Selembar Kertas

“Apa yang paling kau takutkan?”

“Aku takut suatu saat aku akan dewasa dan aku melupakanmu. Maksudku, aku takut akan melupakan semua ini dengan kesibukan baruku nanti.” Hening yang panjang menghampiri percakapan mereka.

Di sebuah perbukitan dekat sekolah. Sekitar 2 kilometer sebelah barat. Tempat yang indah menatap senja, bersamanya.

“Apa yang kau takutkan, Rehan?” Anti menatap Rehan, dalam.

“Aku? Aku takut suatu saat akan merindukan senja.”

Anti tertawa. “Senja akan selalu ada di penghujung harimu. Kau bisa menatapnya, seperti saat ini.”

“Entahlah,” Rehan menarik napas panjang. “Aku takut merindukan senja ini, Senja ini berbeda dengan senja yang lain. Kau tau kenapa?”

“Kenapa?”

“Karena senja ini adalah saksi kau ada di sisiku.” Rehan menatap mata Anti, Rehan perlahan tersenyum. “Apa kau yakin akan kuliah di sana?”

“Iya. Aku lulus di sana, dan aku harus ke sana. Mungkin untuk waktu yang lama. Aku juga akan merindukan senja ini. Sangat.”

“Helii. Lihat di sana!” Rehan menunjuk langit berwarna jingga. “Sepasang merpati terbang saat senja. Baru kali ini aku merpati. Ternyata lebih menyenangkan menatapnya langsung daripada mengamatinya dalam buku biologiku.”

Anti tertawa. “Tentu saja. Aku pun begitu, lebih menyenangkan menatapmu langusng dibanding menatap fotomu. Karena kau hidup, dan fotomu hanya rekaman sedetik dalam hidupmu yang tidak kembali.”

“Aku punya ide,” cetus Rehan.

“Apa?”

“Kau tadi bilang, foto hanyalah sebuah detik dalam hidup yang tidak kembali. Bagaimana kalau kita abadikan senja ini? Biar nanti ketika kau sesibuk apapun, kau akan ingat hari ini pernah ada.”

“Ide yang cemerlang. Tapi….” Anti tertunduk lesu.

Rehan menatap tajam Anti. “Tapi apa? Apa ada yang salah?”

“Tidak. Idemu sempurna. Hanya saja kita tidak punya kamera, iya kan?”

Llagi-lagi hening mengisi kekosongan diantara Rehan dan Anti.

Anti mengambil kertas dalam sakunya. “Aku hanya punya ini sekarang. Di sakumu ada apa?”

“Ada ini,” Rehan mengeluarkan pena. “Entah kenapa aku membawa ini dalam sakuku. Mungkin ini sudah ditakdirkan. Baiklah. Mari kita abadikan sedetik ini dalam goresan pena. Tuliskan apa yang ingin kau tulis, Anti. Kau penulis pertama, lalu aku yang melengkapinya.”

Anti mengambil pena, terdiam sejenak lalu menulis beberapa kata di kertas. Anti menulis empat baris. “Aku sudah selesai,” Anti memberikan penanya.

“Sekarang giliranku. Tapi kenapa kau menutupi menggulung sebagian kertas itu dan menutupi tulisanmu?”

“Sebelum kau menulis, aku ingin membuat kesepakatan.”

“Apa?”

“Berjanji untuk tidak membaca tulisanku, hingga aku tiba di sana dengan selamat. Janji?”

Rehan menatap Anti. “Yang artinya kau juga membaca tulisanku hingga kau tiba di sana. Deal?”

“Baiklah. Aku mempercayaimu. Sekarang tulisanlah.”

Rehan mulai menggoreskan penannya. Anti tersenyum melihat tatapn Rehan yang ‘terlalu’ serius dalam menulis. Ada senyum manis di bibir mungilnya.

“Sudah selesai. Kau tau, aku tidak pandai dalam merangkai kata, aku hanya mendengar suara dari hatiku, dan menuliskannya. Maafkan aku bila isinya tidak semenarik yang lain.”

“Tak apa. Orang bilang, ‘tulisan terbaik itu adalah asalnya dari dalam hati’. Apa yang kau tulis hingga ekspresimu se-serius itu?”

Rehan tertawa. “Nanti kau juga akan tau.” Rehan melipat kertas itu, lalu merobeknya. Membaginya menjadi dua bagian.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Anti.

“Membaginya menjadi dua. Ada yang salah?”

“Kenapa harus dibagi?”

“Karena kita hanya punya selembar kertas. Aku akan menyimpan tulisanmu tadi. Dan kau menyimpan tulisanku. Setuju?”

“Baiklah. Aku rasa itu adil. Dan semoga kita akan ingat hari ini” Anti mengambil kertas yang berisi tulisan tangan Rehan.

“Kau sahabat terbaikku,” Anti mengalurkan tangannya.

Rehan menyalaminya. “Tanpa kau bilang pun, aku tau itu. Kita sudah berteman sejak TK, sekelas sewaktu SD, dan sebangku sewaktu SMA.”

Anti tersenyum. “Kau benar. Aku rasa kisah ini harus berakhir. Lulus SMA adalah ending yang manis. Iyakan?’

“Kau salah. Kisah kita tidak berhenti di sini. Hanya saja kau akan menulis babmu sendiri. Aku juga akan menulis babku sendiri. Dan kita akan disatukan dalam satu bab yang sama, mungkin setelah 4 tahun berlalu. Tapi entahlah. Aku kurang yakin dengan hal itu. Mungkin saja setelah ini, kau berada dalam buku yang berbeda, tidak lagi dalam judul yang sama denganku. Aku akan merindukanmu, Anti.”

“Aku juga akan merindunkanmu, Rehan.” Anti beranjak dari tempatnya, berjalan menuruni bukit. “Setelah aku sarjana, aku akan kembali ke tanah ini. Secapatnya. Aku janji!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s