Jaket Pemberian

Hari yang melelahkan dengan suhu udara 35 derajat. Matahari bersinar terang, bertengger di puncak tertinggi. Menyengat kulit siapa saja yang beraktivitas di luar ruangan.

Aku dan Ulfah baru saja pulang dari sekolah, dan tengah dalam perjalanan pulang ke rumah. Berjalan kaki menyusuri trotoar yang sempit dan berlubang. Berlindung dari terik matahari dengan mengangkat tas lalu menutupi kepala kami. Sesekali kami berlari kecil menuju tempat rindang, berteduh beberapa saat di bawah pohon, mengumpulkan energi dan kembali menyusuri jalan pulang.

Hari ini terasa lebih panas dari hari lainnya. Andai uang jajanku tidak habis untuk membeli minuman, mungkin sekarang aku sudah tiba di rumah dengan naik ojek. Namun terik ini membuat tenggorokan ku kering, memaksa aku untuk membeli segelas minuman dengan sisa uang jajanku.

Lalu hujan turun dengan tiba-tiba. Dengan cepat membasahi semuanya; jalan, trotoar, pepohonan, dan atap halte bus berjarak sepuluh meter dari kami. Kami bergegas ke halte untuk berteduh, tapi hujan lebih dulu menghampiri kami.

Kami tiba di halte dengan keadaan basa kuyup. Baju, rok, sepatu, dan rambut kami, semuanya basah. Hanya isi tas kami yang masih kering. Seorang anak laki-laki yang duduk di halte, juga mengenakan seragam SMA tapi dari sekolah yang berbeda, menatap kami dengan ekspresi kebingungan. Seakan ini pertama kalinya ia melihat dua anak perempuan kehujanan.

“Lihat dirimu Ella, kau terlihat kacau dengan pakian basah. Lihat rambutmu, berantakan,” Ulfah mengejek.

Aku tertawa, “Kau juga terlihat kacau, Ulfah.”

“Kenapa hujan bisa turun pada hari secerah ini? Bahkan tadi tak ada gumpalan awan hitam di langit-langit kota.”

“Iya. Saat matahari bersinar begitu terang, tiba-tiba saja hujan turun. Aneh.” Aku mengulurkan tanganku ke depan, membiarkan air membasahinya. Setiap kali hujan turun, aku teringat adikku- yang meninggal tertabrak mobil kala hujan enam tahun silang.

Selalu menyakitkan mengingat luka lama. Aku berbalik ke arah Ulfah, aku lihat dia bersandar tak berdaya di bangku halte, tangannya gemetaran. Wajahnya pucat.

“Kau tak apa-apa, Ulfah?” Ulfah hanya diam..

Aku menggenggam tangannya. Tangan kananku menyentuh dahinya. Terasa dingin,”Ulfah!! Apa kau sakit?” Ulfahh hanya diam membisu. Dia bukannya tidak ingin menjawab pertanyaanku, dia hanya tidak bisa menjawab.

Spontan aku menjadi panik. Aku tak tau harus berbuat apa. Apa yang terjadi pada Ulfah? Apa yang harus aku lakukan?

“Pakai ini untuk menghangatkan tubuhnya,” anak laki-laki itu memberikan jaketnya. “Dan cepat bantu temanmu masuk ke dalam taxi”.

Setelah kami berdua masuk, ia lalu memberi uang kepada supir taxi, seraya berkata, “Antar kedua anak ini ke rumah sakit sekarang!”

Beberapa hari setelah kejadian itu, Ulfah akhirnya membaik. Kata dokter, Ulfah hanya perlu istirahat. Aku ingin berterima kasih kepada laki-laki itu. Namun aku tak tau siapa dia, sampai detik ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s