Pilihanku Yang Berbeda

Terjadi forum kecil di kantin kala itu. Hari indah di sekolah, yang diawali dengan free kelas. Duduk di bangku panjang sambil menikmati kue sebagai cemilan pagi. Menikmati masa-masa SMA yang akan segera berakhir. Mengenakan seragam putih abu-abu dan masih tertingkah aneh.

Ridwan datang “Eehh.. Rara, sudah mkow daftar SNMPTN?” katanya memulai pembicaraan.

“Sudah maka saya” jawabku singkat, mengunyah kue pawa.

“Kalau kau Desi, sudah mkow juga?”.

“Belum pi. Ndak ada fotoku bagus. Berulang kali maka foto tapi hitam terus. Ada ji iya, tapi belum di edit ah aha”.

“Ah aha..Hitam? Edit ki do supaya putih ki” kata Ridwan mengejek.

“Kau iya Ridwan, sudah mi?” tanyaku.

“Sudah”.

“Asyik. Apa kau pilih?”.

“Guru matematika karena paling dicari sekarang guru dan dokter. Kalau dokter harus orang pintar, belum sanggup otakku. Jadi guru bagus, lapangan pekerjaannya jelas dan banyak”.

“Tawwa yang mau jadi guru. Jangan ko jadi guru killer kayak pak anu” kata Desi, dan spontan semuanya tertawa.

“Kalau saya disuruh ka ambil dokter sama maceku. Aaahh.. Ndak sanggup ku” desah Desi, mengeluh “Padahal mau sekali ka jadi anak teknik

Spontan Ridwan menjawab “aahh.. Teknik? Ciee cewek anak teknik. Barusan ku dengar”.

“Begitu memang cika. Anak teknik yang paling dicari sekarang, indonesia butuh perancang masa depan”.

“Memang tawwa. Keren. Kau iya Rara, mau ambil apa?” tanya Ridwan.

Aku dengan santainya menjawab “Mau ka ambil pertanian”.

“Aahh.. Kenapa harus itu? Mau ko jadi petani? ah aha” Ridwan mengejek.

“Mungkin. Sama seperti yang kau bilang. Mau ka jadi apa yang paling dicari nanti. Dimana saat itu, akan banyak gedung-gedung tinggi hasil karya anak arsitek. Rumah sakit yang diisi anak kedok dan farmasi. Kantor pengacara dan notaris terilihat mulai terlihat dimana-mana hasil anak hukum” aku menarik nafas.

“Akan banyak yang jadi PNS, pegawai kantoran, psikolog, dan akuntan yang hebat. Ndak mau ja jadi begitu, mau jadi yang paling dibutuhkan jasanya, walaupun sering terlupakan. Mau ka jadi petani berdasi. Karena tanpa petani berdasi, tidak akan ada pangan untuk kita semua. Dan ketika itu terjadi, mungkin dokter juga sakit karena ndak ada mi nasi di rumahnya ah aha”.

—————————————-

Gila itu ketika seseorang memandang sesuatu dari sudut yang berbeda. Dan mungkin, saya salah satunya. Ketika orang lain berpikir menjadi dokter, psikolog, pengacara, notaris, akuntan dan sebagainya. Saya malah memilih jadi petani berdasi. Aneh ya, tapi itu salah satu impian ah aha. Cayo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s