Cincin Permata

Seorang wanita berjalan melintasi perkebunan apel. Ia membawa keranjang kayu di tangan kirinya. Sesekali ia berhenti, memetik buah apel merah segar dengan tangan kanannya, lalu memasukkannya dalam keranjang.

Ia berjalan lagi. Setelah melewati beberapa pohon, ia berhenti untuk beristirahat. Wanita itu duduk manis di atas rerumputan hijau. Ia mengambil satu apel segar dari keranjang dan menggigitnya. Rasanya manis sekali, terlihat jelas dari senyum wanita itu saat mulutnya asyik menguyah.

Suasana sore itu benar-benar menyenangkan. Angin berhembus pelan. Wanita itu melepas ikat rambutnya, membiarkan angin menghempas rambutnya yang panjang. Udara lembut seakan meraba kulit wanita itu. Wanita itu membentangkan kedua tangannya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Itu membuatnya bahagia. Ia terlihat senang sekali. 

Entah sudah berapa lama ia tersenyum.

Langit berwana jingga. Matahari perlahan hilang di balik pegunungan. Beberapa kawanan burung kecil terbang bebas di langit jingga. Wanita itu beranjak dari tempatnya dan berlari melewati pepohonan, sumur tua, dan melompati bebatuan kecil. Ia membentangkan tangannya seakan-akan menjadi burung merpatih putih yang terbang bebas di perkebunan apel.

Wanita itu bersorak. “Salah satu hal terindah dalam hidupku!”  Ia tersenyum.

Setelah berlari dan tertawa sendirian, ia berjalan ke pohon apel tadi. Mengambil keranjangnya dan bergegas pulang. Ketika tangannya meraih keranjang itu, ia menyadari cincinnya telah hilang.

Ia mencari dalam keranjang. Ia tidak menemukannya. Wanita itu mencari di rerumputan hijau, mungkin cincin itu terjatuh di sana. Namun ia tidak menemukannya. Ia berjalan menyusurih jalan setapak yang tadi ia lewati. Cincin itu belum ia temukan. Matahari sudah terbenam. Langit menjadi gelap. Tentu bukan hal mudah mencari cincin—yang berukuran kecil—di tengah-tengah perkebunan apel dengan keadaan gelap.

Ekspresi murung nampak jelas di wajah wanita itu. Tentu saja, karena cincin yang hilang itu adalah pemberian ayahnya, ia tidak mungkin menghilangkannya. Maksudku, itu adalah pemberian, seharusnya kau menjaganya, bukan menghilangkannya. Iyakan?

Ia kembali menyusuri kebun apel itu, dua jam berlalu ia belum menemukan cincin itu. Langkahnya terhenti dekat sumur tua. Ia mengambil timbah, dan melemparkannya ke sumur. Tangannya yang mungil memegang erat tali yang terikat pada timbah itu, lalu menariknya.

Wanita itu mengambil gelas di keranjangnya. Menuangkan air ke gelas itu dan meminumnya. Wanita itu duduk di pinggiran sumur, merenung berusaha mengingat cincin pemberian itu.  Cincin itu terbuat dari emas. Bentuknya sangat indah dan dihiasi dua butir berlian berkilau. Cincin itu adalah hadiah dari ayahnya, ia memperolehnya ketika umurnya 18 tahun.

Wanita itu mengingat perkataan ayahnya sewaktu memberikan cincin itu kepadanya. “Ella,  pakailah cincin ini di jemarimu yang indah. Jagalah baik-baik, cincin ini aku beli dari seorang penambang sewaktu aku masih muda. Waktu itu aku berencana memberikan ini ke ibumu.”

“Itu sudah lama sekali berlalu, ayah. Kenapa ayah tidak memberikannya ke ibu?”

“Aku memberinya cincin ini pada hari pertama kami menikah. Ibumu berkata ‘bagaimana jika cincin ini untuk anak kita saja?’ dan aku pikir itu ide yang bagus. Aku setuju. Selama itu pula, cincin ini disimpan ibumu. Kamu menyukainya?’

“Tentu saja,” Ella memeluk ayahnya.

Ya, itu kejadian dua tahun yang lalu. Selama dua tahun pula, cincin itu setia di jemari Ella. Dan kini cincin itu hilang—entah ke mana.  Ella kembali menjatuhkan timbah ke dalam sumur.

Tiba-tiba terdengar suara minta tolong. “TOLOONG!”

Suaranya agak serak, asalnya dari dalam sumur. Ella mendekat ke sumur dan menatap ke bawah. Gelap.

“Tolong keluarkan aku,” kata seseorang dari bawah.

“Apa yang kau lakukan di bawah?” Tanya Ella.

“Bisakah kau membantu ku keluar dari sumur ini?”

“Kau sedang apa di bawah sana?”

“Bantu aku keluar dari sumur tua ini!”

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Apakah kau orang asing?”

“Aku adalah orang yang terjebak dalam sumur.”

 “Asalmu dari mana?”

“Aku bisa menjawab semua pertanyaanmu, jika aku sudah keluar dari sumur ini.”

