Matematika Dalam Cerita

Dunia berasa terbalik usai masa SMA.

Ratusan ribu lulus tiap tahunnya dan memilih jalannya sendiri. Sebenarnya hidup bukan pilihan, hanya beberapa yang bisa memilih hidupnya. Sebagian lainnya hanya mengikuti skenario yang sudah ada.

Ada yang mau jadi dokter, tapi usahanya masih kurang. Ada pula yang ingin menjadi guru, hanya saja orang lain memiliki potensi lebih baik dari dirinya. Ada pula yang menikah usai tamat SMA.

Yup. Hanya beberapa orang yang bisa memilih hidupnya. Dan aku termasuk golongan yang mengikuti skenario. Senjata yang aku asa selama dua belas tahun berpakaian seragam ternyata masih sangat kurang untuk menembus tembok yang terlihat.

Tembok nyata, berada tepat di hadapanku, aku belum mampu memanjatnya. Belum mampu melewatinya. Belum mampu mendobrak walau sudah berusaha semampuku. Beberapa diantara kami menyerah, memilih mundur sejenak. Beristirahat dan membawa senjata lebih hebat di kesempatan berikutnya

Aku menyebut mereka “Anak Panah.” Mereka mundur beberapa sentimeter yang akan membuat mereka melesat dengan cepat ke depan, ke impian mereka.

Aku ingin seperti mereka. Tapi terlalu beresiko. Waktuku bisa terbuang setahun berdebu di depan keyboard. Mengotak-atik file dan sebagainya. Bukan berarti itu tidak berguna, hanya saja itu hanya hobby. Hanya untuk menyenangkan perasaan hati yang kadang tersakiti.

Aku memilih tetap di depan, terus mencoba mencapai impian masa lalu. Menjadi guru matematika. Entah kenapa waktu itu, umurku masih delapan tahun. Duduk dalam ruangan menatap angka-angka bagaikan menatap rembulan. Begitu menarik untuk disimak dan menyejukkan hati.

Matematika itu seperti sebuah kisah. Dalam setiap soalnya, terdapat alur-alur menyenangkan. Dari yang sederhana bisa menjadi begitu kompleks. Dari yang hanya sederetan angka-angka dan simbol-simbol lucu. Berkembang menjadi sebuah kerangka cerita yang dramatis.

Dia memiliki sifat-sifat unik yang tak dimiliki yang lain. Dia spesial. Spesial karena hanya ada satu. Perannya tak tergantikan. Menolong mata pelajaran lain untuk terus berkembang. Menyumbangkan apa yang dia punya dengan ikhlas.

Walau dibenci oleh beberapa orang, aku tetap menyukainya. Tak pernah bosan untuk bersamanya di malam hari walau hanya satu-dua jam. Bersama pena kecil yang setia di tanganku. Mengukir angka-angka dan simbol lucu yang lalu menjadi kompleks di atas selembar kertas.

Awalnya kertas itu kosong. Aku dengan senyuman mengukir dengan perlahan di lembaran itu. Sesekali mengusap rambutku sendiri dengan ekspresi bingung. Walau masalah yang ia berikan begitu sulit, entah kenapa hatiku selalu setia untuk berusaha menyelesaikannya.

Tak jarang aku menyerah, meminta bantuan ke orang lain. Tak ada salahnya. Masalah adalah media terbaik untuk mencari teman baru. Dan itu yang matematika berikan untuk ku. Salah satunya itu dari banyak hal yang ia berikan dengan tulus.

Aku biasa memutar-mutar lembaran itu. Tatapanku menatap angka-angka yang terukir, tapi pikiran ku di tempat lain. Memikirkan hal yang lain. Pernah sekali aku lebih memilih memikirkan wajah si pemilik senyum manis dibanding menyelesaikan masalah yang ada.

Ayolah. Aku juga cowok normal. Hal wajar aku mengingat wajahnya. Jika aku disuruh memilih, antara matematika dan pemilik senyum manis. Bagiku itu sebuah pilihan yang mudah. Karena pada dasarnya, pemilik senyum manis lah yang menginspirasiku untuk menekuni mata pelajaran yang ku sukai.

Yup. Yang aku sukai, bukan yang aku kuasai. Karena bagiku, matematika itu bukan lahan yang bisa dikuasai. Melainkan sebuah teman bermain.

Terima kasih pemilik senyum manis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s