Ashila Cantika Part 1 : Aku, Rani, dan Pria Misterius

Siang begitu panas di tempat ini. Dalam ruangan berukuran sedang dengan tembok bercat putih bersama tiga puluh satu orang lainnya. Mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Putih abu-abu. Tidak ada yang bersuara selain seorang bapak tua paru baya dalam balutan seragam dinas lengkap dengan papan nama di bajunya. .

Pak Ramlam. Begitu biasa kami menyapanya. Guru mata pelajaran matematika yang sekaligus wali kelas kami.

“Kita belajar matematika, bukan untuk mencari nilai dari x, y, atau apalah itu”. Setiap kalimat yang terlontar dari mulut guru tua ini selalu didengar dengan seksama. Mendengar penjelasan dan pertanyaan dari Pak Ramlam sangat membosankan. Sangat. Hanya satu alasan kami bertahan untuk tetap mendengarkan. Agar nilai kami tidak jauh semester ini. Semester penentu.

“Kenapa kalian belajar?” tanya Pak Ramlam kepada murid-muridnya. Tidak ada yang menjawab. Hening.

“Rani?” Pak Ramlam menatap Rani yang duduk di sisi kiriku.

“Iya pak?”

“Kenapa kamu belajar?” tanyanya dengan nada tinggi. Pertanyaan macam apa itu, apakah pantas seorang guru menanyakan alasan muridnya belajar? Apalagi nada bicaranya yang tinggi, membuat semua siswa di ruangan ini merasa ketakutan.

“Hhm..” terjadi hening yang panjang “Anu pak”.

“Anu? Anu? Jawaban apa itu? Lontarkan apa yang kalian pikirkan”.

Lagi-lagi suasana kelas XII IPA 3 jadi hening. Semua mata tertuju ke Rani, yang sedang tertunduk ketakutan. Aku lihat jemarinya gemetar. Aku ingin membantunya. Tapi bagaimana? Akupun yang duduk di sampingnya merasa ketakutan. Aku ingin menatap matanya, menyakinkan dia bisa melalui ini, namun rambutnya menutupi.

“Apa yang kau pikirkan sekarang Rani?.

“Aku memikirkan tentang tugas yang akan diberikan, Pak” jawabnya dengan nada pelan. Ketakutan.

“Apakah kau senang mengerjakan tugas sekolah? Guru baru yang mengajar di kelas ini mengatakan kamu rajin. Tapi kenapa kau tak menjawab pertanyaan sebelumnya. Kenapa kau tetap belajar pada era modern seperti ini?”.

Rani hanya tertunduk. Entah kenapa suara detakan jam terasa lebih keras dari biasanya. Hening. Itulah yang terjadi dengan kelas ini setiap kali Pak Ramlam yang mengajar. Berbeda dengan guru sejarah kami, Pak Rafli, yang baik dan cara mengajarnya menyenangkan. .

“Rani. Duduklah. Aku lihat kau kelelahan. Apalagi siang ini terasa begitu panas. Duduklah” dan dengan perlahan Rani duduk di bangkunya. “Coba kau jawab pertanyaan yang barusan, Ashila, Ashila Cantika”.

Gawat. Guru tua ini menyebut namaku. Sebuah hal yang tak diduga. Menyebalkan. Aku harus apa? Aku harus menjawab apa? Aku tak tau harus berbuat apa. Yang bisa ku lakukan hanya diam seribu kata.’

“Ashila..” sahut Pak Ramlan sambil menatapku tajam.

“Iya pak?” jawabku ketakutan.

“Kenapa kau ingin belajar?”.

“Karena….”

“Karena apa? Apa alasanmu?”.

“Karena aku…..” bel tiba-tiba berbunyi.

kkrriiiiing…. krrriiiingg..

Menggemah begitu nyaring hingga ke telinga kami semua. Memotong kalimatku yang belum selesai. Aku jadi lupa harus mengatakan apa.

“OK… Tugas halaman 52 dikumpul pertemuan selanjutnya. Dan pertanyaan yang tadi kita simpan saja pertanyaan itu untuk mu Ashila. Bapak harap kau bisa menjawabnya nanti. Aku mengharapkan jawaban yang spektakuler darimu” Pak Ramlam lalu mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan kelas.

“Iya pak” hanya itu yang bisa ku katakan. Syukur aku bel bunyi di waktu yang tepat. Menyelamatkan aku dari ocehan membosanku guru matematika ku. Lega rasanya pelajaran hari ini telah usai. Sekarang saatnya menikmati masa-masa tenang.

“Ashila… Kau tak apa?”.

“Tak apa Rani, seharusnya aku yang bertanya begitu. Aku lihat kau tadi termenung. Apa yang kau pikirkan tadi sewaktu Pak Ramlam bertanya kepadamu?”.

“Entahlah. Aku begitu ketakutan sampai tak memikirkan apa-apa”.

“Ah aha.. Aku juga sama. Mungkin semua siswa bisa merasakan ketakutan saat Pak Ramlam ada di ruangan ini”.

“Aku pikir itu betul. Tidak bisa dibayangkan, guru killer sekolah ini adalah wali kelas kita. Aku dengar dari teman adik ku. Ada siswa yang pingsan sewaktu Pak Ramlam mengajar di kelas satu”.

“Aah.. Pingsan. Kau serius? Dia pingsan karena ketakutan ketakutan?”.

“Ah aha.. Tebakanmu salah. Dia pingsan karena kelapar” joke Rani berhasil mencairkan suasana.

“Eehh.. Kau pulang dengan siapa?” Rani beranjak dari kursinya.

“Aku? Entahlah. Mungkin berjalan kaki”.

“Jalan kaki lagi? Bukannya hari ini terlalu panas. Bisa-bisa kulitmu hitam dan kau bukan lagi Ashila si manis, tapi Ashila si hitam”.

“Aha ha.. Biar saja kulitku hitam. Orang-orang tetap akan memanggilku Ashila si hitam manis”.

“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang duluan ya. Ayah ku sudah menunggu di mobil. Bye.

“Bye”. kataku lalu Rani dengan badannya yang agak gemuk berlari ke gerbang sekolah untuk menemui ayahnya.

Dan hal ini terulang lagi. Aku seorang diri di koridor sekolah. Duduk menyendiri menunggu, tapi entah menunggu apa. Aku ingin pulang, tapi aku merasa bosan di rumah. Tidak ada yang spesial. Tidak ada yang menarik. Itulah hidupku. Terjebak di sini seorang diri tanpa arah dan tujuan.

“Haii Ashila…” dengan suara keras. Seseorang mengagetkan ku dari belakang. Aku terjekut. “Kenapa kau belum pulang?”.

“Siapa kau?.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s