“Bagaimana aku membantumu?”

“Pertama-tama, jatuhkan dua buah apel segar ada di keranjang dekat tangan kirimu.”

“Tunggu dulu, bagiamana kau tahu aku membawa keranjang?”

“Aku bisa menatapmu dari bawah sini,” kata sosok misterius itu.

“Aku tidak melihat apa-apa di bawah sana. Aku hanya melihat pantulan cahaya dari genangan air. Aku tidak bisa melihatmu. Kau di mana?”

“Tentu saja di bawah sini. Berbaik hatilah, tolong keluarkan aku dari sumur ini.”

“Sudah berapa lama kau terjebak di bawah sana?”

“Menurutmu? Aku kelaparan, lemparkan aku dua apel segar. Kau hanya perlu menjatuhkan apel itu. Apakah itu sulit untuk mu?”

 Ella menjatuhkan satu buah apel ke dalam sumur.

“Bagaimana menurutmu, apel itu segar bukan?” Tanya Ella.

“Segar, tapi kenapa kau hanya memberiku satu buah apel?”

“Aku pikir satu apel sudah cukup untukmu.”

“Apakah kau sudah menemukan cara untuk mengeluarkan ku dari sumur ini?”

Ella hanya terdiam.

“Siapa namamu?” tanya orang di dalam sumur.

“Ella.”

“Ella? Itu nama yang singkat dan berkesan. Seperti apa wajahmu?”

“Tadi kau bilang bisa melihatku dari bawah,” dahi Ella mengkerut, tanda keraguan.

“Kamu terlihat begitu mempesona dari bawah sini. Cahaya rembulan seakan terpantul dari kedua matamu yang indah.”

“Namamu siapa?” Tanya Ella.

Tak ada jawaban. Terdengar suara berisik dari dalam sumur. Seperti suara goncangan air. Seakan ada sesuatu yang tercebur.

“Heeii.. Apa kau baik-baik saja di bawah sana?” Tanya Ella, khawatir.

“Entahlah, aku sedang berusaha keluar dari bawah sini untuk bisa melihatmu lebih dekat.”

“Apakah kau bisa memanjat dinding sumur itu?”

“Aku sudah mencobanya berulang kali. Dan berulang kali pula aku tercebur. Tanganku sudah tak kuat berpegangan di dinding. Aku takut tenggelam.”

“Kau masih lapar?” Ella menjatuhkan dua buah apel ke dalam sumur, “Makanlah apel segar itu, semoga tenagamu bisa kembali dan kau tetap mengapung walaupun aku tak melihatmu.”

“Apakah sumur ini terlalu dalam hingga kau tak melihatku?”

“Mungkin. Ini adalah sumur lama, digali oleh keluargaku puluhan tahun yang lalu.”

“Jadi kau pemilik kebun apel ini?”

“Bisa dibilang begitu, ayah ku yang mengurus kebun ini. Walau sebenarnya tanpa diuruspun, perkebunan ini akan terus terjaga.”

“Kenapa kau tak bergegas memanggil ayahmu untuk menolongku? Aku mulai kedinginan di bawah sini. Air sumur ini terasa hangat pada siang hari, dan terasa dingin pada malam hari.”

“Aku punya selendang, kainnya agak tebal, mungkin itu bisa menghangatkanmu di bawah sana.”

“Jika kau melepas selendang merah jambu itu sekarang, maka kau akan kedinginan.”

Ella menjatuhkan selendang merah jambunya. “Kau lebih membutuhkannya dibanding diriku. Siapa namamu?”

“Kau benar-benar baik, Ella. Aku akan mengembalikan selendang ini jika aku naik ke atas. Apa di atas sana ada tali? Mungkin itu bisa membantuku.”

“Tali? Ada. Kau lihat timbah yang ku jatuhkan tadi. Di situ ada tali kecil yang terikat.”

Orang di bawah ini terdiam, lama.

“Kau masih di bawah sana?” Tanya Ella, terus menatap ke dalam sumur. Berusaha mencari asal suara itu.

“Aku masih di sini. Sebaiknya kau pulang ke rumah Ella. Mungkin keluargamu mencarimu.”

“Sedangkan kau sendiri yang terjebak di sini, apa tidak ada yang mencarimu?”

“Mungkin tidak. Aku tidak punya siapa-apa yang akan mencariku ketika aku pergi. Aku tidak punya siapa-sisapa yang akan mempertanyakan keberadaanku.”

“Ke mana keluargamu?”

“Mereka semua terbunuh dalam perang keji.”

“Maaf. Aku tak bermaksud membuatmu sedih.”

“Sudahlah.  Aku sudah terbiasa dengan itu. Apa kau melihat pedangku di atas sana?”

“Pedang?  Tidak. Tidak ada apa-apa di sini selain diriku dan dirimu. Apa yang kau pikirkan?”

“Ku harap kau kembali ke rumah mu sekarang. Hari semakin gelap. Jangan sampai kau disergap hewan buas.”

“Tenanglah. Di sini dareah aman,” Ella berkata santai.

