Suasana Kelas

Mingu-minggu berlalu dengan enjoy. Bangun jam enam pagi, mandi terus duduk manis di depan TV. Biasanya jam delapan sudah di sekolah, sekarang malah asyik nonton TV. Hidup terasa terekontruksi kembali. Perlahan meninggalkan kebiasaan lama yang selalu duduk di bangku kelas.

Belajar ketika ada guru yang masuk kelas. Jalan ke kantin ketika suasana kelas mulai terasa jenuh. Menyapa teman yang ada di kantin, menanyakan kabar dan tak lupa bilang “Eeh, ndak berniat ko traktir ka gorengan satu?”. Kadang dibalas “Ambil mkow Imam”, kadang pulang ada yang balas “Aha ha.. Telat Imam, habis mi gorengan. Padahal mau ka traktir ko ahaha”.

Duduk untuk waktu yang lama di kantin. Melihat siswa lainnya sili berganti membeli ini dan itu. Kami bukannya tidak punya uang, hanya saja, kami percaya kalau rejeki itu selalu datang dari orang lain.

Biasanya, hasil dari duduk lama itu berupa segelas minuman gelas. Ketika merasa puas, kami kembali ke kelas. Menikmati karpet kelas yang lembut dengan berbaring diatasnya. Menganggap tas sebagai bantal dan HP sebagai TV. Menikmati serial anime jepang bersama-sama di bagian belakang kelas.

Tak jarang kami ketiduran dibuai kelembutan tas dan karpet biru. Menutupi wajah yang teetidur pulas dengan jaket. Mengabadikan wajah-wajah unyu dengan kamera HP, lalu menyebarkannya melalui sosial media. Bagai mengumbar aib satu sama lain.

Tidak semua ketenangan kami berakhir dengan indah. Ada kalanya, kami baru saja baring lima menit, kemudian guru tiba-tiba muncul di depan pintu. Langkah kakinya disusul suara teman-teman yang lain berteiak “Wee.. Bangun ko, ada Pak”, membangun kami dari tidur yang (hampir) nyenyak.

Kembali duduk di bangku masing-masing. Mengeluarkan buku dan siap menulis materi yang diberikan. Setiap pelajaran Fisika dan Matematika, ada kalanya kami melantai bersama di bagian depan. Duduk melantai agar lebih dekat dengan papan tulis.

Saling menunjuk ketika ada giliran soal yang harus dikerjakan di papan tulis. “Ricka bde mau naik Pak. Mau sekali naik” kata Saudia disamping Rika.

“Memang tawwa Ricka” kata yang lain, menambah suasana dan membuat Ricka sedikit terpojok.

“Mana ada, biar kau itu yang mau naik Saudia” Ricka membalas.

“Naik mkow langsung Ricka. Ini sudah ada spidol di depanmu” balas Saudia sambil mendorong Ricka.

“Ricka. Ricka. Ricka” yang lainnya ikut menyudutkan Ricka. Mau tidak mau Ricka harus naik mengerjakan soal Matematika yang ada.

Tapi, ada hari dimana semua guru berhalangan masuk ke kelas. Jika seperti itu, kami biasanya berpencar, mengisi setiap sudut di kelas. Nongkrong di bagian belakang dan berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari masalah romance, artis, hingga masalah negara dibahas.

Disudut lain di kelas, ada yang berkumpul menyanyikan lagu-lagu era 20-an. Mengingat-ingat lagu jadul yang tak dimakan masa. Ricka biasa tampil sebagai vocal utama, dan yang lain melengkapi suara Ricka yang sedikit cempreng.

Yaa begitulah. Suasana kelas kami dibentuk oleh karpet biru yang lembut. Dilengkapi hiasan-hiasan dinding di tembok belakang. Disitu ada pohon harapan. Pohonnya tidak terlalu besar, tapi di setiap dahannya, tertulis harapan dan cita-cita penghuni kelas.

Hanya saja, karpet kelas kami telah pergi entah bagaimana. Hanya tersisa tumpukan bangku dan pohon harapan yang (mungkin) sebentar lagi akan ikut menghilang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s