Rara Part 3 : Dering Pintu Kerinduan

Hari semakin sore. Matahari turun dari titik tertingginya, menuju barat tempat tenggelamnya. Jalan yang tadinya sepi, kini ramai dengan mobil dan motor. Salah satunya aku. Melaju cepat dengan motor matic berwarna putih. Menyalip mobil-mobil mewah khas perkotaan.

Namaku Rara, cewek berumur 23 tahun yang tinggal di pinggiran kota Makassar. Ini kisah ku, tentang dua orang yang sebenarnya terpisahkan, tetapi punya kesempatan untuk bertemu. Bagai air hujan yang jatuh di tempat berbeda, akan bertemu kembali di lautan yang luas.

Aku tiba tepat waktu. Seperti perkataannya di telfon waktu itu, jam 3 sore ditempat yang dulu sering kami datangi. Aku membuka pintu kaca dan melangkah pelan ke dalam. Tempat ini tidak banyak berubah. Suasananya masih sama seperti enam tahun lalu. Tenang dengan alunan musik akustik yang khas.

Langkahku terhenti. Aku teringat pertama kali datang ke tempat ini, bersamanya. Hampir setiap sabtu sore, kami datang ke sini. Menikmati sore dengan berbagi cerita satu salam lain. Dalam setiap ceritanya, ia membuat ku tersenyum dan tertawa. Entah dari mana ia dapat pengalaman-pengalaman seperti itu.

Mataku berkeliling mencari sosoknya. Sepertinya ia belum datang. Aku menatap meja kosong di ujung, tempat yang biasa kami duduki. Aku berjalan mendekati meja itu. Meja kecil namun cukup untuk berdua. Dibawah sinar lampu berwarna kuning, semakin menghidupkan suasana.

Aku duduk di kursi kayu itu. Salah satu karyawan datang menghampiri ku “Mau pesan apa mbak?”.

“Hhm.. Jus alpukat satu mbak”.

“Hanya itu?” tanya mbaknya, aku menggangup “Jus alpukat satu, harganya delapan belas ribu mbak”. Ketika hendak mengambil uang, HP ku bergetar. Namanya muncul di layar, dia yang kini entah dimana.

“Haloo..” kataku, menyapa terlebih dulu.

“Rara.. Sekarang dimana? Pasti sudah sampai di lokasi kan? Maaf, ini agak telat karena tadi ada tante datang ke rumah. Dia tanya tentang kerja jadi karyawan media”.

“Tapi sekarang sudah di jalan kan?”.

“Iyaa.. Ini sudah dekat dari parkiran. Nanti kalau sudah parkir, langsung lari ke dalam”.

“Eehh.. Jangan lari, jalan santai saja. Rara juga baru sampai disini. Duduk sendirian di meja ujung, seperti biasa ah ahaha”

“Wah, di meja ujung seperti dulu? OK. Tunggu sebentar ya, lima menit”. Ia lalu mematikan telfon.

Walau hanya di telfon. Tapi senang bisa mendengar suaranya. Bibirku tersenyum ketika menjawab telfonnya. Hingga akhirnya aku sadar, seperti ada yang terlupakan. Karyawan itu masih berdiri di sampingku sambil memegang jus yang ku pesan.

“Semua delapan belas ribu mbak” kata karyawan itu sekali lagi.

“Ah aha.. Iya mbak. Maaf tadi ada telfon dari teman ah ha..” wajahku tersenyum, namun ekspresi karyawan itu tetap datar. Tanpa ekspresi.

“Ini mbak” aku sodorkan uang dua puluh. Diambil lalu pergi.

Menunggu. Selalu saja terasa lama. Duduk seorang diri pojokan. Ditemani segelas jus alpukat. Melihat orang berjalan ke sana kemari. Berkeliling mall untuk mencari sesuatu. Matanya berkeliling, masuk ke dalam setiap toko yang ada.

Aku masih termenung di kursi itu. Pintu kaca dari tempat ini, tetap tertutup. Aku ingat, enam tahun yang lalu, pintu itu selalu terbuka dan tertutup. Enam tahun yang lalu, tempat ini selalu ramai menjelang minggu sore. Tapi hari ini, hanya ada aku dan dua orang tua diujung sana. Mereka asyik menikmati waktu tuanya dengan bersantai disini.

“kringg” bunyi bel saat pintu terbuka.

Aku lalu menatap ke arah pintu. Sesosok pria dengan kemeja hitam, celana jens abu-abu, dan mengenakan kacamata membuka pintu.

“Haloo.. Cahya” kataku, memanggil lalu melambaikan tangan.

*bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s