“Kau yakin? Semalam aku bertarung dengan sekelompok perompak dan beberapa harimau di kebun mu. Aku meletakkan pedangku di dekat sumur ketika tanganku terluka..”

“Tadi kau bilang punya pedang. Apa kau prajurit kerajaan?”

“Bukan. Aku tidak sehebat itu untuk bisa bergabung dengan prajurit kerajaan. Kenapa kau tetap bersamaku?”

“Aku merasa nyaman di atas sini, berbicara dengan sosok misterius yang terjebak dalam sumur milik keluargaku,” Ella tersenyum.

“Terserah apa yang kau inginkan. Aku hanya ingin keluar dari sini sekarang. Ayolah bantu aku.”

“Aku punya  ide untuk mengeluarkanmu.” Ella sangat antusias.

“Apa itu?”

“Aku bisa turun ke bawah sana, kita akan bekerja sama untuk keluar. Kita memanjat dinding sumur ini bersamaan dengan saling bertolak belakang. Kau tau? Itu akan menyenangkan.”

“Kau gila. Apa kau mau mati?”

“Tidak. Memanjat sumur bersama temanmu tidak akan membunuh siapapun. Percayalah!”

“Entalah. Aku ragu dengan ide itu.”

Ella melepas sepatu mungilnya, berdiri di pembatas sumur dan melompat ke bawah.  Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di bawah. Ella langsung tercebur, ia hampir tenggelam. Untung saja sosok misterius itu berhasil menyelamatkan Ella.

“Kau benar-benar gila. Apa kau baik-baik saja?” Tanya sosok misterius, cemas.

“Ini menyenangkan!” Ella bersemangat.

“Kau gila! Apa kau juga ingin terjebak di sini?”

“Tenang saja. Kita akan keluar sebentar lagi. Beri aku waktu untuk bersitirahat. Ternyata melompat ke bawah sini dan tercebur membuat tubuhku kelelahan.”

“Aku harap kau tidak salah dengan ide gilamu ini, Ella.”

Setelah lama berpegangan pada lengan sosok misterius itu, Ella kemudian membuka matanya.

“Apa kau sudah siap?” Tanya Ella.

Orang misterius itu hanya menganggup, tanda siap.  Kemudian Ella dan sosok misterius itu berenang ke tengah dan saling membelakangi. Punggung mereka rapat, lalu kaki mereka masing-masing merapat ke dinding untuk memanjat.

“Pegang erat-erat tanganku, aku takut tercebur lagi. Aku tadi cuma beruntung tidak mati tenggelam.”

Sosok misterius itu tertawa, “Kau lucu sekali Ella. Kau berani melompat dari atas sana tapi kau takut tenggelam.” Mereka dengan perlahan menaiki dinding sumur itu.

“Entahlah. Tadi itu menyenangkan!”

Beberapa menit berlalu dan mereka terus memanjat. Mereka telah sampai di pertengahan. Mereka berhenti.

“Kau benar, ini berhasil sejauh ini,” kata sosok misterius itu.

“Jangan berhenti. Kita bisa semalaman di sini jika tidak segera keluar.”

“Baiklah,” Mereka kembali menaiki dinding sumur tua itu setapak demi setapak.

Setelah lima menit lebih berusaha, akhirnya mereka berhasil keluar. Baju dan rambut Ella, semuanya basah.

“Terima kasih kau telah menyelamatkan ku. Itu gaun yang indah, Ella. Aku suka warnanya, merah jambu.”

“Kau suka merah jambu? Aku juga menyukainya,” Ella mengulurkan tangannya ke pemuda itu.

“Sebelum aku menyalamimu, sepertinya aku harus mengembalikan ini,” sosok misterius itu mengembalikan selendang merah jambu milik Ella.

Sosok misterius itu lalu menyalami tangan Ella dan saat tangannya menyentuh jemari Ella. Tiba-tiba pemuda itu menghilang. Dan Ella baru menyadari, cincin berlian pemberian ayahnya telah kembali. Cincin itu terlihat nyaman di jemari Ella.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin tulisan kecil yang muncul bersamaan dengan waktu sosok misterius itu menghilang bisa menjelaskannya.

Ella membacanya :

“Aku adalah perwujudan dari cincin berlian pemberian ayahmu. Aku ditugaskan untuk melindungimu. Setiap malam aku berkelana di hutan apel ini. Aku melawan perompak dan hewan buas di sekitar sini. Ini semua agar kau merasa aman. Dan aku senang itu berhasil.

“Ku sempatkan juga menyiram pohon apel ketika dirimu terpulas dalam mimpi indah. Menjelang pagi, aku kembali menjadi cincin di meja dekat kasurmu. Aku merasa nyaman di jemarimu. Aku harap kau tidak melepas cincin itu dari jemarimu.

“Mungkin kau tidak melihatku. Tapi percayalah, aku selalu ada di dekatmu. Aku ada di jemarimu yang indah, Ella.”

Suatu hal mistis terjadi hari ini, Ella tersenyum. “Tapi kau belum menyebutkan namamu, penjagaku.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s