Rara Part 4 : Seperti Dulu

“kringg” bunyi bel saat pintu terbuka.

Aku lalu menatap ke arah pintu. Sesosok pria dengan kemeja hitam, celana jens abu-abu, dan mengenakan kacamata membuka pintu.

“Haloo.. Cahya” kataku, memanggil lalu melambaikan tangan.

“Hai Rara” membalas salamku dengan senyum manis di bibirnya. Enam tahun berlalu, kini ia tumbuh dewasa. Wajahnya selalu nampak ceria. Tangannya dan kakinya bergerak dengan lambat layaknya orang beribawa. Dia tidak lagi terlihat culun kala SMA dulu. Dan senyumnya, selalu berhasil membuatku merasa bahagia kala melihatnya.

“Sudah lama disini Rara?” melangkah mendekati meja yang sering kami duduki. Menarik kursi, meletakkan jaket kulitnya di sandaran kursi lalu duduk tepat di hadapanku. Sesekali ia memainkan alisnya kala bertanya tentangku.

“Hhm.. Belum ji terlalu lama. Paling sektiar dua puluh menit duduk menyendiri disini”.

“Aha ha… Maafkan karena saya telat. Sudah pesan?”.

“Belum. Tapi Cahya sukanya masih dengan minuman yang dulukan?”.

“Saya suka minuman apa?”.

“Apel, jus, aplukat. Benarkan?”

Cahya tertawa, “Iya. Rara memang paling bisa mengerti kesukaanku. Jus ini punya Rara?” Cahya menunjuk jus alpukat yang ku pesan tadi “Untukku mana?”.

“Belum pesan. Kan tadi datangnya telat”.

“Ok. Tunggu ya” Cahya beranjak dari kursinya, melangkah pelan menuju kasir di dekat pintu. Berbicara dengan karyawan yang ada di sana lalu kembali ke kursinya.

“Bagaimana kuliah mu di Makassar. Seru? Menyenangkan” tanya Cahya, menatap mataku sambil memainkan alisnya.

“Aha ha.. Apanya seru. Susah sekali pas urus skripsi. Berulang kali dipantul dan revisi. Alasannya macam-macam. Mulai dari salah ketik, salah spasi, dan sebagainya. Macam-macam. Tapi setidaknya berlalu. Sudah maka di wisuda”.

“Asyik.. Foto wisudanya ada di disitu?” Cahya menunjuk HP disamping jusku “Boleh lah aku liat. Penasaran”.

“Hhm.. Kayaknya ada. Tunggu saya cari”.

Selagi jariku asyik mengotak atik folder foto. Cahya mala tak berkedip sedikitpun. Dia hanya diam menatap ku. Membuatku merasa aneh dibuatnya.

“Aaahh.. Cahya jangan begitu”.

“Jangan bagaimana?”.

“Jangan liatka terus. Grr ka nanti”.

“Aha ha.. Maaf. Ini karena terbawa suasana” Cahya tertawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s