Kaki dan Hati Yang Terluka

Kisah fiksi aneh yang terinspirasi dari keadaan kakiku. Lekas sembuh kaki *cium telapak kaki*

—————————

Duduk di pinggiran lapangan basket. Pukul dua lewat empat puluh tiga menit. Setelah bel pulang berbunyi, sekolah mendadak sepi. Aku masih setia duduk dibawah pohon rindang. Menikmati sejuk angin yang berhembus di pepohonan. Menamaniku dalam kesendirian.

Menggandeng tas ransel yang selalu kubawa kemana-mana. Mengenakan jaket berwarna biru pudar dengan tulisan “Senior” di belakangnya. Dengan rambut yang acak-acakan dan ekspresi seperti biasanya, datar. Menanti seseorang yang entah kapan datangnya.

Namanya Rara, perempuan dengan suara kecil dan kudungnya yang selalu rapih. Sehari sebelumnya, kami janji akan bertemu disini. Kelas kami bersebelahan, tapi kami jarang berjumpa. Aku hanya sesekali melihatnya di teras kelasnya. Itupun hanya sepuluh detik. Terasa begitu singkat untuk sebuah pertemuan.

Banyak hal yang aku suka dari Rara. Suaranya kecil dan sikapnya begitu anggun. Selalu tersenyum tersipu kepada setiap orang yang ia jumpai. Tingginya sekitar 165 dan selalu mengenakan jilbab paris trendy setiap keluar rumah. Aku tau tentang jlibabnya, karena aku selalu memperhatikannya.

Selalu menanyakan kabarnya setiap dua hari sekali. Menatap wajahnya setiap kali ia dan teman sebangkunya melintas di depan kelasku. Tapi yang membuatku heran adalah, setiap kali aku menatapnya. Rara tak pernah menatap balik. Mungkin Rara malu, mungkin juga tidak suka dengan tatapanku. Entahlah.

Namun, walaupun itu selalu terjadi, aku selalu ingin menatapnya. Sengaja melintas di depan rumahnya dengan sepeda. Memperhatian Rara yang biasanya duduk santai di teras rumah sambil membaca buku. Aku hanya melintas, tak pernah berani menyapanya.

Aku bagai boneka dibuatnya. Hanya terdiam menatapnya. Tak bisa bergerak, tak bisa menyapa, dan tak berani berkata-kata di hadapannya. Tapi hari ini, aku ingin semuanya berubah. Aku beranikan diriku menemuinya ditempat ini, pinggir lapangan basket.

Menanyakan suatu hal yang selalu aku pendam. Rasa yang seharusnya tidak terungkap, namun selalu tertinggal di dalam hati dan tak pernah aku ucapkan. Kakiku bergetar saat melihatnya datang mendekat. Kudungnya masih kokoh diterpa angin sejuk. Berjalan bersama temannya Kiki.

Jantungku berdetak cepat. Darahku mengalir cepat. Rara masih berjarak dua puluh meter dariku, tapi ia mampu membuatku sulit bernapas. Grogi. Mungkin itu kata yang pas untuk diriku saat ini.

“Haaii Anca” katanya, menyapa aku yang masih grogi menatapnya. Kiki berjalan bersamanya, juga mengucapkan salam kepadaku.

Aku bukan tipe cowok yang mudah merangkai kata. Apalagi di hadapan Rara, aku bagai anak kecil yang hanya mengenal kata salim dan terimah kasih. Lidahku kaku ingin memanggil namanya. “Ra..Raaa”.

“Iya kenapa?” jawabnya singkat.

Aku melepas kedua sepatuku. Berjalan ke tengah lapangan yang diterpa sinar matahari langsung. Terasa panas. Cukup panas untuk kulitku yang manja. Rara hanya menatapku heran. Bersama temannya, duduk di pinggiran lapangan, tempat aku duduk tadi.

“Kenapa Anca?” tanya Rara.

“Ku suka ki Rara. Mau ka tembak ki dengan caraku sendiri” entah kenapa, diksi dan nada bicaraku mendadak berubah. Aku seperti anak SMP yang bicara dengan cewek yang baru aku kenal. Mengucapkan kata ‘ki” dengan sangat halus.

“Disini ka kepanasan. Ku tunggu jawabanta. Kalau kita terima ka, bakalan berteduhka. Tapi kalau tidak, disini terus ka sampai merasa puas ka dengan hidupku”. Matahari semakin menyengat kulit dan telapak kakiku mulai terasa terbakar.

Kakiku mulai goyah, tak sanggup menahan tubuhku. Penglihatanku mulai kabur, matahari menghantam dengan hebat. Menyilaukan mataku, menghalangi aku menatap matanya. Aku pejamkan mataku, berkonsentrasi penuh di telinga. Berharap mendengar jawab “iya” darinya.

Tapi tak seperti yang aku bayangkan. Bukan jawab “iya” yang aku dengar.

“Maafkan ka Anca”.

Aku masih terdiam mematung di bawah sinar matahari yang bersinar terang. Berdiri di atas lapangan yang mulai membakar telapak kakiku. Kulitnya mengelupas karena begitu panas. Membuat aku kesulitan menjaga keseimbangan tubuhku. Wajahku tersenyum, walau hatiku sebenarnya sedih.

Ini bukan pertama kalinya aku dikecewakan. Tapi ini juga bukan yang kedua kalinya. Tapi ini sudah berulang kali terjadi dalam hidupku. Namun aku selalu berhasil bersandiwara dalam semua kesedihan itu. Tersenyum dan tertawa agar terlihat bahagia.

Dan tanpa aku sadari, ketika aku bangun. Aku berada di ruang kelas. Setelah aku tanya teman yang juga ada disana ketika aku terbangun. Dia bilang, aku jatuh dan tak sadarkan diri. Kaki ku tumbang tak bisa menahan sakitnya telapak kaki yang melepuh dan hati yang terasa… Sulit aku jelaskan.

Dan karena kejadian itu. Aku harus menanggung aksi nekadku berdiri di tengah lapangan tanpa alas kaki. Kakiku terluka. Aku tak bisa lagi berlari bersamanya untuk waktu dekat. Berjalan dengan cara tertatih-tatih. Berusaha tersenyum walaupun sakitnya begitu terasa. Tapi aku masih berharap, tetap bisa berjumpa Rara di depan kelasnya.

Aku harap seperti itu.

——————————–

Ini hanya cerita fiksi aneh yang terinspirasi luka di kakiku -__- lekas sembuh kaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s