Rara Part 3 : Merah Jambu

Pertengahan bulan Juli, minggu yang cerah. Matahari bersinar terang di atas rumahku. Menyinari jemuran yang baru saja ku jemur di teras lantai dua. Namaku Rara, anak tunggal yang terbiasa hidup mandiri sejak SMA.

Semua urusan bisa ku kerjakan dengan baik, kecuali masalah makanan. Terakhir kali aku mencobanya, hasilnya selalu saja gosong. Dan karena itu, aku tidak berbakat jadi istri idaman. Mungkin memasak bukan keahlianku.

Dengan langkah kecil, aku berjalan ke kamar. Menyalakan lampu, menutup pintu agar tidak ada yang melihat. Menarik napas panjang sebelum membuka lemari. Bersiap menahan tumpukan baju yang selalu jatuh setiap pintu lemari terbuka.

Setiap kali Ibu keluar kota, Ibu selalu pulang sambil membawa empat baju baru untuk ku. Sengaja dibelikan agar anak satu-satunya ini, selalu terlihat unik, menarik, dan menawan. Tapi, karena tumpukan baju itu pula. Ibu selalu bliang “Ra. Buang mi bajumu yang ndak kau pake”.

Tapi untuk ku, anak cewek berumur 18 tahun. Membuang baju adalah sebuah kesalahan fatal. Aku anak cewek yang normal, senang melihat pakain di lemari. Walaupun jarang dipakai, tapi aku suka mengoleksinya di lemari tua ini. Walaupun pada akhirnya, aku harus merapikan tumpukan baju ku.

Aku menarik napas panjang, lalu membuka lemari tua ini. Tingginya170 cm. Kayu disisi kanan dan kriinya di cat hitam. Lalu pintunya dilapisi cemin besar, sebesar pintunya. Gagangnya terbuat dari besi, tapi bagian bawahnya sudah rusak, hampir patah, karena terlalu sering aku paksa.

Beriringan dengan terbukanya pintu lemari. Beberapa tumpukan baju mulai berseraran di lantai kamar. Aku mulai menggeledah, untuk mencari baju yang cocok untuk bertemu teman lama di MP jam tiga nanti. Aku punya raturan baju, tapi selalu pusing saat harus memilih baju.

Kebanyakan bajuku berwarna merah jambu. Itu karena aku terlalu fanatik dengan merah jambu. Sepuluh menit sudah berlalu, dan aku masih sibuk menggeledah isi lemari tua ini. Menemukan baju yang cocok untuk hari ini, hari yang cerah untuk teman yang selalu membuatku merasa cerah.

“Maamaa..” aku berteriak, memanggil mama yang sibuk di dapur seperti biasanya. Menggoreng ibu kayu di minggu sore.

“Mamaaa…” teriakku, sekali lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

“Iyaa.. Kenapa Ra?”.

“Itu Maa.. Kita lihat baju ku yang warna merah jambu?”.

“Merah jambu yang mana? Saya kira merah jambu semua bajumu”.

“Ada itu yang warna merah jambu Ma. Yang dua minggu lalu ku pake, yang ada gambar-gambarnya di depan” kataku, berusaha menjelaskan baju yang ku maksud kenapa Ibu.

“Ada ji itu di lemarimu. Cari mi saja”.

Itulah resiko punya baju ratusan. Dari ratusan, hanya ada satu yang terasa cocok untuk hari ini. Aku kembali menggeledah lemari ini.

“Ndak ada ku dapat Maa” kataku lagi-lagi mengeluh.

“Pakai mi saja yang lain. Saya kira banyak baju mu. Pilih mkow salah satu”.

Aku melirik jam di samping kasur. Sudah hampir setengah tiga, tak terasa. Sudah satu jam ku habiskan menggeledah lemari ini dan aku belum menemukan baju yang sesuai. Akhirnya aku memilihi baju berwarna merah jambu. Baju kaos lengan panjang. Kudung berwana sama, hanya saja terlihat lebih muda. Dan rok panjang berwarna putih.

Setelah semuanya siap, aku mulai bergegas. Mandi dan tak lupa menyikat gigi. Memasang jilbab dengan rapi, berkaca di depan kaca lemari yang besar. Akting tersenyum, menyapa dan lain-lain. Dua puluh menit sebelum jam tiga. Aku bergegas turun ke bawah.

Menghampiri Ibu ku yang masih asyik dengan menggoreng ubi kayunya.

“Maa.. Pergi ka dulu”.

“Iyaa.. Mau kemana Raa?”.

“Mau ke MP. Mau ketemu teman SMA ku Ma, ada dulu itu yang pernah datang ke rumah. Yang rambutnya acak-acakan” sambil memaki sepatu, aku berusaha menjelaskan teman SMA ku itu. Berharap Ibu bisa mengingat wajahnya.

Setelah cukup lama berusaha mengingat. “Itu yang kau bilang lanjut kuliah di Jakarta?”.

“iyaa Maa.. Yang itu mi” aku berlari ke teras depan. Mengambil kunci motor di meja dekat TV. Menyalakan mesin lalu berangkat dengan tergesah-gesah ke MP untuk bertemu dengannya.

“Raraa.. Salam sama temanmu. Dan Hati-hati di jalan” kata Ibu.

*bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s