah berusaha mencari jam.

“Masih jam lima sore”.

“Hhm.. Mau nonton apa?” tanya Ayah.

“Nonton film di MP. Dekat ji Ayah”

“Jangan mi dulu. Nanti kalau pulang malam baru ada geng motor. Terus Rara ditikam bagaimana?”.

Suasana hening sesaat. “Sama ja Rudi”.

“Iya.. Dengar Ayahmu Rara. Liat ko itu banyak yang ditikam kodong gara-gara motor ji. Makassar sekarang rawan perampokan yang berujung pembunuhan” kata ibu, menambah keterangan dari Ayah.

“Bagaimana kalau besok” kata ibu, mengedipkan matanya ke arahku, aku seperti tau maksudnya “Tanya mi Rudi. Bilang besok saja. Perginya siang terus kalau sudah jam lima, Rara sudah ada di rumah”. Seperti yang aku harapkan. Ibu selalu tau semua masalahku dan tau apa yang ku harapkan.

“Kalau besok Ayah, bagaimana?”.

“Boleh.. Tapi ingat na, jam lima sudah ada di rumah”..

“OK” Aku tersenyum, lalu berlari ke kamar.

Menaiki tangga dengan cepat. Kakiku lincah melewati dua anak tangga sekaligus. Melangkah masuk di kamar, lalu lompat ke kasur. Mengambil HP di yang aku simpan di bawah bantal. Mencari nama Rudi di kontak, lalu menelfonnya.

Dua menit berlalu. Nada deringnya masih setia menemaniku. Karena merasa jenuh, aku batalkan panggilan itu. Lalu kembali terbaring di kasurku yang merah jambu.

Tak beberapa lama, HP ku berdering. Dengan singkap tanganku langsung menekan tombol hijau tanpa melihat nama yang ada di layar.

‘Haloo.. Rudi?”.

“Aahh.. Rudi? Ini saya Ra, Desi”.

“Desi?” Aku terkejut” Aahh.. Ku kira Rudi? Kenapa Desi?”.

“Aha ha.. Ciee yang tunggu telfonnya Rudi” Desi mengejek.

“Tau ahh gelap… Kenapa Desi?”.

“Kalau sore begini, mau ko ke mana?”.

“Sebenarnya mau ka keluar. Tapi karena geng motor banyak, jadi dilarangka. Kenapai ka?”.

“Mau ke bermalam di rumahmu na. Ada film baru ko”.

“OK… Ku tunggu ko. Bawa ko kue na” aku lalu menutup telfon. Lima menit, telfonku kembali berdering. Nama Rudi muncul di layar. Aku mengangkatnya.

“Rudi.. Maafkan ka”.

“Kenapai?”.

“Na bilang Ayahku. Banyak geng motor, jadi nanti kalau pulang malam bahaya”.

“Hhm.. Padahal tadi siang ndak ke kantin ka karena menabung”.

“Maafkan ka Rudi. Kalau besok siang bagaimana?”.

“Boleh.. Jam tiga?” tanya Rudi, memastikan.

“OK… Ketemu di sana maki” Kataku, menutup telfon. Merapikan kamar dan menanti kedatangan Desi dengan kue pesananku. Di sela-sela menanti kedatangan Desi, aku berpikir. Ayahku benar, kota tempat kami tinggal, Makassar. Tidak aman karena banyak perampokan yang berakhir pada pembunuhan.

Semoga saja, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab itu. Segera menemukan ijazah dan melamar pekerjaan yang layak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s