Rumah Mewah

“Yakin mkow ziarah di sini?” Deni menatap wajah temannya penuh kebingungan, lalu kembali menatap rumah mewah berlantai tiga di hadapan mereka.

“Ndak tau mi. Ragu ka. Mungkin pulkam orangnya,” kata Deni seraya mengetuk pintu besi dengan keras.

Tuk.. Tuk.. Tuk..Suara ketukan pintu besi besi terdengar nyaring.

“Coba mi saja. Dicoba tak mengapa. Kapan lagi bisa masuk rumah mewah kalau bukan hari lebaran,” kata Jaka tertawa, berusaha menyakinkan Deni untuk berziarah di rumah termewah di kompleks tempat tinggal mereka.

“Assalamualaikum.. Tante… Ziarah,” teriak Deni berulang kali sambil mengetuk pintu besi dengan kencang.

“Tante.. Ziara..,” teriak Jaka, juga berulang kali.

Sekitar sepuluh menit berlalu, tak tak ada respon dari pemilik rumah. Rumah mewah berlantai tiga itu terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Lampu terasnya menyala di siang bolong seperti ini. Seakan menjadi tanda pemilik rumah sedang keluar.

Deni mengamati pekarangan rumah, nelirik sana sini lalu berkata, “Hhm.. Bilang memang ja. Ndak ada orangnya. Pergi pulkam,” kata Deni dengan nada kecil, tidak yakin dengan ucapannya sendiri.

“Ayo pergi!” kata Deni melangkah meningalkan rumah mewah itu. Dua-tiga langkah, langkahnya langsung terhenti. Ia berbalik menatap temannya Jaka yang masih terdiam di tempatnya.

“Ndak ada orangnya Jaka, lain kali pi. Ayo pergi!” Deni menarik lengan Jaka.

“Tidak,” Jaka menarik Deni mendekat. “Ada ji orangnya,” bisik Jaka.

“Mana ada. Daritadi maki teriak dan tidak ada respon.”

“Liat ko ke atas,” bisik Jaka.

Dengan spontan Deni melirik ke teras lantai dua rumah mewah tersebut. Ada seorang wanita berambut panjang, rambutnya terurai ke bahu kanannya. Panjang, berwarna hitam pekat. Wanita itu hanya diam sambil tersenyum menatap Deni dan Jaka yang melirik ke arahnya.

“Kak.. Boleh ziarah?” tanya Deni tanpa malu.

Wanita itu tersenyum, dan dengan suara halusnya menjawab. “Boleh, tapi tunggu dulu na!” katanya lalu masuk ke dalam rumah.

“Kenapa diam ko?” tanya Deni.

“Ndak ji. Kenal ko sama dia?”

“Ndak. Kau?”

“Ndak juga,” kata Jaka, polos.

“Apa ji pade nanti dibikin, masa makan kue ji tanpa ada basa basinya?”

“Na ku kira itu memang ji tujuan utamanya, cari kue” kata Jaka dengan senyum liciknya.

Tak beberapa lama, wanita itu membuka pintu besi lalu menghampiri Deni dan Jaka. Wanita itu mengenakan dress muslimah putih berpadu merah jambu. Parfumnya begitu khas, begitu harum. “Masuk ki!” katanya lembut.

“Iye,” kata Deni mendorong Jaka agar melangkah lebih dulu.

“iisshh.. Kenapa saya kau dorong? Na ku kira kau yang mau ziarah, saya ngekor ja.”

“Jalam mkow duluan! ku kira kira ndak ada ji malumu?” tanya Deni dengan senyum licik di bibirnya.

“Kau itu yang ndak ada malumu,” Jaka mendorong balik Deni.

“Kau duluan masuk, baru saya,” kata Deni.

“Kau pa. Malu-malu ka.”

Deni dan Jaka saling mendorong dan saling menyuruh untuk melangkah masuk ke rumah mewah itu. Wanita tadi hanya diam dan tersenyum melihat tingkah Deni dan Jaka. Dan dengan suara lembutnya, ia berkata “Masuki! Nanti dingin tehnya.” Suaranya, begitu halus. Sehalus sutra.

“Iye,” jawab Deni dan Jaka, spontan.

“Jangan mi malu-malu. Masuk saja,” wanita itu tersenyum. Senyumnya berhasil meluluhkan Deni dan Jaka untuk menuruti perintahnya. Dengan langkah kecil dan ekspresi malu-malu, Deni masuk terlebih dulu, diikuti Jaka di belakangnya.

Ini pertama kalinya Deni dan Jaka masuk di rumah mewah dan besar seperti ini. Nampak keramik berkilauan menghiasi semua sudut rumah. Foto-foto keluarga berukuran besar terpajang di salah satu dinding ruang tamu. Lengkap dengan sofa besar berwarna keemasan yang mengelilingi meja panjang yang juga berwarna emas.

“Bagus sekali rumahnya, Jaka,” bisik Deni, lalu Jaka hanya bisa menganggup.

Cukup lama mereka diam di dekat pintu. Mata mereka asyik berkeliaran menyusuri seluruh sudut ruang tamu rumah mewah itu. Sungguh megah. Rumah termewah di komplek tempat mereka tinggal.

“Eeh… Jangan cuma melamun,” tegur wanita itu, menyadarkan Deni dan Jaka yang sangat terpukai dengan desain interior ruang tamunya. “Duduk ki! Jangan malu-malu.”

Dengan perlahan Deni dan Jaka lalu duduk di sofa besar itu.

“Empuknya. Enak sekali duduk di sini,” bisik Jaka.

“Namanya juga orang kaya, pasti nyaman di rumahnya,” kata Deni, mengedipkan matanya ke Jaka. Tanda setuju.

Wanita itu duduk di seberang, membuka toples-toples kaca bermotif bunga di atas meja. Di hari itu, ada sepuluh macam kue di atas meja. Semuanya terlihat enak.

Tapi, terlihat seenak apapun kue itu, Deni dan Jaka tidak berani mencoba. Suasana di ruang tamu begitu hening. Tidak ada yang memulai percakapan. Deni dan Jaka tidak mengenal siapa wanita itu. Mereka memang biasa melihatnya bersantai di teras, tapi mereka tidak tau apa-apa tentang dia.

Deni menarik napas panjang, “Dimana ki sekolah?” tanya Deni.

“Kuliah maka” jawab wanita itu dengan singkat.

“Kuliah? Tapi muka ta’, kayak masih anak SMA,” kata Deni, tak percaya dengan jawaban wanita itu.

Wanita itu tertawa, “Iya. Banyak yang bilang begitu, baru ji juga masuk tahun ini.”

“Kuliah dimana?” tanya Deni.

*Bersambung*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s