Kue Bintang

“Kuliah? Tapi muka ta’, kayak masih anak SMA,” kata Deni, tak percaya dengan jawaban wanita itu.

Wanita itu tertawa, “Iya. Banyak yang bilang begitu, baru ji juga masuk tahun ini.”

“Kuliah dimana?” tanya Deni.

“Di Unhas.”

“Wahh.. satu kampus ki’,” kata Jaka antusias mendengar jawaban yang terlontar dari bibir wanita itu. “Jurusan apa?”

“Di jurusan ekonomi,” jawabnya, tersenyum manis.

“Kalau saya jurusan biologi,” kata Jaka.

“iissh.. Ndak ada ji yang bertanya tentang jurusanmu,” balas Deni, sewot.

“Boleh ka coba ini?” Deni menunjuk salah satu toples yang berisi kue.

“Boleh.” Dengan perlahan tangan Deni mulai mendekati toples yang ia tunjuk tadi. Sangat berhati-hati kala mengambil dua buah kue kering berbentuk bintang berwarna kuning.

“Ambil mkow juga, jangan mkow malu-malu,” bisik Deni, “ku kira memang ini ji tujuan ta’. Cari kue,” bisiknya seraya mengedip mata ke Jaka.

Jaka tersenyum ke arah wanita itu, dan dengan perlahan mengambil kue yang sama. “Ndak ada ji racunnya ini?” tanya Jaka.

Pttaaakk..

Deni memukul pundak Jaka, “kau to. Jangan ko bertanya begitu. Makan mi saja.”

“Kan ndak ada salahnya bertanya,” kata Jaka dengan tatapan sinis ke Deni.

“Ndak ada ji racunnnya ini?” tanya Jaka sekali lagi. Wanita itu hanya tersenyum lalu menganggup.

Deni dan Jaka dengan perlahan dan malu-malu mulai mengunyah kue berbentuk bintang tersebut. Deni menguyah dua buah kue sekaligus. Mulutnya bergerak cepat meremukkan kue itu lalu ditelannya. “Ada minumnya?” tanya Deni.

“iissh.. Malu-malu ko sedikit, tamu jaki disini,” kata Jaka dengan nada kecil.

“Minum? Ada. Tunggu dulu,” wanita itu beranjak dari kursinya lalu berjalan ke dapur.

Dengan cepat tangan Deni lincah memindahkan dua belas kue berbentuk bintang itu ke kantong celananya. Sesekali mengambil dari toples dan langsung menguyahnya dengan cepat, lalu kembali mengambil kue hingga kantongnya penuh. “Ambil ko juga, cepat!” kata Deni menyuruh Jaka mengambil kue.

“Kau mo. Kau ka ndak ada ji malu mu,” kata Jaka tertawa melihat aksi iseng temannya.

Tak lama berselang, wanita itu kembali dengan tiga gelas minuman di atas baki yang dia angkat. “ini minumnya,” kata wanita itu meletakkan nimuman di dekat Deni dan Jaka.

“Kue apa namanya ini?” tanya Jaka.

Wanita itu lama berpikir, lalu berkata “Ndak tau. Mamaku yang buat.”

“Jago mamamu buat kue. Enak sekali rasanya,” kata Deni mengambil gelas di hadapannya dengan perlahan.

“Makasih,” jawabnya, singkat.

“Semua kuenya dibuat sama mama mu?” tanya Deni penuh penasaran.

“Iya. Mama pernah jadi guru masak di kota. Jadi jago buat kue.”

Jaka tersenyum, menatap mata wanita itu dalam-dalam seraya bertanya, “kalau mamanya jago masak, anaknya juga pasti jago masak. Iyakan Deni?”

“Iya. Pasti begitu. Bakat itu menurun ke anak,” kata Deni yang masih asyik menguyah kue.

“Ndak tau ka masak.”

“Ndak percaya ka,” kata Jaka, masih dengan senyuman yang sama.

“Iya.. Saya juga ndak percaya, ini enak sekali sirup buatanmu,” kata Deni.

“Kan kalau sirup tinggal dicampur air lalu diaduk sedikit, langsung jadi.”

“Dan rasanya manis sekali,” kata Deni tertawa diikuti senyuman dari wanita itu.

“Kenapa ndak makan ki?” tanya wanita itu malu-malu sambil menatap Jaka. “Ndak suka sama kuenya?”

“Suka.. Suka,” dengan cepat Jaka mengambil kue di toples lalu memakannya.

Wanita itu tersenyum lagi. Sumpah. Senyumnya manis sekali. Membuat Deni dan Jaka malu untuk menatapnya terus. Wajahnya terlihat cerah. Pipinya tembem dan berwarna kemerah-merahan. Bulunya matanya melengkung ke atas. Dan bila menatap matanya, kau tak akan pernah jenuh untuk melihatnya.

Tak terasa, sudah dua puluh menit mereka duduk di ruang tamu rumah mewah itu. “Kenyang mkow?” bisik Jaka ke Deni.

“Iyo. Banyak mi juga kue di kantongku.”

Dengan perlahan Jaka perlahan beranjak dari kursinya, “Makasih kuenya. Enak sekali, jarang-jarang ka makan kue seenak ini. Tapi kayaknya dicari maka saja mamaku. Sekali lagi, terima kasih,” katanya, polos.

“Kenapa cepat sekali? itu kuenya masih banyak,” wanita itu menunjuk toples yang masih penuh, “Di dalam juga masih banyak.”

Jaka tertawa, “Lain kesempatan kita mampir disini lagi, iyakan Deni?”

“Iya,” jawab Deni, polos.

Wanita itu hanya diam tanpa senyum. “Sering-sering pade main di sini biar ada temanku,” katanya dengan manja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s