Kecil Bermakna Luas

Dapat intruksi dari teman (sekaligus adik kelas) untuk buat cerita. Maaf eaa kakaa, ceritanya jelek -__- harus rajin belajar menulis. Cayo

————————————————–

Namaku Rara, aku siswa teladan yang aslinya pemalas. Duduk di bangku SMA pinggir kota. Bangga dengan hal-hal aneh dan selalu dipandang sinis. Punya mantan yang selalu ingin terlupakan, namun belum sanggup terlupakan. Melewati hari-hari SMA seperti anak normal lainnya.

Hari ini, sabtu ceria di kantin. Duduk kursi panjang bersama para sahabatku Ica, Dije, Fitri dan Aulya. Seperti biasa, menjadi rutinitas mengisi bangku di kantin menikmati lezatnya gorengan bakwang.

“Rara.. Pernah ko pacaran dengan Anca?” tanya Dije, penasaran.

“Siapa bilang?” Gosip ji itu”.

“Itu anak-anak di kelas bilang begitu. Na tembak ko bde pas pulang sekolah”.

“Ah aha.. Gosip ji itu do” sebagai cewek pemalu, tentu saja aku akan mengelak dari semua gosip itu. Maksudku, siapa yang tidak malu kalau gosipnya tersebar dimana-mana. Akan banyak orang kepo yang datang bertanya tentang ini itu. Imageku sebagai cewek pendiam, bisa berubah kalau gosip ini tersebar dimana-mana. Merugikan.

“Kalau ndak salah ingat, di lapangan sekolah to’ Rara” Aulya menatapku dengan matanya yang tajam.

“Jangan mkow mengelak Rara… Akui mi saja kalau pacaran ko sama Anca” Ica datang dan semakin memojokkan ku dalam percakapan ini.

“Tidak pacaran ka. Gosip ji itu. Siapa lagi bilang begitu kodong. Sembarang na mamo na bilang”.

“Tapi banyak sekali buktinya Rara”.

“Apa?” tanyaku dengan ekspresi cemberut.

“Itu status BMnya Anca galau sekali. Na bilang ‘pupus harapan’. Galaunya mi Anca”.

“Kenapa ko Fitri. Tunduk terus daritadi, kayak ndak semangat sekali hidup” ejek ku. Berharap topik pembicaraan bisa berubah tanpa mereka sadari “Kenapa ko Fitri? Kalau ada masalah mu, cerita mkow. Ada semua jaki disini mau mendengar”.

Fitri masih terdiam menatap tasnya. Kedua tangannya masuk ke dalam tas. Seakan menyembunyikan sesuatu. Membuat hatiku bertanya-tanya apa yang ia sembunyikan. “Apa itu di tasmu Fitri?”.

“Aahh.. Ndak ada ji” jawabnya polos, berusaha menyimpan rahasianya sendiri.

Aulya langsung mendekat di samping Fitri. Sepertinya Aulya juga penasaran dengan isi tas Fitri. Hari ini, Fitri bertingkah aneh. Mulut yang biasa cerewet, hari ini menjadi lebih pendiam dari biasanya. Hanya duduk tertunduk menatap tas kecilnya.

Dije spontan tertawa menatap Fitri. “Iihh… Dije, jangan ko ketawai ka” Fitri mengeluh, itu karena sepertinya Dije tau apa isi tas dipangkuan Fitri.

“Dije. Apa ka? Penasaranku?” kataku sambil menatap Dije. Berharap bisa menangkap bahasa tubuh darinya. Matanya bergerak aneh, berusaha memberitahan apa yang ia pikirkan.

“Kado?” tanyaku spontan.

“Aha ha.. Ciee. Kasih keluar mi Fitri. Jangan malu-malu, kenapa harus malu kalau dikasih kado. Siapa yang kasih ko?” tanya Aulya, kepo.

“Pasti orang spesial ah ha” kata Ica.

“Eedd..Sahabat bde, baru main rahasia-rahasia” kataku dengan nada sedikit ditekan. Berharap Fitri mau berbagi cerita yang sepertinya seru.

Fitri menarik napas panjang, “sebenarnya…”.

“Sebenarnya apa?” kataku, semakin penasaran,

“Tadi pagi, na sapa ka Ridwan di pintu gerbang. Terus na kasih ka coklat”.

“Coklat? Asyik, romantisnya”.

“Terus-terus?” Ica memaksa Fitri melanjutkan ceritanya.

“Iyaa.. Na kasih ka coklat. Coklat oreo satu biji”. Spontan, kami semua tertawa mendengarnya.

“Aha ha.. Ku kira tommi saya di kasih ko silver queen. Ternyata oreo” kata Aulya mengejek.

“Tapi setidaknya ada ji cowok yang pernah kasih ko sesuatu. Na saya, tidak ada” Ica berusaha menghibur Fitri yang daritadi hanya cemberut.

“Pasnya na kasih ko, apa na bilang Ridwan?”.

“Na panggil namaku, terus dia jalan ke saya. Baru bilang ki, ‘ambil mi ini’ lalu pergi ki” jelas Fitri, singkat.

“Deeh.. Romantisnya mi” kataku memuji.

Aku jadi berpikir, ada apa dengan Ridwan sampai memberikan coklat oreo sebiji untuk Fitri. Kenapa ia tak memberikannya ke yang lain. Kenapa harus Fitri? Entahlah. Itu pertanyaan belum terjawab.

Tapi setidaknya, aku bisa menafsirkan. Tadi pagi, Ridwan datang ke sekolah lebih awal. Rela menunggu Fitri yang biasanya datang telat untuk memberikannya sesuatu. Walaupun hanya sebiji oreo. Tapi bagi Ridwan, oreo itu bermakna lebih. Itu lebih dari sebiji oreo. Fitri hanya perlu waktu untuk mengerti artinya pemberian Ridwan itu.

Sepintas aku teringat coklat pemberian temanku. Walaupun hanya sekali gigitan, tapi rasanya membekas di hati. Dan sulit untuk aku lupakan. Coklat

One thought on “Kecil Bermakna Luas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s