Hujan

Datang ke cafe ber-wifi gratis. Tak sengaja ketemu teman, cewek, manis, sudah dua tahun tak berjumpa.

Namanya Linda, Linda Septiani. Kami salaman dan aku senyum untuknya. Dia belas dengan senyum manis di bibir, lengkap dengan lesung pipinya. Dia tomboy, tapi tetap punya sisi feminim. Senyumnya, masih sama seperti dulu, selalu membuat hati bergetar. Semacam ada perasaan untuknya.

Tapi…. Lupakan!! Aku tak bisa mengutarakannya.

“Duduk mkow di sini!” ajaknya.

Aku diajak satu meja, ya, aku iyakan saja. Menarik kursi dan duduk tepat di depannya. Kami berdua, duduk di meja yang sama, saling berhadapan, di sebuah cafe yang suasananya syahdu. Hujan yang mengguyur di luar melengkapi senja ini.

“Biasa ko ke sini, Mam?”

“Pertama kali. Biasa ka’ ke Cafe Doktoralal. Karena hujan, makanya berteduh di sini dan takdir mempertemukan kita. Iyakan?”

Dia tertawa, “Hujannya lucu.”

Aku bingung mau bilang apa lagi. Seakan kehabisan kata-kata. Karena ia tidak melanjutkan kalimatku yang tadi. Aku hanya mengacak-ngacak rambutku yang basah terguyur hujan.

“Apa kau bikin di sini?” tanyaku.

“Menunggu.”

“Ini ada maka’, siapa lagi kau tunggu?”

Dia tertawa lagi, “Temanku, dia bilang dekatmi dari sini.”

Lama, ada hening di antara kami. Di saat-saat seperti ini, benih-benih perasaan tumbuh lagi!!. Aku harus bisa meredamnya. Aku kan terbiasa memendam perasaan. Hanya saja, aku seakan memasuki sebuah ruang yang dulu pernah ku singgahi. Aku pernah menetap di dalamnya, nyaman.

Kenangan tentangnya datang menghampiriku. Memaksa bibirku terrsenyum saat mataku menatap matanya. Hening ini membuat napas jadi sesak. Namun aku senang dengan keheningan ini, karena ada dia di hadapanku.

Tak lama, temannya datang. Cewek, dengan kemeja lengan panjang putih dan rok putih. Dia datang menghampiri Linda, menyapa Linda dan juga menyapaku.

“Imam…” katanya, menyapaku.

Aku tak tau dia siapa. Seingatku, ini pertama kali aku bertemu dengannya. Wajahnya memang tampak tak asing. Hanya saja aku tak ingat. Ku balas saja, “Iyaa… Kehujanan?”

“Tidak. Sama ka’ temanku naik mobil.”

“Cowok?”

“Iya,” dia senyum.

“Kalah telak memang cowok yang naik motor pas musim hujan.”

Linda dan temannya tertawa. Setelah bicara sejenak, mereka lalu pamit.

“Duluan na, Imam.”

“Eehh… Tunggu dulu!” suaraku menghentikan langkahnya. Aku beranjak dari kursiku, berjalan ke sisinya. “Apa ID linemu?” bisikku.

One thought on “Hujan

  1. Aulun berkata:

    Ceritanya bagus, menarik, enak dibaca, tp knpa ceritanya selalu nge”gantung” yah mam ? Tingkatkan terus yah mam nulisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s