Kini dan Tiga Tahun Lalu

Rasanya begitu berbeda dengan tiga tahun lalu.

Berapa banyak hal yang aku alami? Berapa macam orang yang pernah aku hadapi? Berapa macam situasi yang pernah aku lewati? Entahlah, mungkin sudah banyak. Semua itu, secara tidak langsung membentuk mental seorang anak polos menjadi tangguh.

Aku masih ingat, kala itu hari senin. Hari yang cerah, namun berbeda dengan suasana hatiku. Pandanganku kosong menatap dinding kamar. Badanku lesu, tak ingin rasanya beranjak dari kasur ini. Memeluk erat bantal dan dengan perlahan meneteskan air mata.

Hari itu, pengumuman masuk SMA. Aku tak lulus di sekolah manapun. Sedih, aku rasa itu wajar saja. Aku bahkan sempat berpikir “Mungkin ndak sekolah maka lagi”. Tapi nyatanya, aku masih bisa merasakan SMA. Masih bisa berseragam putih abu lengkap dengan dasi dan topinya yang khas.

Hari-hari ku berlalu dengan menyenangkan. Tumbuh dan berkembang seperti anak lainnya. Datang tiap hari ke sekolah, malas menyelesaikan PR, dan cuek dengan model rambut.

Sesekali ikut lomba antar sekolah. Ikut sana sini, dan tak pernah juara. Namun akhirnya aku mengerti, aku punya tujuan yang berbeda. Aku punya satu hal yang spesial. Aku tidak mau menjelaskannya apa itu, tapi bisa kau rasakan jika kau mengenalku.

Aku berulang kali mencoba menulis cerpen. Menulis dan kembali menghapusnya. Diksiku buruk, sangat. Aku tak pandai menulis. Tak pandai merangkai kata-kata indah seperti yang orang lain lakukan. Aku hanya menulis dan memaksa temanku untuk membacanya.

Mendengar kritikan dan saran. Mulai dari awal lagi, menulis cerpen. Menulis cerpen-cerpen aneh yang tak jelas jalan ceritanya. Mengirimkan naskahnya ke editor koran. Ditolak. Tentu saja, mana layak cerpen jelek karya ku bisa dicetak di koran.

Ikut mendaftar jadi reporter di Keker. Aku gagal dalam tes, lagi. Mencoba menulis cerpen, mengirimkannya lagi ke editor. Cerpennya diterima dan tercetak di koran edisi sabtu, senang rasanya. Lagi-lagi, aku mengerti satu hal penting. Aku tak mau menjelaskannya.

Hariku berlalu seperti biasanya, penuh canda dan tawa. Menghabiskan semenit dalam sehari di depan cermin, makan secukupnya, dan terus menulis cerita-cerita aneh.

Apa yang sudah aku lakukan dalam tiga tahun, hasilnya menyenangkan. Apa yang aku perjuangkan dalam tiga tahun, terasa tidak sia-sia. Kau belum mengetahuinya? Karena aku tidak mau menjelaskannya.

Gagal bukan hal baru untuk ku. Begitulah hidupku, aku memandang sesuatu dari sisi berbeda. Menikmati semua hal dengan percaya diri. Dibalik kegagalan ada pelangi. Aku sudah menikmati pelangi dari semua kegagalanku yang lalu. Pelanginya begitu indah, membuatku meneteskan air mata berulang kali. Membuatku tersenyum dan merasa bahagia bisa melihatnya.

Aku akan merasakan pelangi yang indah itu lagi. Aku percaya itu karena aku sudah melaluinya. Aku tidak menceritakan fiksiku, aku hanya menceritakan sedikit kisah hidup ku yang penuh pelangi. Rasanya benar-benar berbeda dengan tiga tahun yang lalu.

Ada apa dengan tiga tahun yang lalu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s